Reviews

ReviewReviewReviewDunia ParalelMay 17, '08 8:09 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Romance
Author:Micki Mahendra
Novel ini sampai di pangkuan saya tepat saat saya sedang memimpikan hal yang sama, Bahwa di luar dunia yang kita kenal saat ini ada dunia lain yang mengantarkan sepaket takdir yang berbeda. Bahwa di suatu tempat di luar sana, ada diri kita yang lain, yang tidak terpenjara tangan-tangan takdir yang sesungguhnya hanyalah konsekuensi dari pilihan-pilihan masa lalu kita. Cara berpikir khas para pemimpi, jika kita tak bicara dari probabilitasnya dalam sudut pandang fisika.

Dari ketakberdayaan itulah cerita Dunia Paralel beranjak. Vian seorang pembuat film dan Medy seorang penulis bertemu di bandara saat pesawat mereka sama-sama delay. Pertemuan singkat itu ternyata menggetarkan hati mereka, padahal mereka masing-masing sudah terpaut janji dengan orang lain. Keluasan imaginasi mereka sebagai pekerja seni membawa mereka mengkhayalkan dunia paralel, bahwa ada Vian dan Medy di dunia yang lain dalam kondisi yang memungkinkan segala sesuatunya bagi cinta mereka. Medy sesungguhnya yang pertama kali memiliki ketertarikan menulis novel tentang dunia parallel. Vian kemudian sepertinya tanpa disadari juga terobsesi untuk membuat film bertema sama setelah bertemu dengan Medy. Bisa jadi ini merupakan katarsis dari tak kuasanya ia mewujudkan asa dalam hidup yang sesungguhnya.

Cinta dan ketakberdayaan yang bersimpuh di hadapan keperkasaan takdir adalah mata air inspirasi yang tak pernah kering. Micki Mahendra berangkat dari titik itu. Ia melalui tokoh-tokohnya mempertanyakan kemungkinan dunia paralel itu betul-betul terjadi saat kenyataan terasa mencekik leher dengan segala keterbatasannya.

Sayangnya, pertanyaan tinggal pertanyaan yang tak pernah dieksplorasi lebih jauh. Dunia paralel kemudian memang hanya khayalan. Tadinya saya berharap bahwa Micki punya keberanian memadukan cerita cinta yang manis pahit ini dengan sudut pandang fisika yang mengeksplorasi berbagai kemungkinan. Tapi tidak, itu lagi-lagi hanyalah khayalan kosong para pemimpi.

Cinta terjalin antara Vian dan Medy dalam pertemuan yang singkat. Hal seperti ini umum terjadi dan selalu sulit dijelaskan. Ada kecocokan chemistry antara keduanya. Ada energi magic yang terjadi, semua lelaki dan perempuan dewasa yang pernah jatuh cinta pasti paham maksud saya. Tapi percakapan-percapakan yang terjadi di antara mereka justru terasa sangat pemukaan

Bisa jadi seharusnya inilah kelebihan novel. Micki mungkin bisa menceritakan apa yang dialami tokoh-tokohnya, aura keakraban yang tercipta dengan cepat di antara mereka. Micki sebetulnya punya kapasitas ini. Terlihat misalnya dari bagaimana ia bisa menceritakan kondisi bandara secara terperinci. Sebetulnya, gejolak perasaan tokoh-tokohnya bisa dieksplorasi lebih banyak lagi.

Beberapa tahun kemudian mereka berjumpa lagi ketika Vian tengah menyelesaikan scriptnya untuk film dunia paralel dan ia membutuhkan penulis pembantu. Rekannya, Aleta membawa Medy yang pernah menulis novel dengan tema serupa kepadanya. Seolah tangan takdir melemparkan mereka bertemu lagi.

Percikan api itu kembali menyala. Di sinilah sebetulnya peluang Micki untuk mengeksplorasi relasi Vian dan Medy lebih dalam. Apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan apalagi setelah mereka tiba-tiba bertemu kembali, apa sih sebetulnya yang terjadi dengan relasi mereka masing-masing? Apakah ada persoalan sehingga mereka merasa tak terpuaskan? Atau segala sesuatu berjalan terlalu mulus, sehingga mereka justru merindukan tantangan baru?

Sebagai pembaca, saya menunggu konflik yang cukup serius. Saya ingin dibuat yakin bahwa bangunan emosi di antara mereka berdua sungguh kuat sehingga kondisi itu memang dilematis, bukan sekedar riak kecil karena ketertarikan yang bersifat fisikal. Sayangnya, pengisahan relasi Vian dan Medy pun lagi-lagi terasa sangat di permukaan. Di antara mereka bahkan bisa dibilang tak ada percakapan yang cukup dalam, tak ada peristiwa yang cukup menggetarkan yang bisa membuat pembaca yakin bahwa cinta mereka bisa bertahan sampai akhir zaman. Meskipun saya mesti mengakui bahwa percakapan antara mereka berdua di malam terakhir itu memang bikin terharu, huhuhu. Dan sebagai orang yang pernah berada pada kondisi serupa, saya betul-betul bisa membayangkan apa yang mereka rasakan.

Selain itu, dunia paralel kemudian hanya jadi serupa tempelan dalam novel ini. Ia muncul sebagai wacana yang diungkapkan Medy kepada Vian tentang teori dunia paralel dari Max Tegmark. Dan itu sebetulnya bisa jadi jauh lebih menarik jika turunan teorinya betul-betul dileburkan dalam konteks relasi Medy dan Vian. Saya pun jadi mengkhayalkan, andai dalam buku ini pun ada beberapa skenario yang bisa terjadi di antara mereka. Ada Medy dan Vian yang melakukan pilihan-pilihan yang sama sekali berbeda dengan yang terjadi di akhir cerita (nggak mau nyebut ya, nanti spoiler hehehe). Bisa saja ada beberapa skenario yang dimunculkan. Dan pembaca bisa dibuat terkecoh beberapa kali karena tidak tahu skenario manakah yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata Medy dan Vian.

