Saya tahu, saya tak selalu berhasil menjadi teman yang baik. Apalagi teman yang tepat.
Di mata orang-orang, pasti ada saja saat di mana saya terkesan sok pintar, menggurui, sok paling paham soal hidup dan ekspresi-ekspresi serupa itu. Bagi yang pernah sial mendapati tanggapan sok bijak dari saya dan kini membaca tulisan ini, kebetulan! Saya berniat untuk minta maaf (dan ini bukan colongan dari momentum lebaran). Maafkan saya, atas semua sikap sok tahu atau arogansi saya. Sebetulnya, saya hanya berniat menjadi teman yang baik. Saya kerap lupa bahwa sikap yang baik ternyata tak selamanya, tepat.
Saat ini, saya akhirnya tahu seperti apakah baik dan tepat itu. Misalnya, baikkah menanyakan 'apa kabar'? Tentu saja, apa soalnya? Tapi, bagaimana kalau kita menanyakan 'apa kabar' kepada orang yang rumahnya baru sejam yang lalu habis dilanda api? Ada dua pilihan, kita ini buta atau bodoh. Sungguh sangat tak tepat kan?
Begitulah kira-kira perbedaan antara 'baik' dan 'tepat' . Sulit memang menjadi manusia, kita berusaha berbuat baik pun ternyata belum cukup. Sesuatu yang baik, tapi ditempatkan pada proporsi keliru bisa jadi malah menimbulkan gesekan. Apalagi jika menyentuh hati yang sedang rawan. Aih.
Bicara tentang hati yang rawan, nah ini memang repot. Namanya saja rawan, akan banyak area-area peka yang tidak boleh disentuh. Menemani orang yang sedang berada dalam kondisi ini, sudah bisa dibayangkan lebih rumit. Seperti berjalan di tempat yang banyak ranjaunya. Geser kiri, lubang. Minggir kanan, bom!
Itulah sulitnya menjadi teman bagi saya akhir-akhir ini. Duh, kasihan sekali mereka. Saya ini sungguh tak tahu diuntung. Orang-orang sebenarnya sudah berusaha begitu baik sebagai teman . Banyak dari mereka tidak tahan melihat saya, yang biasanya kelihatan cerdas, kuat, malah cenderung satir dengan kemampuan menertawakan hidup yang lumayan, tiba-tiba jadi bodoh, pemurung, cengeng dan kehilangan daya humor.
Berbagai macam cara orang menghadapi perilaku saya yang sedang aneh ini. Rata-rata orang 'mendesak' saya untuk mengetahui apa yang saya inginkan. Ada juga seorang sahabat yang dengan keras memaksa saya untuk berhenti sekarang juga (!) dan 'bangun'. Teman yang lain menganjurkan saya nonton Hotel Rwanda, dan memastikan saya akan mensyukuri apapun juga setelah melihat film itu. Ada yang sempat mengatakan dengan sedih, "Love, look what you have done to my friend?".
Dalam keadaan sensitif, saya sering mudah tersinggung. Saya bukannya tidak bersyukur! Saya hanya sedang sakit! Saya bersyukur dan saya sakit, bukankah itu berbeda? Menonton Hotel Rwanda? Please, saya tahu film itu begitu sedih dan saya tidak butuh paket duka lainnya. Saya harus tahu apa yang saya mau sekarang? Saya bahkan sudah terlalu sakit untuk berpikir! Dan kalimat 'look what love has done to me' itu membuat saya mirip penderita HIV yang terus menerus dipaksa becermin. I know that I have that virus! So what?
Bagaimanapun, itu semua tanda cinta dari rekan-rekan saya, yang tentu saja sangat saya hargai. Andai saya dalam keadaan normal, apalagi.
Nyatanya, saya tak berada dalam kondisi yang normal. Jauh dari itu. Saya marah, sedih, kecewa, jengkel, sakit. Saya merasa berkeping-keping. Orang lain boleh saja menganggap remeh apa yang kita alami. Tapi perasaan selalu valid. Maka jika itu yang kita rasakan, tak seorang pun sebetulnya berhak untuk meremehkannya. Mereka bukan kita, tidak pernah menjadi kita dan tidak merasakan apa yang kita alami! So just tell them right in front of their faces, will u shut up?
Untungnya, teman-teman saya selalu baik (sehingga saya tak perlu berteriak ke muka siapapun). Saya tahu, mereka tidak pernah bermaksud meremehkan luka-luka saya. Mereka hanya gusar karena saya berlarat-larat dalam 'sakit' . Orang-orang dekat ini mungkin juga kecewa, karena perilaku kekinian saya mencederai konsep mereka tentang saya. Mereka gemas melihat saya terbenam, lalu makin tenggelam.
Yang kadang mungkin mereka lupa adalah, saya berlipat kali lebih marah pada diri saya sendiri dibandingkan mereka. Saya gusar kecewa, geram dengan kenyataan bahwa ternyata saya sedang 'sakit'. Bayangkan saja, orang yang suka sok pintar dan sok bijak seperti saya tiba-tiba harus terpuruk sedemikian rupa. Orang-orang saja stress melihat saya, apalagi saya yang mengalami?
Semakin orang mengatakan "hei kamu sedang tenggelam!" maka kian tertekanlah saya. Situasi ini malah menjadi rantai yang sulit diputuskan. Saya sedang hancur; orang-orang panik melihat keadaan saya; saya jadi merasa bersalah kenapa saya tidak kunjung sembuh; saya makin sakit lagi ; orang-orang pun kemudian semakin panik atau lantas beralih jadi 'marah' pada saya. Begitulah.
Ada saatnya, kita memang tidak perlu melakukan apapun, selain belajar memahami. Alih-alih menjadi teman yang baik, mungkin kita perlu menjadi teman yang tepat. Si penderita mungkin tidak perlu nasehat. Ia tidak perlu mengetahui apa yang dia inginkan, saat itu juga. Ia hanya butuh waktu, dan teman yang tepat. Dan untuk menjadi teman yang tepat, kita mungkin perlu menjadikan diri kita lebih sabar, mendengarkan, memahami bahwa sang teman tidak akan sebegitu hancurnya kalau memang tak sedemikian berat baginya. Mungkin kita belum pernah mengalami, tapi setidaknya kita memahami bahwa hal itu bisa terjadi pada orang lain. Bukankah itu yang dinamakan empati?
Sakitnya, pasti tetap si penderita sendiri yang menanggung. Dan percayalah, semua itu saja sudah cukup sulit! Tapi setidaknya dengan teman yang tepat, situasi sekelilingnya akan lebih kondusif untuk lebih cepat sembuh.
Jadi, lain kali saya mulai menyebalkan atau bersikap sebagai teman 'baik' di luar proporsi yang tepat, tolong ingatkan saya ya ... :)