feby's posts with tag: sharing

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntrySusu SolehaJun 5, '08 8:51 AM
for everyone

Pertama kali mendengar Hi-Lo memiliki lini produk Hi-Lo Soleha, saya tidak habis pikir.
Memang apa bedanya antara susu soleha dan yang tidak soleha?Lalu apa hubungannya antara minum susu dan menjadi soleha?

"Kalau Hi-Lo Soleha minumnya pake Bismillah kali," begitu canda seorang teman.

Saya pun penasaran mencari Hi-Lo Soleha di supermarket. Ingin mengecek kandungan susunya. Kemasan Hi-Lo Soleha memasang model perempuan berjilbab (Ya iyalah!). Dan ini dia alasan 'bernuansa' medisnya : susu ini diformulasikan khusus untuk perempuan berbusana muslim agar memenuhi kebutuhan vitamin D. Berdasarkan penelitian tubuh perempuan berbusana muslim ini kekurangan vitamin D karena kurang terpapar sinar matahari.

Ternyata ada lagi tambahannya. Pada iklan produknya disebutkan bahwa Rp 500 dari setiap pembelian satu dus susu itu akan diinfakkan secara syariah. Hmm...

Yah, namanya saja jualan. Hi-Lo sebagaimana Sunsilk ingin menyasar segmen yang spesifik dan memang cukup gemuk di Indonesia. Tapi mau nggak mau saya jadi bertanya-tanya benarkah penelitian ini sahih?Bukankah sumber vitamin D juga tak hanya dari sinar matahari--> jadi gak ada kaitannya dengan tertutupnya pakaian juga dong. Atau benarkah yang soleha cuma yang berjilbab saja ?Kalau Hi-Lo memang mau melakukan aspek sosial dalam penjualan produk bukannya si Solihun juga harusnya ditawarkan hal yang sama ya?

Anyway, saya sih akhirnya memilih Anlene rasa coklat (huauauua iklan deh). Pertama karena susunya lebih kental dan tidak terlalu banyak gula. Kedua, karena saya memang lebih senang dianggap tidak soleha .

Ps : keheranan sejenis terhadap Hi-Lo Soleha saya temukan juga di blog rekan MP-ers  http://linasitorus.multiply.com/journal/item/41/SUSU_SOLEHA_aneh_....


Blog EntryRESOLUSI 2008? Hmm..Jan 5, '08 4:56 AM
for everyone

Kata yang masih 'hip' sejak jelang pergantian tahun sampai awal-awal tahun begini : RESOLUSI. Mereka yang pesimis akan mencibir dalam hatinya, ah resolusi dibuat untuk dilanggar. Mereka yang optimis tetap keukeh membuat resolusi, meskipun belum lagi memasuki bulan kedua seringnya mereka mulai lupa dengan janji-janji yang ingin ditaati.

Jadi, masihkah ada gunanya membuat resolusi?

Karena saya adalah orang yang berada di antara ruang-ruang itu, optimis dan pesimis, dan kebetulan saya lumayan keras kepala (menurut orang-orang dan mantan-mantan :p) maka saya berkesimpulan : MASIH. Hanya saja, kita tidak bisa mengharapkan hasil yang berbeda selama kita mengerjakannya dengan cara yang sama.

Maka, berani menelisik akar kegagalan, jujur mengakui keberhasilan sekecil apapun, dan lakukan dengan cara yang berbeda--yang lebih baik tentunya.

Akhir itu belum tiba, Kawan. Dan mengenang hanya untuk orang lanjut usia.

Jadi, apa resolusimu tahun ini?

resolusi saya, sederhana : Belajar pasrah dan bersyukur.

ps: sebab kepasrahan kepada Tuhan adalah satu-satunya sumber kekuatan bagi saya hari ini.

 

 

 


Blog EntrySalam Lebaran untuk Karung BerasOct 15, '07 3:04 AM
for everyone

Masih lekat dalam ingatan saya, aroma lem yang mengeras di ujung telunjuk sehabis menempelkan perangko untuk setumpuk kartu. Ritual masa lalu yang kini semakin jarang dilakoni orang. Paling-paling berkirim kartu kini dilakukan untuk kepentingan korporasi.

Lebaran kini, kita memang tak lagi mengenal kartu lebaran. Orang merasa lebih praktis mengirim ucapannya via short message service/SMS. Paling banter mengirim email. Kedua hal itu memang murah dan cepat. Selain itu, nah ini dia perbedaan yang juga signifikan : kita bisa mengirimkan satu pesan kepada puluhan orang sekaligus. Bandingkan dengan kartu lebaran yang, meski  tak ingin menuliskan pesan di dalamnya pun minimal harus tetap kita tulis nama dan alamatnya dong. Tentu saja, kalau kita mau surat itu tak berakhir di tong sampah kantor pos.