Cerita ini sesungguhnya masih amat potensial untuk digarap dan dikembangkan lebih jauh. Dan saya melihat Micki memiliki kapasitas sebagai pencerita yang baik, sweet tanpa harus jadi mendayu-dayu dan telaten pada deskripsi. Saya merasakan ia memiliki bakat lebih dari pada yang sudah ditunjukkannya, kalau saja ia (dan tokoh-tokohnya) bisa lebih berani berkhayal, tanpa malu-malu.

Akhir kata, Ayo Micki nulis lebih banyak lagi yaaaa...


ps : maaf ya aku menyimpan review ini begitu lama dan tidak kunjung mempostingkannya ke blog huhuhuhu. Tapi janji adalah utang dan utang harus dibayar tak peduli seberapa lamanya


ReviewReviewReviewReviewReviewThe Sea Inside Apr 25, '06 5:06 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Lautan Yang Tak Mengering


Judul : The Sea Inside
Sutradara/Skenario : Alejandro Amenabar
Produksi : 20 Century Fox
Durasi : 120 menit

_________________________________________________________________
Hidup itu indah. Benarkah?

Tidak, ini neraka. Demikian jawaban Ramon Sampedra (Javier Bardem) yang menghabiskan 28 tahun hidupnya dengan berbaring. Ia lumpuh total dari leher sampai kaki. Padahal di usia 19, ia sudah keliling dunia dengan pekerjaannya sebagai mekanik kapal. Laut yang memberinya kehidupan, laut pula yang merenggutnya. Ironis. Semua itu bersebab kesalahan sederhana, Ramon terjun ke air yang terlalu dangkal.Kepalanya menghujam dasar. Lehernya patah.

Lewat jendela kamar, Ramon menghabiskan hari demi hari menatapi
gelap-terang mentari sambil menonton televisi, mendengarkan
radio—program debat adalah favoritnya— atau menulis dengan pena di mulut. Sebelum hari naas itu, Ramon senang mengukir puisi dengan tulisan tangannya yang indah.

Ia selalu tersenyum. "Ketika kau tak bisa lari dan mesti terus menerus bergantung kepada orang lain, kau akan belajar menangis dalam senyuman," ucapnya. Tak hanya murah senyum, selera humornya pun tinggi. Ia bahkan menjadikan cacatnya sebagai bahan lelucon untuk menghibur orang-orang di sekelilingnya.

Ramon adalah kepala yang terus berkembang dalam tubuh yang mati. Suatu ketika kecerdasannya yang di atas rata-rata itu membawanya pada satu keputusan : ia hendak menghampiri kematian. Hal yang bisa ia rencanakan tapi tak mampu dilakukannya sendiri.

Ia lalu menghubungi Right to Die with Dignity (RDD) sebuah organisasi yang menyokong kebebasan untuk mati. Pengacara yang dipilihnya adalah Julia (Belen Rueda). Satu-satunya alasan Ramon memilihnya karena Julia mengalami Cadasil, penyakit degeneratif dini. Hanya orang seperti inilah yang dipandang bisa memahami hasratnya.

Liputan media massa atas kisahnya mengundang simpati banyak orang. Salah satunya Rosa (Lola Duenas) ibu tunggal yang harus menghidupi dua anak dengan gaji minim buruh pabrik pengalengan dan penyiar radio amatir. Rossa kemudian rajin bertandang karena mendapati kenyamanan yang tak diperolehnya dari pria `normal' manapun. Ramon yang selalu mendengarkan dan bersimpati pada kesulitan hidupnya membuat Rosa kasmaran.

Sementara Ramon justru tertambat pada Julia yang masih bersuami. Sulit pula bagi Julia menampik pesona pribadi Ramon. Julia kemudian
menguatkan Ramon untuk menerbitkan puisi dan pemikirannya sebagai sebuah cara mencapai tujuan perjuangan mereka.

Film ini diangkat dari kisah nyata kehidupan Ramon Sampedra. Ia warga Spanyol pertama yang menuntut euthanasia, sesuatu yang dihujat pihak gereja dan organisasi religius. Usahanya bertahun-tahun melalui pengadilan membentur dinding. Kisahnya sempat menjadi perhatian publik dunia dari Eropa sampai Australia. Isu yang telah mengemuka sejak awal abad 20 ini memang tak mudah diterima di negara seliberal Amerika sekalipun. Hanya Belanda dan Belgia yang telah melegalkannya. Perdebatan itu tak pernah berubah: apakah kematian hanya terkunci pada otoritas Tuhan?

Sutradara sekaligus penulis skenario Alejandro Amenabar
(sutradara/penulis The Others, 2001) menerjemahkan kehidupannya dengan cermat. Dalam sebuah interview ia menyatakan jatuh hati pada kisah hidup dan karakter Ramon. Yang membuat hidup Ramon semakin filmis adalah relasinya dengan lima-enam perempuan yang jatuh hati kepadanya. Rosa adalah tokoh nyata dengan nama berbeda, sementara figur Julia sesungguhnya fiktif, yaitu gabungan dari beberapa pribadi.

Lima bintang pantas disematkan kepada Javier Bardem, nominasi Oscar 1999 melalui Before Night Falls. Bardem menyerap penderitaan Ramon, mentransfernya ke dalam sorot mata yang mencerminkan kecerdasan, kepasrahan sekaligus kemarahan. Atas peran ini Bardem beroleh gelar Aktor Terbaik di Venice International Film Festival 2004.

Kekuatan The Sea Inside juga terletak pada sinematografi Javier
Aguirresarobe. Bukan hanya karena kemampuannya menampilkan seting keindahan panorama Galicia di utara Spanyol, juga caranya
memvisualisasikan khalayan Ramon. Impian Ramon untuk terbang dan menghampiri Julia dimana pun perempuan itu berada dilukiskan dengan teknik yang indah dan mampu merepresentasikan kesakitan sayap imagi yang patah.

Perpaduan apik itu pun diganjar Best Foreign Language Film Award di
Golden Globe 2004 dan beberapa penghargaan lain. Satu hal, film ini
mungkin bisa dituding mengampanyekan euthanasia. Amenabar memang berusaha menampilkan argumentasi dari pihak yang menentang. Tapi keberpihakannya terasa kental karena penonton selalu diajak memahami dan berempati dari perspektif Ramon.

