| |
 | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Daniel Keyes |
Misteri Kekuatan Imaginasi
Judul Buku : 24 Wajah Billy (diterjemahkan dari The Minds of Billy Milligan) Penulis : Daniel Keyes Penerjemah : Miriasti dan Meda Satrio Penerbit : Qanita PT Mizan Pustaka , cetakan I Juli 2005 William Stanley Michigan atau Billy adalah sepaket cerita mencengangkan tentang kekuatan imaginasi anak manusia.
Di usia 23 tahun, Billy mengguncangkan masyarakat Negara Bagian Ohio dengan terungkapnya kasus kriminal yang tak lazim. Tertangkap sebagai tersangka pemerkosa di sekitar kampus Ohio State University, tim pembelanya menemukan fakta mengejutkan: Billy adalah sosok berkepribadian majemuk. Ia tak memiliki kontrol atas perbuatan ‘orang-orang’ di dalam dirinya. Terungkap kemudian bahwa Billy memiliki 24 kepribadian. Satu adalah Billy yang asli dan terfusi, 22 diri lain adalah alter ego dengan karakter dan bakat sendiri-sendiri, dan satu pribadi adalah Sang Guru yaitu wujud ke-23 alter ego ini apabila terfusi. Sang Guru menempatkan diri sebagai alter ego tertinggi dengan menyebutkan pribadi-pribadi lain sebagai ‘manusia-manusia android buatanku’
Terpecahnya pribadi Billy disebabkan oleh cengkeraman penderitaan yang teramat dahsyat akibat penganiayaan ayah tirinya. Billy sesungguhnya memiliki kecerdasan kreatif di atas rata-rata. Ia memiliki daya serap tinggi terhadap bahasa dan aksen yang khas dan bakat melukis yang sangat kuat yang ditunjukkan hampir semua pribadi yang ada. Adakah faktor kecerdasan kreatif ini yang menjadikan Billy menemukan jalan keluarnya melalui pintu imaginasi?
Karena kesadarannya sendiri tidak sanggup lagi menanggung beban itu, maka imaginasinya yang bekerja keras untuk mempertahankan diri. Dalam imaginasinya, Billy bisa menjelma apa saja yang dibutuhkannya. Sosok yang tangguh dan kuat seperti Ragen yang mampu menangani situasi-situasi bahaya. Atau figur yang handal menganalisa persoalan secara rasional sebagaimana terwakili oleh sosok Arthur. Sampai Kevin dan Philip yang mempertahankan diri dengan mencuri dan merampok karena itulah cara yang mereka ketahui untuk bertahan di dunia yang keras. Sementara Billy yang asli memilih menyerah terhadap hidup, sosok-sosok yang lahir dari imaginasinya ini justru berjuang sekuat daya untuk —dalam bahasa Arthur— menempati tempat utama, merebut ruang kesadaran dan memanfaatkan fisik Billy untuk memenuhi keingian mereka.
Inilah bagian yang menurut saya paling menarik. Fenomena Billy memperlihatkan bahwa manusia memiliki daya tahan yang jauh melebihi batas logika, yaitu kemampuan imaginasi. Terlepas dari persoalan yang ditimbulkan akibat terbelah-belahnya kepribadian Billy, bisa dikatakan imaginasilah yang justru menyelamatkan dirinya, karena Billy yang asli sendiri sudah memutuskan untuk bunuh diri.
Daniel Keyes sebagai penulis mencoba melakukan rekonstruksi terhadap perjalanan hidup Billy dan kelahiran pribadi-pribadinya. Memang Keyes mewawancara sebanyak mungkin orang dan membaca dokumen-dokumen yang terkait dengan Billy sebagai upaya rekonstruksi realitas yang lebih utuh. Namun kebanyakan sumbernya adalah Sang Guru yang memiliki ingatan paling lengkap dibandingkan alter ego lainnya yang sering mengalami amnesia dan kehilangan waktu. Sayang Sang Guru kemudian menghilang dan tak pernah kembali. Seberapa akuratkah penuturan Sang Guru? Tak ada yang dapat menjawab pasti.
Terlepas dari tingkat kebenarannya Keyes dengan kebebasan bertutur seorang penyair memang berhasil menghadirkan bagian rekonstruksi ini dengan menarik dan amat hidup.
