 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Lautan Yang Tak Mengering
Judul : The Sea Inside Sutradara/Skenario : Alejandro Amenabar Produksi : 20 Century Fox Durasi : 120 menit
_________________________________________________________________ Hidup itu indah. Benarkah?
Tidak, ini neraka. Demikian jawaban Ramon Sampedra (Javier Bardem) yang menghabiskan 28 tahun hidupnya dengan berbaring. Ia lumpuh total dari leher sampai kaki. Padahal di usia 19, ia sudah keliling dunia dengan pekerjaannya sebagai mekanik kapal. Laut yang memberinya kehidupan, laut pula yang merenggutnya. Ironis. Semua itu bersebab kesalahan sederhana, Ramon terjun ke air yang terlalu dangkal.Kepalanya menghujam dasar. Lehernya patah.
Lewat jendela kamar, Ramon menghabiskan hari demi hari menatapi gelap-terang mentari sambil menonton televisi, mendengarkan radio—program debat adalah favoritnya— atau menulis dengan pena di mulut. Sebelum hari naas itu, Ramon senang mengukir puisi dengan tulisan tangannya yang indah.
Ia selalu tersenyum. "Ketika kau tak bisa lari dan mesti terus menerus bergantung kepada orang lain, kau akan belajar menangis dalam senyuman," ucapnya. Tak hanya murah senyum, selera humornya pun tinggi. Ia bahkan menjadikan cacatnya sebagai bahan lelucon untuk menghibur orang-orang di sekelilingnya.
Ramon adalah kepala yang terus berkembang dalam tubuh yang mati. Suatu ketika kecerdasannya yang di atas rata-rata itu membawanya pada satu keputusan : ia hendak menghampiri kematian. Hal yang bisa ia rencanakan tapi tak mampu dilakukannya sendiri.
Ia lalu menghubungi Right to Die with Dignity (RDD) sebuah organisasi yang menyokong kebebasan untuk mati. Pengacara yang dipilihnya adalah Julia (Belen Rueda). Satu-satunya alasan Ramon memilihnya karena Julia mengalami Cadasil, penyakit degeneratif dini. Hanya orang seperti inilah yang dipandang bisa memahami hasratnya.
Liputan media massa atas kisahnya mengundang simpati banyak orang. Salah satunya Rosa (Lola Duenas) ibu tunggal yang harus menghidupi dua anak dengan gaji minim buruh pabrik pengalengan dan penyiar radio amatir. Rossa kemudian rajin bertandang karena mendapati kenyamanan yang tak diperolehnya dari pria `normal' manapun. Ramon yang selalu mendengarkan dan bersimpati pada kesulitan hidupnya membuat Rosa kasmaran.
Sementara Ramon justru tertambat pada Julia yang masih bersuami. Sulit pula bagi Julia menampik pesona pribadi Ramon. Julia kemudian menguatkan Ramon untuk menerbitkan puisi dan pemikirannya sebagai sebuah cara mencapai tujuan perjuangan mereka.
Film ini diangkat dari kisah nyata kehidupan Ramon Sampedra. Ia warga Spanyol pertama yang menuntut euthanasia, sesuatu yang dihujat pihak gereja dan organisasi religius. Usahanya bertahun-tahun melalui pengadilan membentur dinding. Kisahnya sempat menjadi perhatian publik dunia dari Eropa sampai Australia. Isu yang telah mengemuka sejak awal abad 20 ini memang tak mudah diterima di negara seliberal Amerika sekalipun. Hanya Belanda dan Belgia yang telah melegalkannya. Perdebatan itu tak pernah berubah: apakah kematian hanya terkunci pada otoritas Tuhan?
Sutradara sekaligus penulis skenario Alejandro Amenabar (sutradara/penulis The Others, 2001) menerjemahkan kehidupannya dengan cermat. Dalam sebuah interview ia menyatakan jatuh hati pada kisah hidup dan karakter Ramon. Yang membuat hidup Ramon semakin filmis adalah relasinya dengan lima-enam perempuan yang jatuh hati kepadanya. Rosa adalah tokoh nyata dengan nama berbeda, sementara figur Julia sesungguhnya fiktif, yaitu gabungan dari beberapa pribadi.
Lima bintang pantas disematkan kepada Javier Bardem, nominasi Oscar 1999 melalui Before Night Falls. Bardem menyerap penderitaan Ramon, mentransfernya ke dalam sorot mata yang mencerminkan kecerdasan, kepasrahan sekaligus kemarahan. Atas peran ini Bardem beroleh gelar Aktor Terbaik di Venice International Film Festival 2004.
Kekuatan The Sea Inside juga terletak pada sinematografi Javier Aguirresarobe. Bukan hanya karena kemampuannya menampilkan seting keindahan panorama Galicia di utara Spanyol, juga caranya memvisualisasikan khalayan Ramon. Impian Ramon untuk terbang dan menghampiri Julia dimana pun perempuan itu berada dilukiskan dengan teknik yang indah dan mampu merepresentasikan kesakitan sayap imagi yang patah.
Perpaduan apik itu pun diganjar Best Foreign Language Film Award di Golden Globe 2004 dan beberapa penghargaan lain. Satu hal, film ini mungkin bisa dituding mengampanyekan euthanasia. Amenabar memang berusaha menampilkan argumentasi dari pihak yang menentang. Tapi keberpihakannya terasa kental karena penonton selalu diajak memahami dan berempati dari perspektif Ramon.
The Sea Inside adalah jenis film yang akan membuat Anda terharu tanpa suguhan adegan dramatis-melankolis berlebihan. Semua dituturkan secara wajar. Sederhana, bahkan kerap jenaka. Dalam ketakberdayaannya, Ramon justru menginspirasi setiap orang yang menyaksikan kisahnya. Di tengah ketakberdayaannya ia justru menjelma lautan kearifan hidup yang tak surut . Sulit untuk tak tertawan pada kecerdasan dan sifat humorisnya. Di akhir film, saya berpikir. Andai sempat mengenalnya secara pribadi saya mungkin menambah daftar panjang perempuan yang jatuh cinta, padanya.
catatan : review ini dibuat dalam rangka Workshop Penulisan Kritik Film (WPKF) yang diselenggarakan Milis Apresiasi Sastra. Milis ini kerap mengadakan e-workshop bagi para anggotanya. Jadi ini workshop jarak jauh, para peserta menyerahkan hasil karyanya melalui milis, para pemateri (merangkap penilai) juga mengirimkan materi dan penilaiannya melalui milis. Meski workshopnya 'maya' hadiahnya nyata lho.. :) :)
Alhamdulillah review sederhana ini menang lho! Terimakasih para juri/pemateri, Mas Eric Sasono (Peraih Citra 2005 untuk kritik film), Mas Akmal Nasery Basral (Wartawan Majalah Tempo, penulis novel Imperia), Mas Arie Septadji (Penulis Obrolan Tukang Nonton dan Let's Go Into Narnia), Mbak Olin Monteiro (aktivis perempuan, penulis)
Mau daftar APRESIASI SASTRA? lirik dulu di sini groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra

| aryan wrote on Apr 25, '06 wah selamat ya feby... ;) |
 | kayaknya filmnya asik niy....kok aku gak tau ya? |
 | Jia, DVD nya banyak kok. Coba cari di Ambassador atau Ratu Plaza. Tapi ups itu bajakan, berarti aku menganjurkan membeli bajakan dong hehehe |
 | Wah harus berburu, nih. Masih ada, nggak, yaa? BTW, saya ikut apsasian juga, cuma pasiiif..... |
| |