The Sea Inside adalah jenis film yang akan membuat Anda terharu tanpa suguhan adegan dramatis-melankolis berlebihan. Semua dituturkan secara wajar. Sederhana, bahkan kerap jenaka. Dalam ketakberdayaannya, Ramon justru menginspirasi setiap orang yang menyaksikan kisahnya. Di tengah ketakberdayaannya ia justru menjelma lautan kearifan hidup yang tak surut . Sulit untuk tak tertawan pada kecerdasan dan sifat humorisnya. Di akhir film, saya berpikir. Andai sempat mengenalnya secara pribadi saya
mungkin menambah daftar panjang perempuan yang jatuh cinta, padanya.

catatan : review ini dibuat dalam rangka Workshop Penulisan Kritik Film (WPKF) yang diselenggarakan Milis Apresiasi Sastra. Milis ini kerap mengadakan e-workshop bagi para anggotanya. Jadi ini workshop jarak jauh, para peserta menyerahkan hasil karyanya melalui milis, para pemateri (merangkap penilai) juga mengirimkan materi dan penilaiannya melalui milis. Meski workshopnya 'maya' hadiahnya nyata lho.. :) :)

Alhamdulillah review sederhana ini menang lho! Terimakasih para juri/pemateri, Mas Eric Sasono (Peraih Citra 2005 untuk kritik film), Mas Akmal Nasery Basral (Wartawan Majalah Tempo, penulis novel Imperia), Mas Arie Septadji (Penulis Obrolan Tukang Nonton dan Let's Go Into Narnia), Mbak Olin Monteiro (aktivis perempuan, penulis)

Mau daftar APRESIASI SASTRA? lirik dulu di sini groups.yahoo.com/group/Apresiasi-Sastra


Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Ken Steele & Claire Berman
Diterjemahkan dari The Day The Voices Stopped: A Memoir of Madness and Hope
Penerjemah Rahmani Astuti
Penerbit Qanita. Tebal 436, Bandung 2004

MEMAHAMI 'KEGILAAN ' DARI PERSPEKTIF PENDERITA

Bila suatu hari Anda mendengar suara-suara yang terus menerus menekan bahwa Anda sungguh tak berarti dan dunia akan lebih baik, jauh lebih baik, jika Anda bunuh diri, apa yang mungkin Anda lakukan?

Ya. Anda pasti akan merasa sangat cemas, ketakutan dan tidak berarti. Anda merasa seperti sampah. Persis seperti itulah yang mulai dirasakan Ken Steele di usianya yang amat belia : 14 tahun.

Tak ada yang tahu bagaimana suara-suara itu mulai menghampirinya. Mereka datang begitu saja, seperti teror yang menyelinap di balik selimut malam. Memerintahkannya untuk mengakhiri hidupnya, bahkan mengajar cara-cara bunuh diri secara terperinci. Sejak itu, hidup Stelle tak pernah sama lagi.

Ketika orangtuanya membawanya ke dokter, vonis yang diperolehnya adalah Skizofrenia. Di era 1960-an penderita skizofrenia tak mendapat peluang sebaik saat ini. Mereka divonis sebagai orang gila yang tak akan pernah sembuh. Dokter pada jaman itu menganggap skizofrenia lebih buruk dari pada kanker. Vonis macam inilah justru membuat para penderita semakin terbelit depresi dan semakin yakin bahwa dirinya memang tak layak melanjutkan hidup.

Stelle semakin terbenam dalam keterasingannya, suatu perilaku khas dari penderita skizofrenia. Ia berhenti sekolah dan mengurung diri di kamar. Ia mengalami ketakutan berlebihan bahkan untuk mengambil surat dari kotak surat depan rumahnya. Sayang, karena terbatasnya informasi mengenai penyakit ini pihak orangtuanya membiarkan perilaku ini dan tak memberikannya perawatan yang tepat.

Di usia 18 tahun, orangtuanya menyatakan ia bebas memilih jalan hidupnya dan berada di luar pengawasan mereka. Dari tempat kelahirannya di New Haven ia berangkat ke New York. Sebuah kota besar yang keras. Sendiri ia mencoba bertahan hidup dan berusaha mengatasi suara-suara yang tak pernah berhenti menerornya. Stelle sempat terjebak menjadi korban pelacuran, gelandangan dan pelanggan tetap rumah sakit jiwa.

Skizofrenia : Lawan Tersembunyi

Tak seperti penyakit fisik yang bisa terpantau secara lebih jelas oleh orang lain, skizofrenia memang seringkali sulit dideteksi tingkat kesembuhannya. Penderitalah sebetulnya yang paling memahami kondisi mentalnya. Karenanya pengobatan terhadap penderita skizofrenia seyogyanyalah memperhatikan kebutuhan khas yang bersifat individual. Obat anti depresi tertentu misalnya dapat memberikan efek samping negatif jika diberikan dengan dosis terlalu tinggi atau malah mesti dihindari sama sekali. Komunikasi yang setara antara pasien dan dokter seharusnya coba dibangun sejak awal (betapa pun sulitnya hal ini dilakukan).

Penyakit ini sesungguhnya dapat teratasi asalkan ditangani secara cepat dan tepat. Dukungan moril dari keluarga dan orang-orang terdekat amatlah penting bagi penderita. Ironisnya penerimaan merupakan hal tersulit yang dapat diperoleh seorang penderita. Masih banyak orang tua yang malu mengakui anaknya adalah pengidap skizofrenia. Penyangkalan ini justru semakin menjauhkan penderita dari kemungkinan untuk sembuh

Hampir seperti mukjizat, ketika akhirnya setelah 32 tahun bergelut dengan penyakitnya, Steele kembali menemukan dunianya sendiri. Dunia yang senyap dari berbagai suara-suara yang menghakimi dan bernafsu melenyapkannya dari muka bumi. Proses perjuangan Stelle menyeruak dari lumpur penderitaan merupakan kisah yang mengundang keharuan dan membangkitkan empati. Tak seorang pun patut merasa sendiri dan terabaikan di dunia ini. Tak seorang pun patut merasa tak berharga.