Upaya cover all sides
Memang jelas, Keyes berpihak kepada Billy. Sebagaimana yang dikatakannya pada pengantar bukunya “selama 2 tahun bekerja bersamanya sulit untuk tidak mempercayainya”. Namun ia cukup mampu menjaga staminanya untuk melakukan cover all sides. Keyes misalnya banyak mengutip pemberitaan media mengenai perkembangan kasus Billy. Hal ini penting untuk melengkapi fakta sejarah dan menjadikan buku ini dokumentasi yang komprehensif
Karenanya saya dapat membayangkan bagaimana hebatnya pro dan kontra yang terjadi di tengah masyarakat Negara Bagian Ohio dan memahami mengapa hal itu bisa terjadi. Billy sudah terbukti memperkosa dan merampok tiga orang perempuan. Dan ia seolah bisa terlindung dari penjara dengan pemakluman sebagai penderita gangguan kejiwaan. Tak heran bagi banyak kelompok masyarakat, hal ini akan terlihat sebagai ketidakadilan. Bagaimana mungkin seorang pemerkosa bisa bebas begitu saja dari jeruji penjara?
Apalagi pribadi Billy yang dikatakan sebagai pemerkosa digambarkan sebagai Adalana seorang lesbian kesepian. Keyes sempat mengutip kemarahan kaum feminis terhadap klaim tersebut. Di mata kelompok feminis itu alih-alih memberikan hukuman setimpal terhadap laki-laki pelaku perkosaan, negara yang bermental patriarki (pasti demikian maki para feminis ini) malah melindunginya. Tambahan lagi, justru memberikan stereotiping buruk kepada kaum lesbian.
Hal semacam ini sepertinya dimanfaatkan anggota parlemen sebagaimana diberitakan media massa yang dikutipkan Keyes di dalam bukunya. Fenomena Billy kemudian menjadi komoditas politik untuk merebut simpati masyarakat. Apalagi di Amerika Serikat akhir 1970-an itu gelombang pemikiran feminis sedang berada pada titik pasangnya. Bisa jadi tren ini pula yang dipertimbangkan oleh politisi yang bersangkutan. Dan sebagaimana perilaku politisi seluruh dunia, benar dan salah seringkali hanya persoalan kepentingan. Kepentingan politiknya. Tak ada urusan dengan Billy atau perjuangan gerakan perempuan.
Kerja tim antara Miriasti dan Meda Satrio selaku penerjemah dan Budhayastuti R.H sebagai penyunting dan Ine Ufiyatiputri selaku proofreader menurut saya membuat buku ini secara keseluruhan enak dan lancar dibaca. Penggunaan kata ‘nggak’ yang informal dalam bahasa Indonesia untuk sebagian pembaca mungkin dapat mengurangi kenyamanan. Sebetulnya penggunaan kata ‘nggak’ dan ‘tidak’ yang berganti-ganti ini bisa digunakan untul mewakili ciri karakter tertentu yang terbelah dari Billy. Misalnya David atau Danny yang kekanak-kanakan menggunakan kata ‘nggak’. Tapi setiap Arthur muncul, dengan aksen Inggris kelas atas yang jelas, figur yang serius ini selalu menggunakan kata ‘tidak’. Dalam hal ini tim penerjemah cukup jeli memilih diksi. Bahasa yang digunakan Arthur selalu terdengar formal dan berjarak sebagaimana sifat yang diwakilinya. Sayangnya saya tidak melihat konsistensi secara keseluruhan. Karena ketika yang muncul sosok pribadi yang lebih santai yaitu Allen, terjemahannya pun beragam saja, antara ‘tidak’ dan ‘nggak’.
Membaca 24 wajah Billy membawa pembaca hanyut pada keterpukauan. Fenomena Billy menarik dibahas dari berbagai sudut pandang mulai dari konteks psikologi klinis, hukum dan sosial kemasyarakatan sampai ke politik. Buat saya pribadi, buku ini pada akhirnya memacu hasrat penjelajahan relung jiwa manusia. Ada buku yang tercipta untuk meninggalkan jejak panjang dalam diri pembacanya. Dua puluh empat wajah Billy adalah salah satu di antaranya.

 | review2 buku yang menarik jadi penasaran ama 24 wajah billy ini :D |
 | duh senang deh, ada yang baca... makasih yaa
feb |
 | Hmm... I tried to read it once, but somehow I didn't like the the way they designed the book. I also felt there were some rush, maybe in the translation process, so I didn't like the final style of the sentences or paragraphs. Sorry... but I feel more comfortable to read it in original form instead. :-) For comparison, I read "Cybill" and I like it. No offense, OK? |
 | kenapa gue yang mesti offence hehe? gue juga baca cybill kok. jauh sebelum baca billy. |
 | buku yang cukup menarik. insya Allah besok saya langsung beli............ mumpung lagi semangat baca lagi nih.
To yang empunya blog ini .................... trims atas info bukunya. Ditunggu resensi selanjutnya |
| | |
|
|