| |
 | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Ken Steele & Claire Berman |
Diterjemahkan dari The Day The Voices Stopped: A Memoir of Madness and Hope Penerjemah Rahmani Astuti Penerbit Qanita. Tebal 436, Bandung 2004
MEMAHAMI 'KEGILAAN ' DARI PERSPEKTIF PENDERITA
Bila suatu hari Anda mendengar suara-suara yang terus menerus menekan bahwa Anda sungguh tak berarti dan dunia akan lebih baik, jauh lebih baik, jika Anda bunuh diri, apa yang mungkin Anda lakukan?
Ya. Anda pasti akan merasa sangat cemas, ketakutan dan tidak berarti. Anda merasa seperti sampah. Persis seperti itulah yang mulai dirasakan Ken Steele di usianya yang amat belia : 14 tahun.
Tak ada yang tahu bagaimana suara-suara itu mulai menghampirinya. Mereka datang begitu saja, seperti teror yang menyelinap di balik selimut malam. Memerintahkannya untuk mengakhiri hidupnya, bahkan mengajar cara-cara bunuh diri secara terperinci. Sejak itu, hidup Stelle tak pernah sama lagi.
Ketika orangtuanya membawanya ke dokter, vonis yang diperolehnya adalah Skizofrenia. Di era 1960-an penderita skizofrenia tak mendapat peluang sebaik saat ini. Mereka divonis sebagai orang gila yang tak akan pernah sembuh. Dokter pada jaman itu menganggap skizofrenia lebih buruk dari pada kanker. Vonis macam inilah justru membuat para penderita semakin terbelit depresi dan semakin yakin bahwa dirinya memang tak layak melanjutkan hidup.
Stelle semakin terbenam dalam keterasingannya, suatu perilaku khas dari penderita skizofrenia. Ia berhenti sekolah dan mengurung diri di kamar. Ia mengalami ketakutan berlebihan bahkan untuk mengambil surat dari kotak surat depan rumahnya. Sayang, karena terbatasnya informasi mengenai penyakit ini pihak orangtuanya membiarkan perilaku ini dan tak memberikannya perawatan yang tepat.
Di usia 18 tahun, orangtuanya menyatakan ia bebas memilih jalan hidupnya dan berada di luar pengawasan mereka. Dari tempat kelahirannya di New Haven ia berangkat ke New York. Sebuah kota besar yang keras. Sendiri ia mencoba bertahan hidup dan berusaha mengatasi suara-suara yang tak pernah berhenti menerornya. Stelle sempat terjebak menjadi korban pelacuran, gelandangan dan pelanggan tetap rumah sakit jiwa.
Skizofrenia : Lawan Tersembunyi
Tak seperti penyakit fisik yang bisa terpantau secara lebih jelas oleh orang lain, skizofrenia memang seringkali sulit dideteksi tingkat kesembuhannya. Penderitalah sebetulnya yang paling memahami kondisi mentalnya. Karenanya pengobatan terhadap penderita skizofrenia seyogyanyalah memperhatikan kebutuhan khas yang bersifat individual. Obat anti depresi tertentu misalnya dapat memberikan efek samping negatif jika diberikan dengan dosis terlalu tinggi atau malah mesti dihindari sama sekali. Komunikasi yang setara antara pasien dan dokter seharusnya coba dibangun sejak awal (betapa pun sulitnya hal ini dilakukan).
Penyakit ini sesungguhnya dapat teratasi asalkan ditangani secara cepat dan tepat. Dukungan moril dari keluarga dan orang-orang terdekat amatlah penting bagi penderita. Ironisnya penerimaan merupakan hal tersulit yang dapat diperoleh seorang penderita. Masih banyak orang tua yang malu mengakui anaknya adalah pengidap skizofrenia. Penyangkalan ini justru semakin menjauhkan penderita dari kemungkinan untuk sembuh
Hampir seperti mukjizat, ketika akhirnya setelah 32 tahun bergelut dengan penyakitnya, Steele kembali menemukan dunianya sendiri. Dunia yang senyap dari berbagai suara-suara yang menghakimi dan bernafsu melenyapkannya dari muka bumi. Proses perjuangan Stelle menyeruak dari lumpur penderitaan merupakan kisah yang mengundang keharuan dan membangkitkan empati. Tak seorang pun patut merasa sendiri dan terabaikan di dunia ini. Tak seorang pun patut merasa tak berharga.

 | bagus, jadi ingat beautiful mind. Hampir mirip ya ceritanya? |
 | memang ada kesamaannya, tapi kalau nash kan jenius banget, ahli matematika. Kalau Ken dalam buku ini sebenarnya berada pada taraf rata-rata. kayaknya lhooo. Thx yaa |
| | |
|
|