ReviewReviewReviewReview24 wajah BillySep 30, '05 5:14 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Daniel Keyes
Misteri Kekuatan Imaginasi

Judul Buku : 24 Wajah Billy (diterjemahkan dari The Minds of Billy Milligan)
Penulis : Daniel Keyes
Penerjemah : Miriasti dan Meda Satrio
Penerbit : Qanita PT Mizan Pustaka , cetakan I Juli 2005

William Stanley Michigan atau Billy adalah sepaket cerita mencengangkan tentang kekuatan imaginasi anak manusia.

Di usia 23 tahun, Billy mengguncangkan masyarakat Negara Bagian Ohio dengan terungkapnya kasus kriminal yang tak lazim. Tertangkap sebagai tersangka pemerkosa di sekitar kampus Ohio State University, tim pembelanya menemukan fakta mengejutkan: Billy adalah sosok berkepribadian majemuk. Ia tak memiliki kontrol atas perbuatan ‘orang-orang’ di dalam dirinya. Terungkap kemudian bahwa Billy memiliki 24 kepribadian. Satu adalah Billy yang asli dan terfusi, 22 diri lain adalah alter ego dengan karakter dan bakat sendiri-sendiri, dan satu pribadi adalah Sang Guru yaitu wujud ke-23 alter ego ini apabila terfusi. Sang Guru menempatkan diri sebagai alter ego tertinggi dengan menyebutkan pribadi-pribadi lain sebagai ‘manusia-manusia android buatanku’

Terpecahnya pribadi Billy disebabkan oleh cengkeraman penderitaan yang teramat dahsyat akibat penganiayaan ayah tirinya. Billy sesungguhnya memiliki kecerdasan kreatif di atas rata-rata. Ia memiliki daya serap tinggi terhadap bahasa dan aksen yang khas dan bakat melukis yang sangat kuat yang ditunjukkan hampir semua pribadi yang ada. Adakah faktor kecerdasan kreatif ini yang menjadikan Billy menemukan jalan keluarnya melalui pintu imaginasi?

Karena kesadarannya sendiri tidak sanggup lagi menanggung beban itu, maka imaginasinya yang bekerja keras untuk mempertahankan diri. Dalam imaginasinya, Billy bisa menjelma apa saja yang dibutuhkannya. Sosok yang tangguh dan kuat seperti Ragen yang mampu menangani situasi-situasi bahaya. Atau figur yang handal menganalisa persoalan secara rasional sebagaimana terwakili oleh sosok Arthur. Sampai Kevin dan Philip yang mempertahankan diri dengan mencuri dan merampok karena itulah cara yang mereka ketahui untuk bertahan di dunia yang keras. Sementara Billy yang asli memilih menyerah terhadap hidup, sosok-sosok yang lahir dari imaginasinya ini justru berjuang sekuat daya untuk —dalam bahasa Arthur— menempati tempat utama, merebut ruang kesadaran dan memanfaatkan fisik Billy untuk memenuhi keingian mereka.

Inilah bagian yang menurut saya paling menarik. Fenomena Billy memperlihatkan bahwa manusia memiliki daya tahan yang jauh melebihi batas logika, yaitu kemampuan imaginasi. Terlepas dari persoalan yang ditimbulkan akibat terbelah-belahnya kepribadian Billy, bisa dikatakan imaginasilah yang justru menyelamatkan dirinya, karena Billy yang asli sendiri sudah memutuskan untuk bunuh diri.

Daniel Keyes sebagai penulis mencoba melakukan rekonstruksi terhadap perjalanan hidup Billy dan kelahiran pribadi-pribadinya. Memang Keyes mewawancara sebanyak mungkin orang dan membaca dokumen-dokumen yang terkait dengan Billy sebagai upaya rekonstruksi realitas yang lebih utuh. Namun kebanyakan sumbernya adalah Sang Guru yang memiliki ingatan paling lengkap dibandingkan alter ego lainnya yang sering mengalami amnesia dan kehilangan waktu. Sayang Sang Guru kemudian menghilang dan tak pernah kembali. Seberapa akuratkah penuturan Sang Guru? Tak ada yang dapat menjawab pasti.

Terlepas dari tingkat kebenarannya Keyes dengan kebebasan bertutur seorang penyair memang berhasil menghadirkan bagian rekonstruksi ini dengan menarik dan amat hidup.

Upaya cover all sides

Memang jelas, Keyes berpihak kepada Billy. Sebagaimana yang dikatakannya pada pengantar bukunya “selama 2 tahun bekerja bersamanya sulit untuk tidak mempercayainya”. Namun ia cukup mampu menjaga staminanya untuk melakukan cover all sides. Keyes misalnya banyak mengutip pemberitaan media mengenai perkembangan kasus Billy. Hal ini penting untuk melengkapi fakta sejarah dan menjadikan buku ini dokumentasi yang komprehensif

Karenanya saya dapat membayangkan bagaimana hebatnya pro dan kontra yang terjadi di tengah masyarakat Negara Bagian Ohio dan memahami mengapa hal itu bisa terjadi. Billy sudah terbukti memperkosa dan merampok tiga orang perempuan. Dan ia seolah bisa terlindung dari penjara dengan pemakluman sebagai penderita gangguan kejiwaan. Tak heran bagi banyak kelompok masyarakat, hal ini akan terlihat sebagai ketidakadilan. Bagaimana mungkin seorang pemerkosa bisa bebas begitu saja dari jeruji penjara?

Apalagi pribadi Billy yang dikatakan sebagai pemerkosa digambarkan sebagai Adalana seorang lesbian kesepian. Keyes sempat mengutip kemarahan kaum feminis terhadap klaim tersebut. Di mata kelompok feminis itu alih-alih memberikan hukuman setimpal terhadap laki-laki pelaku perkosaan, negara yang bermental patriarki (pasti demikian maki para feminis ini) malah melindunginya. Tambahan lagi, justru memberikan stereotiping buruk kepada kaum lesbian.

Hal semacam ini sepertinya dimanfaatkan anggota parlemen sebagaimana diberitakan media massa yang dikutipkan Keyes di dalam bukunya. Fenomena Billy kemudian menjadi komoditas politik untuk merebut simpati masyarakat. Apalagi di Amerika Serikat akhir 1970-an itu gelombang pemikiran feminis sedang berada pada titik pasangnya. Bisa jadi tren ini pula yang dipertimbangkan oleh politisi yang bersangkutan. Dan sebagaimana perilaku politisi seluruh dunia, benar dan salah seringkali hanya persoalan kepentingan. Kepentingan politiknya. Tak ada urusan dengan Billy atau perjuangan gerakan perempuan.

