feby's posts with tag: puisi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog Entrypuisi-puisi 1999-2004Jun 28, '05 1:46 AM
for everyone

 

Sepotong sajak penampar pipi pemimpi

 

Bangunlah ! (demi tuhan, bangunlah!)

dari mimpi pagi

Sibak indahnya maya pemberat pelupuk mata

Singkir debar-debar katup jantung tak berguna

Berkaca!  (demi masa,berkacalah!)

Kau tak lagi : remaja

Bukan kininya lagi

Bertingkah ala mereka yang tersihir asmara

seperti baru kenal dunia

Jemputlah, dara!

hari-hari di muka

Gunakan : Logika

Karena bukan kininya lagi, Kasih

bercinta tanpa analisa

 

20 Agustus 2004

 

 

 

Ini  jawabanku saat kau tusuk dengan sangkamu,bahwa aku pasti mudah melupakan sejarah kita

 

AMNESIA

Menatapmu yang selalu membuat luluh-luruhku. Kamulah : amnesiaku. Yang membuatku lupa pada janji untuk lupa.Membuatku lupa akan kalimat-kalimat panjang penyudahan yang kuukir sendiri(dan lupa pada airmata-derasku ketikanya).

Menatapmu. Sosokmu.Sorotmata kebocahan itu (yang ingin kurengkuh dalam-dalam dalam diam). Selalu meluruh-luluhkan aku

Kamu : amnesiaku. Bagaimana mungkin bisa lupa pada kata lupa sendiri?

Juli 2004

 

Surat Lamaran

 

Ribuan  surat lamaran adalah lembar-lembar harapan yang dijalin dengan hati-hati oleh tangan  sendiri seperti sedang merajut pakaian buat kekasih tercinta kita.

Ribuan surat lamaran menyimpan ribuan cerita dari ribuan kepala yang menyimpan ribuan cita dan ribuan hati yang memendam galau asa.

Ribuan lamaran yang teronggok di kolong meja itu adalah  ribuan tanda cinta yang terpuruk. 

Tersia-sia....

 

Sirik Alakazam mencari kerja 10 oktober 2002

 

  

Sekarung air mata buat mu

 

Ini kuhantarkan sekarung air mata kepadamu, kasih..

 

Teringatkah kau pada kapal kita yang karam itu?

Kapal yang  terajut dari ragu, cinta, harap,  gairah, kemudian ragu lagi. Kapal  kita kasihku..kapal yang pernah kita kemudikan meski kita sempat mabuk laut..

 

Kapal itu memang berlayar penuh ragu..tapi kita masih keras kepala membuatnya berjalan..entah kenapa..

rasa cinta keras kepala atau gairah keras kepala?

Aku tak lagi bisa paham bedanya..

 

Tahukah kau aku masih menyimpan puingnya?

 

Puing itu mengingatkan aku bahwa aku pernah sangat cinta berlayar, bahkan pada saat paling mabuk..atau apakah mabuk justru bagian dari saat  terbaik dalam berlayar..aku tidak tahu..yang aku tahu apapun alasannya  kita seharusnya minum antimo ketika itu..meski tetap tidak menjamin kita tak kan jadi mabuk..

 

Masih ingatkah kasih, ketika angin besar itu datang --tanpa peduli lukisan  asaku yang hampir selesai?

aku menjadi panik menyadari begitu banyak air yang sudah masuk kapal kita

aku menoleh mencari-cari, menggapai-gapai tanganmu yang membeku

kamu hanya tergugu..di sudut itu.. kau dengar pekikku pada oleng kapal..

tapi kamu terlalu lelah kasih, bukankah begitu?

kamu  cuma lelah..duh kasihan kamu..

kamu kehilangan kemampuan mengindera..bukankah begitu?

Maka kapal kita beranjak tenggelam..kasih..ketika dua orang di atasnya sibuk mencari-cari bagian dirinya yang hilang..

            Kau dengarkah orkestra memainkan musik perpisahan itu..ketika  tanganku masih keras kepala menahan ujung bajumu?

..ujung bajumu..

masih kusimpan apapun yang terserak..

 

puing itu, ujung baju itu menyadarkan aku bahwa rajutan kapal kita ternyata memang tak pernah selesai..

ia memang tak sempat siap berlayar..dan kita terlalu mabuk untuk menunggu lebih lama

kita menjadi  dua orang entah nekad entah idiot yang berlayar dengan kapal yang rajutannya tak pernah selesai..

lantas kapal kita karam, kasih..

meski masih ku simpan rapi puing itu

masih adakah  sisa puing itu pada sela gigi atau sakumu?

 

ini sekarung air mata untuk mu kasih..tasku sudah terlalu sarat beban

terserah mau kau apakan..

 

aku tidak peduli,

 

masih ada sekian karung  di sini..dan tasku sarat beban

 

maafkan aku,

 

(2 Juni 2002 )

 

 

 

Suasana

 

Denting gelas denting sendok garpu pada piring-piring penuh aneka macam masakan istimewa kelas satu katanya. Kepul asap rokok cerutu menyatu AC ruang makan hotel berbintang empat  baur gelak pahit cerita perih mulut-mulut pintar para kuli tinta berperut kenyang. Omong banyak  soal nasib rakyat lapar nasib negara kepayahan nasib bangsa reyot bobrok sumir ini.

 

(Oktober 2001)

 

 

 

Maka aku menyadarinya...

 

Lalu,

(meski samar) masih kutangkap ekspresi rapuh  kanak-kanak  itu  di matamu, mata yang sirat sarat letih itu biar kubenam  dalam-dalam dadaku kupeluk  kubelai kusayang-sayang  pedihmu..

lalu

mata kebocahanmu berontak dalam rengkuhanku,

masih  ingin kupeluk  kubelai  kusayang-sayang nyala api itu, yang ternyata tlah  membakar habis

lubang-lubang rinduku..

 

 

(oleh pertemuan itu, 10 september 2000)

 

Mari kita bunuh matahari itu, kawan..

 

Mari kita bunuh matahari itu, kawan. Sejak sinarnya tak lagi cukup mampu buat guncang  jantung sang perawan..lalu?

Sia-sia kita pertahankan hangat nafasnya  yang tak bisa bikin nyaman, tak  rangsang pertumbuhan, tak  kian berjalan..

 

Dan,

Bunuh saja matahari itu..kawan.

Tutup lubang-lubang masuk sinarnya, iris-iris lalu singkirkan.

Jenuh bukan memandang rupanya yang sama hari ke hari minggu ke minggu bulan ke bulan tahun ke tahun?

 

Maka,

Mari kita bunuh matahari itu kawan,

Buat matahari-matahari baru

Nyalakan rembulan, lentera, lampu-lampu pinggir jalan dan ruangan,

terserahlah,

nyalakan apa saja.

Apa saja, kawan. Apa saja...

 

Disini,

ada puing-puing hati beranjak dibereskan.

 

 

Satu titik di 11April 2000

After more than 2 years..

 

 

A glimpse

 

 

Tadi pagi,

Aku bertemu matahari.

Kulihat.

Sinarnya masih sama seperti dulu.

Layaknya komet ia melintasiku

meninggalkan debu di ujung

rambutku

(4 agustus 1999)  

 

Keramaian

 

 

Dalam ruang sidang...

Riuh rendah suara orang-orang pintar

mencari-cari miliknya yang hilang :

kemampuan mendengar.

                       

 

satu malam di ruang sidang Unila

Lampung, juli 1999

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help