Seperti apakah wajah cinta ?Tanyamu berhembus untuk ke seratus dua puluh tiga kalinya. Sembari hatimu kau biarkan. Beku dalam kelu.
Itu seperti kau mencari merah dengan mata tertutup. Tunjukkan padaku, serumu. Kusayatkan jariku di atas jarimu. ‘Ini merah’. Tapi kau hanya terpejam.
Lalu bagaimana kau mengetahui rasa manis tanpa menggunakan lidahmu?Carilah pada kamus bahasa dari seluruh dunia, Carilah pada tumpukan diktat, ratusan buku berdebu di perpustakaan atau ensiklopedi dunia paling lengkap. Kujamin, tidak akan ada definisi yang dapat menjelaskan dengan tepat seperti apa rasa manis itu. Manis adalah rasa gula.
Kau akan bertanya, lalu seperti apa rasa gula yang katanya manis itu ? Aku akan menjawab serupa dengan rasa madu. Namun kemudian kau akan bertanya lagi seperti apa rasa madu yang serupa dengan gula yang katanya manis itu? Kemudian aku akan mencarikan hal-hal lain yang mempunyai rasa serupa, sampai akhirnya kehabisan kata-kata.
Kau hanya bisa mengetahui bagaimana rasa manis dengan meletakkan gula atau madu atau apapun yang orang katakan manis itu tepat di lidahmu sendiri. Ya, hanya itu caranya!
Dan bagaimana kau membaui bunga melati dengan hidung yang sengaja kau sumbat?
Bertanyalah. Pada semua tukang bunga, ahli botani atau para pengantin berbahagia yang mengenakan rangkaian melati pada kepalanya. Harum, jawab mereka. Seperti apa, tanyamu. Seperti mawarkah? Mereka akan menggeleng, tidak, mawar terlalu menyengat. Ataukah seperti sedap malam, tanyamu lagi. Lebih mendekati, tapi ah tidak seperti itu.
Kemudian kau akan mulai membacakan daftar panjang nama-nama bunga untuk mendapatkan bagaimanakah harumnya melati. Jawaban paling baik yang mungkin diperoleh kira-kira seperti ini : tidak apek seperti edelweis, tidak menyengat seperti mawar, tidak berbau busuk seperti bunga bangkai, semerbak seperti sedap malam di malam hari tapi tidak tepat juga seperti itu.
Jadi, katamu menggerutu, bagaimana aroma melati?
Dekatkan setangkai melati pada hidungmu, ya seperti itu. Hirup dalam-dalam dan biarkan memenuhi rongga paru-parumu. Ya itulah harumnya.
Maka Sayangku, ketika kau minta aku untuk menggambarkan bagaimana rupa cinta, aku hantarkan padamu sesuatu yang sudah ku letakkan pada lidahku, pada hidungku, pada mataku, kulitku, pada seluruh inderaku (dan jangan pernah percaya kita hanya punya
lima alat indera)
Bukan! Jangan hanya gunakan lidahmu sembari menutup matamu..Jangan bekap hidungmu ketika kau mengecap. Gunakan semua inderamu pada saat yang bersamaan..
Itulah cinta.