Kerja tim antara Miriasti dan Meda Satrio selaku penerjemah dan Budhayastuti R.H sebagai penyunting dan Ine Ufiyatiputri selaku proofreader menurut saya membuat buku ini secara keseluruhan enak dan lancar dibaca. Penggunaan kata ‘nggak’ yang informal dalam bahasa Indonesia untuk sebagian pembaca mungkin dapat mengurangi kenyamanan. Sebetulnya penggunaan kata ‘nggak’ dan ‘tidak’ yang berganti-ganti ini bisa digunakan untul mewakili ciri karakter tertentu yang terbelah dari Billy. Misalnya David atau Danny yang kekanak-kanakan menggunakan kata ‘nggak’. Tapi setiap Arthur muncul, dengan aksen Inggris kelas atas yang jelas, figur yang serius ini selalu menggunakan kata ‘tidak’. Dalam hal ini tim penerjemah cukup jeli memilih diksi. Bahasa yang digunakan Arthur selalu terdengar formal dan berjarak sebagaimana sifat yang diwakilinya. Sayangnya saya tidak melihat konsistensi secara keseluruhan. Karena ketika yang muncul sosok pribadi yang lebih santai yaitu Allen, terjemahannya pun beragam saja, antara ‘tidak’ dan ‘nggak’.

Membaca 24 wajah Billy membawa pembaca hanyut pada keterpukauan. Fenomena Billy menarik dibahas dari berbagai sudut pandang mulai dari konteks psikologi klinis, hukum dan sosial kemasyarakatan sampai ke politik. Buat saya pribadi, buku ini pada akhirnya memacu hasrat penjelajahan relung jiwa manusia. Ada buku yang tercipta untuk meninggalkan jejak panjang dalam diri pembacanya. Dua puluh empat wajah Billy adalah salah satu di antaranya.



ReviewReviewReviewAnti Marketing Aug 26, '05 5:36 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Professional & Technical
Author:Kafi Kurnia
MARKETING NGAWUR ALA KAFI KURNIA

Judul : Anti Marketing
Penulis : Kafi Kurnia
Penerbit : AKOER bekerja sama dengan Gatra Pustaka,
(Cetakan I, Oktober 2004; Cetakan II November 2004;
Cetakan III : Juli 2005)

_____________________________________________________________________
Konon, ketika NASA memulai program ruang angkasanya, mereka menemukan bahwa pena tak bisa digunakan dalam situasi gravitas nol. Setelah 10 tahun riset dengan menghabiskan jutaan dolar, ilmuwan Nasa menemukan pena yang bisa digunakan untuk menulis dalam gravitasi nol. Pena ajaib ini bisa dipakai di temperatur beku, hingga 300 derajat celcius. Adapun Rusia, ketika mengalami masalah sama, tak menempuh jalan mahal dan njilimet seperti Amerika. Mereka cukup memakai pensil. Masalah beres!

Anekdot di atas dikutip Kafi Kurnia dalam bukunya, Anti Marketing yang kini memasuki cetakan ke-3. Menurutnya itu merupakan cerita terbaik untuk memberikan ilustrasi cara berpikir kreatif. Banyak orang mengira diperlukan infrastruktur serba mahal atau solusi radikal untuk melahirkan kreatifitas. Padahal seringkali yang diperlukan hanya sedikit pikiran abnormal. Dalam bahasa Kafi, apa yang dilakukan Rusia itu dapat dikategorikan sebagai perilaku berspirit anti marketing.

Jurus apakah itu? Intinya, anti marketing memunggungi kalau perlu (maaf) memantati teori dan konsep mainstream. Pendeknya, marketing ngawur. Ngawur di sini bukan berarti kacau tanpa arah. Yang dimaksud adalah proses penciptaan ide-ide liar yang kemudian dijinakkan menjadi gagasan ekonomis yang tepat guna.

Dalam bukunya, Kafi mengajukan trik-trik pemasaran yang tak lazim. Salah satunya adalah teknik kamikaze atau bunuh diri. Saat produk kita tidak laku, bunuh diri saja alias gratiskan! Ini langkah fatal yang amat berbahaya, tapi sekaligus bisa membunuh para pesaing kita. Taktik bunuh diri ini misalnya pernah dilakukan Perusahaan Internet Egreetings Network Inc. Awalnya mereka menjual kartu ucapan di internet yang harganya bervariasi antara US$ 50 sen hingga US$ 2,50. Sayang penjualannya seret. Langganannya hanya 300.000 orang. Akhirnya, mereka menggratiskan layanan tersebut.

Dalam waktu kurang dari setahun, jumlah pelanggan langsung melonjak menjadi 7 juta. Mereka pun memperoleh keuntungan dari iklan. Selain itu keuntungan juga muncul dari usaha sampingan seperti penjualan via internet untuk produk-produk yang terkait dengan penggunaan kartu ucapan, seperti penjualan bunga, kado, permen/coklat. Hal serupa bisa dilihat dengan banyaknya media gratis yang kini beredar di Jakarta, mengikuti fenomena di Amerika dan Hongkong

Jurus lain yang dikemukakan Kafi adalah pemasaran anti radar. Strategi ini memang bisa dibilang nakal karena memiliki nuansa ‘memperdaya’ konsumen. Contoh klasiknya adalah trik London’s Cake Creative Consultancy di Newcastle. Mereka membuang kemasan kosong produk minumannya, Kratingdaeng di berbagai tong sampah dekat bar dan pub di sekitar kota untuk menimbulkan kesan seolah produknya amat digandrungi. Menurut Kafi, salah seorang rekannya di Indonesia sudah meniru cara ini ketika membuka restoran baru. Di pekan awal pembukaan restoran, ia meminjam mobil teman sebanyak-banyaknya untuk diparkir di depan restorannya sehingga memancing orang penasaran dan mampir mencicipi hidangannya.

