Sepotong sajak penampar pipi pemimpi
Bangunlah ! (demi tuhan, bangunlah!)
dari mimpi pagi
Sibak indahnya maya pemberat pelupuk mata
Singkir debar-debar katup jantung tak berguna
Berkaca! (demi masa,berkacalah!)
Kau tak lagi : remaja
Bukan kininya lagi
Bertingkah ala mereka yang tersihir asmara
seperti baru kenal dunia
Jemputlah, dara!
hari-hari di muka
Gunakan : Logika
Karena bukan kininya lagi, Kasih
bercinta tanpa analisa
20 Agustus 2004
Ini jawabanku saat kau tusuk dengan sangkamu,bahwa aku pasti mudah melupakan sejarah kita
AMNESIA
Menatapmu yang selalu membuat luluh-luruhku. Kamulah : amnesiaku. Yang membuatku lupa pada janji untuk lupa.Membuatku lupa akan kalimat-kalimat panjang penyudahan yang kuukir sendiri(dan lupa pada airmata-derasku ketikanya).
Menatapmu. Sosokmu.Sorotmata kebocahan itu (yang ingin kurengkuh dalam-dalam dalam diam). Selalu meluruh-luluhkan aku
Kamu : amnesiaku. Bagaimana mungkin bisa lupa pada kata lupa sendiri?
Juli 2004
Surat Lamaran
Ribuan surat lamaran adalah lembar-lembar harapan yang dijalin dengan hati-hati oleh tangan sendiri seperti sedang merajut pakaian buat kekasih tercinta kita.
Ribuan surat lamaran menyimpan ribuan cerita dari ribuan kepala yang menyimpan ribuan cita dan ribuan hati yang memendam galau asa.
Ribuan lamaran yang teronggok di kolong meja itu adalah ribuan tanda cinta yang terpuruk.
Tersia-sia....
Sirik Alakazam mencari kerja 10 oktober 2002
Sekarung air mata buat mu
Ini kuhantarkan sekarung air mata kepadamu, kasih..
Teringatkah kau pada kapal kita yang karam itu?
Kapal yang terajut dari ragu, cinta, harap, gairah, kemudian ragu lagi. Kapal kita kasihku..kapal yang pernah kita kemudikan meski kita sempat mabuk laut..
Kapal itu memang berlayar penuh ragu..tapi kita masih keras kepala membuatnya berjalan..entah kenapa..
rasa cinta keras kepala atau gairah keras kepala?
Aku tak lagi bisa paham bedanya..
Tahukah kau aku masih menyimpan puingnya?
Puing itu mengingatkan aku bahwa aku pernah sangat cinta berlayar, bahkan pada saat paling mabuk..atau apakah mabuk justru bagian dari saat terbaik dalam berlayar..aku tidak tahu..yang aku tahu apapun alasannya kita seharusnya minum antimo ketika itu..meski tetap tidak menjamin kita tak kan jadi mabuk..
Masih ingatkah kasih, ketika angin besar itu datang --tanpa peduli lukisan asaku yang hampir selesai?
aku menjadi panik menyadari begitu banyak air yang sudah masuk kapal kita
aku menoleh mencari-cari, menggapai-gapai tanganmu yang membeku
kamu hanya tergugu..di sudut itu.. kau dengar pekikku pada oleng kapal..
tapi kamu terlalu lelah kasih, bukankah begitu?
kamu cuma lelah..duh kasihan kamu..
kamu kehilangan kemampuan mengindera..bukankah begitu?
Maka kapal kita beranjak tenggelam..kasih..ketika dua orang di atasnya sibuk mencari-cari bagian dirinya yang hilang..
Kau dengarkah orkestra memainkan musik perpisahan itu..ketika tanganku masih keras kepala menahan ujung bajumu?
..ujung bajumu..
masih kusimpan apapun yang terserak..
puing itu, ujung baju itu menyadarkan aku bahwa rajutan kapal kita ternyata memang tak pernah selesai..
ia memang tak sempat siap berlayar..dan kita terlalu mabuk untuk menunggu lebih lama
kita menjadi dua orang entah nekad entah idiot yang berlayar dengan kapal yang rajutannya tak pernah selesai..
lantas kapal kita karam, kasih..
meski masih ku simpan rapi puing itu
masih adakah sisa puing itu pada sela gigi atau sakumu?
ini sekarung air mata untuk mu kasih..tasku sudah terlalu sarat beban
terserah mau kau apakan..
aku tidak peduli,
masih ada sekian karung di sini..dan tasku sarat beban
maafkan aku,
(2 Juni 2002 )
Suasana
Denting gelas denting sendok garpu pada piring-piring penuh aneka macam masakan istimewa kelas satu katanya. Kepul asap rokok cerutu menyatu AC ruang makan hotel berbintang empat baur gelak pahit cerita perih mulut-mulut pintar para kuli tinta berperut kenyang. Omong banyak soal nasib rakyat lapar nasib negara kepayahan nasib bangsa reyot bobrok sumir ini.
(Oktober 2001)
Maka aku menyadarinya...
Lalu,
(meski samar) masih kutangkap ekspresi rapuh kanak-kanak itu di matamu, mata yang sirat sarat letih itu biar kubenam dalam-dalam dadaku kupeluk kubelai kusayang-sayang pedihmu..
lalu
mata kebocahanmu berontak dalam rengkuhanku,
masih ingin kupeluk kubelai kusayang-sayang nyala api itu, yang ternyata tlah membakar habis
lubang-lubang rinduku..
(oleh pertemuan itu, 10 september 2000)
Mari kita bunuh matahari itu, kawan..
Mari kita bunuh matahari itu, kawan. Sejak sinarnya tak lagi cukup mampu buat guncang jantung sang perawan..lalu?
Sia-sia kita pertahankan hangat nafasnya yang tak bisa bikin nyaman, tak rangsang pertumbuhan, tak kian berjalan..
Dan,
Bunuh saja matahari itu..kawan.
Tutup lubang-lubang masuk sinarnya, iris-iris lalu singkirkan.
Jenuh bukan memandang rupanya yang sama hari ke hari minggu ke minggu bulan ke bulan tahun ke tahun?
Maka,
Mari kita bunuh matahari itu kawan,
Buat matahari-matahari baru
Nyalakan rembulan, lentera, lampu-lampu pinggir jalan dan ruangan,
terserahlah,
nyalakan apa saja.
Apa saja, kawan. Apa saja...
Disini,
ada puing-puing hati beranjak dibereskan.
Satu titik di 11April 2000
After more than 2 years..
A glimpse
Tadi pagi,
Aku bertemu matahari.
Kulihat.
Sinarnya masih sama seperti dulu.
Layaknya komet ia melintasiku
meninggalkan debu di ujung
rambutku
(4 agustus 1999)
Keramaian
Dalam ruang sidang...
Riuh rendah suara orang-orang pintar
mencari-cari miliknya yang hilang :
kemampuan mendengar.
satu malam di ruang sidang Unila
Lampung, juli 1999