Tapi di situlah soalnya. Dengan pertolongan teknologi, tiba-tiba kita menjadi impersonal. Kita tinggal memilih menu 'send to many' di ponsel, dan tersebarlah pesan itu. Hal yang sama juga menghampiri inbox ponsel dan email kita. Puluhan bahkan ratusan ucapan  berisi permohonan maaf, salam selamat yang terangkai dalam untaian kalimat yang semua indah. Mungkin hanya satu hal yang terlupa, dimanakah nama kita?

Begitulah yang terjadi. Kita mengirim doa-doa indah tanpa nama yang kita tuju. Orang yang kita kirim membalas pula dengan cara yang sama, kalimat-kalimat bijak, juga tanpa nama yang dituju. Kita berkomunikasi tanpa sungguh-sungguh jelas, siapa komunikannya.

Itu pun menjawab keluhan banyak orang. Bahwa ucapan 'mohon maaf lahir batin' yang diutarakan saat lebaran (atau jelang puasa) memang tak lebih dari kebiasaan belaka. Sesuatu yang keluar dari bibir, tanpa betul-betul kita cerna di hati dan kepala. Lagipula, minta maaf kepada siapa, wong nama penerimanya juga tidak ada.

Memang ada alasan bagi semua itu. Please dong, harus mengucapkan khusus pada seluruh nama di inbox kita, bisa habis semua waktu. Buat apa ada teknologi kalau begitu caranya? Ini kan jaman efisiensi, Mbak! Hm, tapi mungkin kita lupa, dalam berhubungan dengan manusia kita tidak bisa menerapkan 'efisiensi'. Kenapa? Sebab setiap relasi itu khusus. Tidak ada relasi antar manusia yang sama persis di dunia ini. Hubungan A dan B, tidak akan sama dengan relasi A dan C atau relasi C dan B. Meskipun tidak selalu istimewa, percayalah setiap relasi itu unik. Dan karenanya kumpulan nama pada inbox kita itu bukan sekilo sayuran atau satu ton beras, yang bisa diperlakukan dengan satu cara saja.

Jadi, jika kita mau menerapkan efisiensi dengan mengirim pesan tanpa nama penerima, apa bedanya dengan mengucapkanya pada karung beras?

Selamat lebaran, Karung Beras!


Blog EntryMenjadi Teman 'Baik' atau 'Tepat'? Oct 11, '07 5:02 AM
for everyone

Saya tahu, saya tak selalu berhasil menjadi teman yang baik. Apalagi teman yang tepat.

Di mata orang-orang, pasti ada saja saat di mana saya terkesan sok pintar, menggurui, sok paling paham soal hidup dan ekspresi-ekspresi serupa itu.   Bagi yang pernah sial mendapati tanggapan sok bijak dari saya dan kini membaca tulisan ini, kebetulan! Saya berniat untuk minta maaf (dan ini bukan colongan dari momentum lebaran). Maafkan saya, atas semua sikap sok tahu atau arogansi saya. Sebetulnya, saya hanya berniat menjadi teman yang baik. Saya kerap lupa bahwa sikap yang baik ternyata tak selamanya, tepat.

Saat ini,  saya akhirnya tahu seperti apakah baik dan tepat itu. Misalnya, baikkah menanyakan 'apa kabar'? Tentu saja, apa soalnya? Tapi, bagaimana kalau kita menanyakan 'apa kabar' kepada orang yang rumahnya baru sejam yang lalu habis dilanda api? Ada dua pilihan, kita ini buta atau bodoh. Sungguh sangat tak tepat kan?

Begitulah kira-kira perbedaan antara 'baik' dan 'tepat' . Sulit memang menjadi manusia, kita berusaha berbuat baik pun ternyata belum cukup. Sesuatu yang baik, tapi ditempatkan pada proporsi keliru bisa jadi malah menimbulkan gesekan. Apalagi jika menyentuh hati yang sedang rawan. Aih.

Bicara tentang hati yang rawan, nah ini memang repot. Namanya saja rawan, akan banyak area-area peka yang tidak boleh disentuh. Menemani orang yang sedang berada dalam kondisi ini, sudah bisa dibayangkan lebih rumit. Seperti berjalan di tempat yang banyak ranjaunya. Geser kiri, lubang. Minggir kanan, bom!

Itulah sulitnya menjadi teman bagi saya akhir-akhir ini. Duh, kasihan sekali mereka. Saya ini sungguh tak tahu diuntung. Orang-orang sebenarnya sudah berusaha begitu baik sebagai teman . Banyak dari mereka tidak tahan melihat saya, yang biasanya kelihatan cerdas, kuat, malah cenderung satir dengan kemampuan menertawakan hidup yang lumayan, tiba-tiba jadi bodoh, pemurung, cengeng dan kehilangan daya humor.