Pemasaran, kata Kafi, mirip pendekar tangan kosong. Analoginya adalah gaya Jeet Kune Do-nya Bruce Lee yaitu berkelahi dengan tangan kosong. Bruce Lee mengatakan jika dalam sebuah pertarungan musuh Anda mengeluarkan pisau, hampir dapat dipastikan ia akan kalah. Karena musuh Anda hanya fokus pada senjata itu saja. Sementara seluruh tubuh Anda—kaki, siku, tangan, lengan, kepala dan sebagainya— adalah senjata yang mematikan. Pisau hanya bisa menusuk dan menikam.Sementara Anda bisa meninju, menendang, melompat, jungkir balik dan kabur kalau perlu (hal. 130). Jadi tidak ada ceritanya eksekutif pemasaran berdalih budget promosi cekak sebagai faktor kegagalannya bersaing di pasaran. Apapun bisa terjadi. Apapun bisa dimanfaatkan. Pokoknya selalu siap bertarung. Taktik pemasaran yang 100 % cair.

Anti Marketing adalah buku Kafi yang kedua setelah 7 jurus SUKSES yang juga telah 4 kali dicetak ulang. Jika dibandingkan dengan buku-buku Hermawan Kertajaya, pakar marketing lain di Indonesia, tulisan Kafi memang memiliki ‘aroma’ yang berbeda. Artikel-artikel Hermawan biasanya dibawakan dengan gaya yang lebih ilmiah, dengan mengacu pada konsep segitiga PDB (Positioning, Diferensiasi, Brand) yang dipopulerkannya. Sementara Kafi lebih banyak meniupkan spirit marketing yang non teoritis dan nyleneh.

Namun sebagaimana kelemahan buku kumpulan tulisan umumnya, Anti Marketing relatif kedodoran mengkonstruksi tema besar yang diusungnya. Sayang, Kafi tidak menyiasatinya dengan menulis pengantar dan penutup agar rekatan ide-ide pada kumpulan artikelnya hadir dalam bentuk yang lebih utuh dan lebih mudah dipahami pembaca.

Hal lain adalah terlihatnya beberapa ‘keteledoran’ kecil, seperti pengulangan ide pada dua tulisan yang berbeda. Selain itu, beberapa artikel pun masih membawa peg news masa lalu yang sudah basi, meskipun dari segi gagasan tetap bisa diambil manfaatnya. Misalnya ada artikel yang ‘mengingatkan’ Megawati karena teledor memanfaatkan momentum 27 Juli di awal era kepemipinannya. Atau ada artikel yang dibuka dengan hujan es yang melanda Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam proses editing, artikel semacam ini lebih baik ditulis ulang dengan penyesuaian konteks, mengingat sifat buku yang lebih timeless daripada majalah.

Terlepas dari itu, Anti Marketing adalah bacaan segar dan inspiratif, layak dinikmati para praktisi usaha dan semua orang yang tertarik pada dunia marketing
*****


Category:Books
Genre: Health, Mind & Body
Author:Arvan Pradiansyah
JENDELA BARU MEMANDANG DUNIA

Judul buku : Life is Beautiful, Sebuah Jendela untuk Melihat Dunia
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Elex Media Komputindo, April 2004

____________________________________________________________________

Suatu hari seorang pria menemukan sebuah bingkisan besar di depan rumahnya. Tertulis jelas nama si pengirim, tetangga si pria tersebut. Dengan riang si pria membuka bingkisan tersebut. Tak disangka-sangka, isinya adalah setumpuk kotoran sapi!
Seandainya Anda menjadi pria tersebut kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Mungkin ada yang akan menjawab : mendatangi rumah tetangga Anda sambil mencaci maki, mengirim balik bingkisan ‘istimewa’ tersebut plus surat sakit hati, melaporkan ke ketua RT bahwa tetangga Anda sudah melakukan tindakan mengganggu kenyamanan orang lain dan lain sebagainya yang bisa memuaskan kemarahan Anda.
Namun apa yang pria dalam cerita di atas lakukan? Ia ternyata merasa sangat senang dengan kiriman kotoran sapi tersebut. “Tetanggaku sangat perhatian. Ia tahu persis bahwa rumput dan tanamanku tak terlalu subur. Karena itu ia menyediakan pupuk untukku.” Bukannya marah, ia justru merasa sangat berterimakasih pada si tetangga.
Cerita menarik tersebut dikutip dari Life is Beautiful : Sebuah jendela untuk melihat dunia, karya Arvan Pradiansyah. Pesan utama dari buku ini adalah kemampuan kita untuk menikmati hidup sangat tergantung dari jendela kita memandang kehidupan itu sendiri. Jadi, bila Anda kerap merasa selalu sedih dan tak pernah puas dengan hidup Anda, buanglah jendela Anda saat ini. Tukarlah dengan jendela baru.
Jendela yang dimaksud adalah paradigma. Paradigma adalah sebuah kristalisasi dari berbagai macam faktor seperti pendidikan, pengalaman, agama, keyakinan, kepercayaan, pergaulan, media massa dan sebagainya. Jika kita melihat melalui jendela yang buram, maka benda-benda, orang-orang, pohon-pohon semua akan tampak kusam. Katakanlah seorang napi yang kabur dari penjara cenderung bersikap penuh curiga pada semua orang. Polisi yang lewat disangkanya akan menangkap dirinya. Ia cemas karena seorang ibu tak sengaja melihat-lihat ke arahnya. Dikiranya si ibu pernah melihat fotonya di koran sebagai tersangka. Bahkan seorang anak yang tersenyum ke arahnya dikira mengejek akan getir nasibnya. Padahal realitas yang sebenarnya tidaklah demikian. Paradigma si napi yang membuatnya berpikir begitu.
Kapankah kita dapat mengatakan bahwa hidup ini indah? Apakah ketika kita terbebaskan dari masalah? Padahal dalam hidup kita tak pernah dapat luput dari berbagai masalah. Selepas menghadapi satu masalah, masalah yang lain datang menghampiri. Mulai dari jalanan macet, banjir, tingkat kriminalitas yang tinggi, bos yang cerewet, suami atau istri yang pencemburu, anak-anak yang nakal dan masih banyak lagi.
Buku ini memberikan beberapa tips, agar hidup tetap bisa terasa indah bersama masalah. Dan ini kembali pada kata ajaib tadi: paradigma. Ini langkah pertama yang harus kita selesaikan, mengubah paradigma. Kita mengeluh karena kita menganggap masalah sebagai beban dan hambatan. Seandainya kita berpikir bahwa masalah adalah sarana bagi kita untuk berkembang dan mengeksplorasi potensi yang ada dalam diri kita, justru masalah akan menjadi sesuatu yang kita nanti-nantikan. Bukankah seorang pelajar selalu antusias meski harap-harap cemas menanti saat ujian tiba? Kalau akibat sakit atau berhalangan, kita gagal ikut ujian, kita justru akan memohon-mohon agar diberikan kesempatan untuk ujian susulan, supaya bisa lulus dan naik ke tingkat yang lebih tinggi. Masalah dalam hidup bekerja dengan cara yang persis sama.
Kedua, kita harus bisa mengetahui mana masalah yang merupakan persoalan besar dan mana yang bukan. Caranya mudah. Bayangkan setahun dari sekarang, adakah Anda masih akan bersedih bila mengingat masalah tersebut. Kalau jawabannya tidak, berarti kegusaran dan kegundahan Anda yang besar saat ini hanya menghabiskan energi untuk hal yang tak terlalu penting. Klien yang membatalkan janji, teman sekantor yang iri, orang yang menggores mobil Anda memang menyebalkan. Tapi mereka tak sepantasnya menyita perhatian dan kemarahan Anda sedemikian besar.
Mengetahui hal-hal yang paling penting penting dalam kehidupan kita adalah yang terpenting. Karena sebelum kita menemukannya semua hal akan nampak penting, dan semua hal bisa terasa mengganggu.
Masih ada beberapa tips lagi dari buku ini yang dapat dilakukan jika kita menghadapi persoalan hidup. Sekali kita dapat mengubah paradigma kita, maka seluruh dunia yang terbentang di hadapan kita akan berubah. Karena kita melihat dunia berdasarkan apa yang kita yakini dan bukannya berdasarkan dunia itu sesungguhnya. Maka indah atau tidaknya dunia bukan terletak pada dunia itu sendiri, tapi pada apa yang berada dalam diri kita. Jendela yang bersih membuat kita dapat memaknai kehidupan di luar jendela itu dengan keindahan.

