feby's posts with tag: prosa

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryPelajaran MerasaOct 18, '07 1:40 PM
for everyone

Seperti apakah wajah cinta ?Tanyamu berhembus untuk ke seratus dua puluh tiga kalinya. Sembari hatimu kau biarkan. Beku dalam kelu.

Itu seperti kau mencari merah dengan mata tertutup. Tunjukkan padaku, serumu. Kusayatkan jariku di atas jarimu. ‘Ini merah’. Tapi kau hanya terpejam.

Lalu bagaimana kau mengetahui rasa manis tanpa menggunakan lidahmu?Carilah pada kamus bahasa dari seluruh dunia, Carilah pada tumpukan diktat, ratusan buku berdebu di perpustakaan atau ensiklopedi dunia paling lengkap. Kujamin, tidak akan ada definisi yang dapat menjelaskan dengan tepat seperti apa rasa manis itu. Manis adalah rasa gula.

Kau akan bertanya, lalu seperti apa rasa gula yang katanya manis itu ? Aku akan menjawab serupa dengan rasa madu. Namun kemudian kau akan bertanya lagi seperti apa rasa madu yang serupa dengan gula yang katanya manis itu? Kemudian aku akan mencarikan hal-hal lain yang mempunyai rasa serupa, sampai akhirnya kehabisan kata-kata.

Kau hanya bisa mengetahui bagaimana rasa manis dengan meletakkan gula atau madu atau apapun yang orang katakan manis itu tepat di lidahmu sendiri. Ya, hanya itu caranya!

Dan bagaimana kau membaui bunga melati dengan hidung yang sengaja kau sumbat?

Bertanyalah. Pada semua tukang bunga, ahli botani atau para pengantin berbahagia yang mengenakan rangkaian melati pada kepalanya. Harum, jawab mereka. Seperti apa, tanyamu. Seperti mawarkah? Mereka akan menggeleng, tidak, mawar terlalu menyengat. Ataukah seperti sedap malam, tanyamu lagi. Lebih mendekati, tapi ah tidak seperti itu.

Kemudian kau akan mulai membacakan daftar panjang nama-nama bunga untuk mendapatkan bagaimanakah harumnya melati. Jawaban paling baik yang mungkin diperoleh kira-kira seperti ini : tidak apek seperti edelweis, tidak menyengat seperti mawar, tidak berbau busuk seperti bunga bangkai, semerbak seperti sedap malam di malam hari tapi tidak tepat juga seperti itu.

Jadi, katamu menggerutu, bagaimana aroma melati?

Dekatkan setangkai melati pada hidungmu, ya seperti itu. Hirup dalam-dalam dan biarkan memenuhi rongga paru-parumu. Ya itulah harumnya.

Maka Sayangku, ketika kau minta aku untuk menggambarkan bagaimana rupa cinta, aku hantarkan padamu sesuatu yang sudah ku letakkan pada lidahku, pada hidungku, pada mataku, kulitku, pada seluruh inderaku (dan jangan pernah percaya kita hanya punya
lima alat indera)

Bukan! Jangan hanya gunakan lidahmu sembari menutup matamu..Jangan bekap hidungmu ketika kau mengecap. Gunakan semua inderamu pada saat yang bersamaan..

Itulah cinta.


Blog EntryGangguOct 18, '07 1:37 PM
for everyone

Cintaku adalah setumpuk keras kepala yang mengganggu.
Mirip daun yang menempel pada alas sepatu ketika menginjak tanah lembab. Daun yang berkeras melekat agar terbawa langkahmu hingga jauh.

Aku serupa lalat yang mengusik makan malammu.
Penghilang selera makan yang ampuh, ujarmu.
Bukankah kau hendak menurunkan bobot? Godaku.

Aku memanggangmu serupa matahari tengah hari.
Di manapun kau bersembunyi, di balik jaket atau topi, panasku tak mungkin kau dustai.

Aku memenuhi kotak suratmu seperti spam yang menjanjikan kaya raya mendadak, mengundang belas kasihan dengan foto anak-anak sakit, atau cara termanjur membesarkan alat vital.
Sesuatu yang selalu datang dan menemukan cara terlihai untuk mampir ke sudut kerling matamu.

Aku letih, bisikmu.
Tawaku mengembang di udara. ‘Aku mencintaimu’.


Blog EntryGaris-Garis PatahOct 18, '07 1:36 PM
for everyone

Dari ranjang gelisah dan bantal basah kujahit saputangan ini. Kujahit tepi-tepinya dengan luka. Bukan. Bukan dengan air mata. Bundaran-bundaran hitam ini tidak ingin lagi menganaksungai. Mereka menyesal membiarkan kau pergi dengan lensa mengabur, seperti kaca depan mobil saat gerimis dengan wiper yang patah.

Padahal masih ingin direkamnya jernih-jernih sosokmu dalam neuron-neuron kepala. Sosokmu yang berlalu.

Dan ingatkah petang itu (yang masih segar oleh bau tanah yang baru saja berselingkuh dengan hujan), kamu membalikkan punggungmu dan melemparkannya ke mukaku?

Punggungmu. Ladang lebar bernoktah-noktah coklat tua yang menyaru kulit. Ladang yang pernah kusapu-sapa dengan hidung, bibir, bulumata, payudara. Mengapa ia jadi sedemikian angkuhnya?

Mungkin kita akan bertemu lagi, katamu, jika takdir mempertemukan kita. Takdir? Sejak kapan seorang nietzschean sedemikian lemah pada sejumput takdir? Kau bahkan seharusnya bangkit dan membunuh sang perancang takdir! Takdir hanyalah fatamorgana bagi para pecundang, makiku tanpa suara. Tentu, kau tak mendengarnya.

Anak-anak takdir, itukah kita?

Dilahirkan tanpa pernah meminta, tidak memilih beribu-bapakkan siapa, bertambah usia, lalu dipertemukan dengan semena-mena tanpa punya kuasa menentukan caranya.

Takdirkah yang licik mempertemukan kita, Atau pecundang seperti dirimu yang memperdayakannya ?


Blog EntryDaun dalam ToplesOct 18, '07 1:35 PM
for everyone

Aku, sehelai daun kering yang terperangkap dalam toples.Ku pandangi wajahmu, perempuan pemilik toples yang sedang mengamati diriku.

Kau memilih mengabadikanku, setahun yang lalu.

Awal jumpa kita sederhana. Ketika angin bertiup, aku terpisah dari induk pohon, terhembus jauh, lalu mendarat di pangkuanmu. Kau sepertinya berpikir, kita dipertemukan oleh takdir.

‘Tak ada yang kebetulan di dunia ini, bahkan sehelai daun yang jatuh pun memiliki makna’ ujarmu.

Kau lalu menimang tubuhku yang hijau kekuningan, meletakkannya di samping monitor yang menyala. Hangatnya menyelimuti diriku, tapi melunturkan hijau.

Hari demi hari, kau memandangku dengan senyuman kasih sayang.

Suatu saat, kau menimang tubuhku yang kini kaku dan kerontang dengan warna coklat sempurna. Sejurus kemudian, aku meluncur ke dalam lantai toples yang dingin. Kau menutupnya rapat, lalu meletakkannya di samping monitor bercahaya. Yang tak kurasakan lagi hangatnya.

Kau tersenyum. Aku selalu mencintai daun, katamu.(dan aku menggigil di lantai toples yang dingin)

Aku rindu terbaring pada tanah, membusuk dirajang bakteri, terkubur menjadi humus.

Sepaket kematian yang manis.Kau tersenyum lagi.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help