Berbagai macam cara orang menghadapi perilaku saya yang sedang aneh ini. Rata-rata orang 'mendesak' saya untuk mengetahui apa yang saya inginkan. Ada juga seorang sahabat yang dengan keras memaksa saya untuk berhenti sekarang juga (!) dan 'bangun'. Teman yang lain  menganjurkan saya nonton Hotel Rwanda, dan memastikan saya akan mensyukuri apapun juga setelah melihat film itu. Ada yang sempat mengatakan dengan sedih, "Love, look what you have done to my friend?".

Dalam keadaan sensitif, saya sering mudah tersinggung. Saya bukannya tidak bersyukur! Saya hanya sedang sakit! Saya bersyukur dan saya sakit, bukankah itu berbeda? Menonton Hotel Rwanda? Please, saya tahu film itu begitu sedih dan saya tidak butuh paket duka lainnya. Saya harus tahu apa yang saya mau sekarang? Saya bahkan sudah terlalu sakit untuk berpikir! Dan kalimat 'look what love has done to me' itu membuat saya mirip penderita HIV yang terus menerus dipaksa becermin. I know that I have that virus! So what?

Bagaimanapun, itu semua tanda cinta dari rekan-rekan saya, yang tentu saja sangat saya hargai. Andai saya dalam keadaan normal, apalagi.

Nyatanya, saya tak berada dalam kondisi yang normal. Jauh dari itu. Saya marah, sedih, kecewa, jengkel, sakit. Saya merasa berkeping-keping. Orang lain boleh saja menganggap remeh apa yang kita alami. Tapi perasaan selalu valid. Maka jika itu yang kita rasakan, tak seorang pun sebetulnya berhak untuk meremehkannya. Mereka bukan kita, tidak pernah menjadi kita dan tidak merasakan apa yang kita alami! So just tell them right in front of their faces, will u shut up?

Untungnya, teman-teman saya selalu baik (sehingga saya tak perlu berteriak ke muka siapapun). Saya tahu, mereka tidak pernah bermaksud meremehkan luka-luka saya. Mereka hanya gusar karena saya berlarat-larat dalam 'sakit'  . Orang-orang dekat ini mungkin juga kecewa, karena perilaku kekinian saya mencederai konsep mereka tentang saya. Mereka gemas melihat saya terbenam, lalu makin tenggelam.

Yang kadang mungkin mereka lupa adalah, saya berlipat kali lebih marah pada diri saya sendiri dibandingkan mereka. Saya gusar kecewa, geram dengan kenyataan bahwa ternyata saya sedang 'sakit'. Bayangkan saja, orang yang suka sok pintar dan sok bijak seperti saya tiba-tiba harus terpuruk sedemikian rupa. Orang-orang saja stress melihat saya, apalagi saya yang mengalami?

Semakin orang mengatakan "hei kamu sedang tenggelam!" maka kian tertekanlah saya. Situasi  ini malah menjadi rantai yang sulit diputuskan. Saya sedang hancur; orang-orang panik melihat keadaan saya; saya jadi merasa bersalah kenapa saya tidak kunjung sembuh; saya makin sakit lagi ; orang-orang pun kemudian semakin panik atau lantas beralih jadi 'marah' pada saya. Begitulah.

Ada saatnya, kita memang tidak perlu melakukan apapun, selain belajar memahami.  Alih-alih menjadi teman yang baik, mungkin kita perlu menjadi teman yang tepat. Si penderita mungkin tidak perlu nasehat. Ia tidak perlu mengetahui apa yang dia inginkan, saat itu juga. Ia hanya butuh waktu, dan teman yang tepat. Dan untuk menjadi teman yang tepat, kita mungkin perlu menjadikan diri kita lebih sabar, mendengarkan, memahami bahwa sang teman tidak akan sebegitu hancurnya kalau memang tak sedemikian berat baginya. Mungkin kita belum pernah mengalami, tapi setidaknya kita memahami bahwa hal itu bisa terjadi pada orang lain. Bukankah itu yang dinamakan empati?

Sakitnya, pasti tetap si penderita sendiri yang menanggung. Dan percayalah, semua itu saja sudah cukup sulit! Tapi setidaknya dengan teman yang tepat, situasi sekelilingnya akan lebih kondusif untuk lebih cepat sembuh.