Jendela Bersih : Syarat Pokok Menikmati Hidup
Dalam buku ini, Arvan menyebutkan beberapa kualitas hati yang mesti kita penuhi untuk mendapatkan jendela yang bersih sebagai syarat pokok menikmati hidup. Pertama, memberi lebih banyak tanpa memikirkan balasan apa yang akan kita terima. Hal ini tentu saja akan menjadi mudah apabila kita sudah mengubah paradigma tentang dunia. Bahwa dunia bukanlah sepotong kue besar yang harus diperebutkan bahkan kalau perlu dengan sikut-menyikut, karena khawatir tidak akan kebagian. Keajaiban dari memberi adalah kita tidak akan pernah mengalami kekurangan, justru akan bertambah kaya.
Kedua, bersyukur atas apapun yang kita alami, apakah itu terlihat sebagai kejadian yang baik atau buruk. Karena seringkali kita menyangka apa yang kita alami adalah sesuatu yang buruk, padahal di waktu mendatang hal itu justru baik untuk kita dan begitu pula sebaliknya.
Ketiga, pasrah dengan paradigma baru. Umumnya orang mengartikan pasrah sebagai menyerah. Menurut Arvan pandangan ini mestinya direvisi, karena pasrah semestinya berarti berusaha sekuat tenaga dengan segala daya yang kita miliki untuk mencapai tujuan. Setelah itu barulah menyerahkan hasil akhir pada kehendak Tuhan. Karena kita hanya bisa mengontrol usaha kita, bukan hasilnya. Kepasrahan macam inilah yang disebut Arvan sebagai bentuk spritulitas tertinggi.
Keempat adalah kemampuan memaafkan orang lain. Kalau saja kita memahami bahwa memaafkan orang lain sangatlah penting untuk kesehatan fisik dan mental kita sendiri, kita tak akan rela berlama-lama memendam dendam. Berbagai penelitian medis membuktikan ketidakmampuan kita memaafkan orang lain dapat menimbulkan berbagai penyakit berbahaya.
Kelima, bersabar. Definisi kesabaran di sini adalah kemampuan menyatukan badan dan pikiran kita di satu tempat. Apabila kita hendak berangkat ke suatu tempat untuk menjalani tes kerja padahal kemacetan lalu lintas menggila dan menyergap kendaraan kita hingga tak bisa bergerak kemanapun, kita pasti akan merasa tak sabar. Kenapa? Karena pada saat itu pikiran kita sudah melayang ke tempat tes, padahal fisik kita terperangkap dalam kemacetan. Kesabaran adalah kemampuan untuk menyatukan pikiran dan tubuh kita.
Keenam dan ketujuh adalah kejujuran dan keberanian. Dua hal ini baru bisa ‘nyaring’ bunyinya kalau bisa berkolaborasi dalam diri setiap manusia. Kejujuran adalah hal yang sangat penting dan dibutuhkan semua orang. Namun kejujuran saja tidak cukup. Keberanian diperlukan untuk menyuarakan kejujuran ini. Dan keberanian hanya dapat terwujud apabila kita memiliki kemampuan menaklukkan rasa takut dalam diri. Ketika masa orde baru, banyak orang menyadari bahwa pemerintah berlaku represif dan memasung kebebasan berpikir masyarakat. Hanya segelintir oranglah yang memiliki keberanian menyampaikan kejujuran dengan suara lantang. Orang-orang seperti inilah yang sesungguhnya telah sampai pada inti keindahan hidup itu sendiri. Orang-orang yang memiliki jendela yang bersih.
Buku ini mengajak para pembaca untuk lebih banyak melakukan perjalanan ke dalam diri. Hidup ini bisa terasa indah memang bukan karena apa-apa yang berada di luar diri kita tapi karena apa-apa yang berada di dalam. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang begitu sulit dicari. Kebahagiaan ada di sini, saat ini juga. Kalau kita tak menemukan kebahagiaan, bukanlah dunia dan orang lain yang kita ubah terlebih dulu, melainkan diri kita sendiri.
Sisi menarik dari buku ini adalah gaya bertuturnya yang banyak menggunakan cerita. Manusia; tua muda, laki-laki perempuan memang mudah terpikat pada cerita. Berbagai kisah hikmah yang terserak di dalam buku ini menjadikan pesan moral yang ingin disampaikan penulis menjadi lebih mudah melekat dalam ingatan pembaca. Cerita membuat kita mudah menyerap pesan tanpa merasa digurui atau diceramahi.
Buku ini mengandung nilai-nilai spiritual yang kental di dalamnya, termasuk hal-hal yang terkait dengan relasi manusia dengan Tuhan. Memang, penulis kadang mengambil contoh dari ritual yang dimilikinya sendiri sebagai seorang muslim, seperti menerapkan dzikir Alhamdulliah (Segala puji bagi Allah),Subhanallah (Maha Suci Allah), Allahu Akbar (Allah maha Besar) sebagai tiga kunci hidup yang bahagia. Meskipun dari segi bahasa mungkin tak terlalu akrab bagi pemeluk agama lain, tapi secara substansi hal ini bisa tetap dilaksanakan oleh pemeluk agama dan kepercayaan apapun selama ia mempercayai keberadaan dan kekuasaan Tuhan.
Sebagaimana kelemahan buku yang berisi kumpulan artikel pada umumnya, buku ini bukanlah merupakan suatu bangunan yang masing-masing bagiannya tampak betul-betul harmonis satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan masing-masing tulisan tadinya memang artikel yang berdiri sendiri dan dikodifikasi kemudian karena punya kesamaan tema.
Pada beberapa bagian juga terlihat ada pengulangan pesan. Meskipun demikian hal tersebut tidak mengganggu kenikmatan pembaca secara keseluruhan. Mungkin trend pembaca Indonesia justu lebih senang tulisan-tulisan pendek ketimbang harus membaca yang panjang-panjang. Karena dengan waktu dan energi yang tak begitu besar, pembaca bisa memperoleh asupan kognisi dan bahan perenungan spiritual yang berarti. Buku ini dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
*****