Jadi, lain kali saya mulai menyebalkan atau bersikap sebagai teman 'baik' di luar proporsi yang tepat, tolong ingatkan saya ya ... :)

 


Blog EntryTabuh Sahur (terakhir)Oct 11, '07 1:41 AM
for everyone

Ketika suara tabuh itu mulai bergema dari kejauhan, saya langsung bersiaga menunggu di depan jendela. Jam menunjukkan pukul 2, dan rombongan yang rutin itu selalu tepat waktu. Selama 28 hari terakhir, saya terlalu lelap tidur ataupun terlalu malas bergerak. Tapi ini sahur terakhir, dan saya harus menuntaskan  penasaran.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya rombongan itu pun melintasi rumah saya. Sekitar 8-10 anak lelaki, usia mereka paling baru 10-12 tahun (ini dugaan saya melihat ukuran tinggi badan yang tak sepesat remaja SMP). Ow, jadi mereka inilah 'aktor-aktor' yang sudah meramaikan dini hari di lingkungan kami. Meramaikan, sebetulnya kata yang terlalu halus bagi mereka. Yang mereka lakukan tepatnya adalah menabuh gendang atau bedug (atau apapun yang mirip itu) sekeras-kerasnya sampai membuat kaca-kaca jendela rumah bergetar, juga gendang telinga penghuninya. Masih merasa kurang meriah, mereka tak lupa melemparkan petasan di sepanjang jalan.

Saya menatap kaki-kaki kecil yang bergerak cepat menembus gelap itu dengan perasaan masygul. Apakah yang mereka pelajari tentang puasa, tentang ramadhan, atau tentang agama itu sendiri? Mereka melakukannya sebagai bagian dari tradisi khas masyarakat setempat. Saya mengasumsikan, mobilitas anak-anak ini tak mungkin tak diketahui oleh pihak keluarga maupun mesjid setempat. Malah bisa jadi, mereka memang mendapat encouragement. Anak-anak itu tidak bergerak begitu saja. Mereka lahir sebagai produk keluarga, lingkungan, dan katakanlah pemahaman agama pihak-pihak tersebut.

Bisa jadi mereka lupa.  Ada pemeluk agama lain yang tak berpuasa, yang mungkin harus terusik tidur lelapnya. Dari cara mereka membangunkan pun jelas tak terlalu ramah bagi pengidap penyakit jantung, apapun agamanya. Bahkan bagi yang relatif sehat seperti saya pun, dentum-dentum bedug  itu kerap membuat terbangun dengan kondisi tak nyaman. Biasanya, juga diikuti detak jantung lebih cepat karena kaget.

Sebagai muslim sejak lahir, saya jadi mereka-reka. Jika begitu caranya, apa pula yang pemeluk agama lain nilai dari agama saya? Bukankah Islam katanya, merupakan rahmat bagi sekalian alam? Saya jadi ragu, jangan-jangan golongan saya sebagai mayoritas ini lalai menoleransi lingkungan dan malah memberikan tingkat radiasi yang tinggi. Jangan-jangan kami ini hanya 'bermimpi' menjadi rahmat bagi orang lain. Lalu ketika bangun dengan wajah kusut masai dan sisa ludah yang mengumpul di tepi bibir, kami meminta orang-orang mengatakan kami cantik. Saat orang-orang menggeleng, kami marah dan bersikukuh kalau kami ini cantik.

Saat tetabuhan itu berlalu, saya masih tercenung di tepi jendela. Apakah saat besar nanti, rombongan bergendang itu akan menjelma oknum yang  suka membuat kerusakan atas nama penegakan syariat--yang kita liat saat-saat ini?

Ah, jangan sampai !

 

 


Blog EntryIt's Sharing Time !Oct 10, '07 2:54 PM
for everyone

Sungguh. Saya tidak pernah bercita-cita membuat blog ini untuk curhat. Tadinya blog ini hanya diperuntukkan bagi buah pikiran saya, semacam ide atau gagasan yang dituturkan secara sistematis, dan  sekiranya masih ada manfaatnya untuk dibaca orang lain.

Tapi persoalannya, akhir-akhir ini saya sedang melulu sentimentil. Dan orang yang sentimentil cenderung sulit menulis hal-hal yang bermanfaat untuk orang lain, barangkali? Apalagi saya tak hanya sedang sentimentil, saya juga mudah 'piss off' akhir-akhir ini. duh!boro-boro mau menulis sesuatu yang mencerahkan orang ?

Padahal saya terlanjur dituding orang-orang sebagai 'penulis'. Lalu apa jadinya seorang penulis yang tidak pernah menulis?

Pertanyaan bodoh! Tentu saja artinya dia bukan penulis lagi. Nah kan, artinya saya mesti berusaha menulis, meskipun itu hanyalah curhat colongan yang sistematis strukturnya.

Anyway, karena saya penulis saya selalu punya cara untuk mengemas curhat colongan saya supaya tidak norak. And well, saya akan mengatakan bahwa saya sedang sharing dengan semua orang, mana tahu ada yang bisa diambil dari proses hidup saya. Yah ini semacam kolom pribadi yang menjadi ruang berbagi.(well, ungkapan yang jauh lebih berkelas kan, daripada sekedar curhat  apalagi curhat colongan).

So, anyway.. welcome. It's sharing time..


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help