ReviewReviewReviewSeks, Gender dan Reproduksi KekuasaanJun 28, '05 1:25 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Reference
Author:Irwan Abdullah
Feminisme Perempuan Bakul

Seks, Gender & Reproduksi Kekuasaan, Irwan Abdullah
Yogyakarta : Tarawang Press, Maret 2001
222 hal +xvi; 1,2 cm

Isu gender dan feminisme (gerakan memperjuangkan kesetaraan perempuan dan laki-laki dengan menekankan perempuan sebagai subjek) seringkali dianggap sebagai wacana yang datang dari barat dan cenderung dianggap elitis. Namun, kenyataannya tidaklah selalu demikian. Dalam bukunya, Irwan Abdullah seorang dosen Antropologi Universitas Gajah Mada membuktikan bahwa gerakan feminis tersebut ada pada strata masyarakat terendah dan dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun, yaitu kalangan perempuan bakul (pedagang) di desa Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.

Dalam bukunya, penulis menggambarkan upaya perempuan yang bergerak dari sektor domestik ke sektor publik dengan berperan aktif dalam kegiatan perekonomian. Hal ini tak dapat dilepaskan dari menyempitnya lahan pertanian di wilayah pedesaan sehingga perempuan tersingkir dari kegiatan pertanian yang dikuasai laki-laki. Mengingat hasil pertanian yang sangat tergantung pada musim, perempuan lalu bekerja pada sektor-sektor off-farm (di luar pertanian) untuk meningkatkan ekonomi keluarga seperti berdagang di pasar, dan bekerja menjadi buruh pada industri rumah tangga kerajinan.

Dengan memiliki kekuatan ekonomi—karena mendapat uang secara teratur setiap hari— perempuan memiliki otonomi untuk mengatur rumah tangga dan kepentingannya sendiri. Pembagian kerja dalam rumah tangga perempuan bakul mengalami pergeseran. Dengan ikut andilnya perempuan dalam ekonomi keluarga, urusan domestik seperti pekerjaan rumah tangga dan pengurusan anak juga mulai dilakukan bergantian dengan suami mereka meski dalam kenyataannya perempuan masih melakukan peran ganda yaitu berdagang, mengurus rumah tangga, membantu kegiatan pertanian dengan jam kerja yang sangat panjang (hlm.142).

Penelitian Irwan mengungkapkan bagaimana perempuan bakul memiliki kebanggaan dan kepercayaan diri yang tinggi. Berdagang ternyata dapat meningkatkan status perempuan sebab dengan begitu mereka memiliki kemampuan secara ekonomi, memiliki kepercayaan diri karena meningkatnya andil mereka dalam ekonomi rumah tangga, dan memiliki kepuasan pribadi dengan menjalin relasi sosial dengan teman-teman sesama bakul. Imbalan ekonomi dari kegiatan berdagang kecil-kecilan itu memang tidak memberikan penghasilan yang besar. Namun, berada di luar rumah dan di luar pertanian dalam beberapa jam sehari telah memberikan kepuasan lain bagi perempuan. Dengan berdagang perempuan menemukan jaringan dan kelompok yang memberikan ruang ekspresi diri (hlm xi).

Buku ini merupakan kumpulan makalah dan hasil penelitian yang dilakukan Irwan Abdullah terhadap perempuan pedagang dan perempuan yang bekerja sebagai buruh di industri rumah tangga kerajinan di pedesaan Jawa Tengah. Terdiri atas sebelas bab yang dikelompokkan menjadi empat bagian (Pengantar wacana, Perempuan dalam Wacana sosial, Perempuan dalam Realitas Ekonomi dan Epilog), kumpulan tulisan ini dirangkum dalam judul besar Seks, Gender dan Reproduksi Kekuasaan.

Penulis bertolak dari refleksinya mengenai perempuan dalam wacana sosial dan perempuan dalam realitas ekonomi. Irwan mengungkapkan berbagai wacana mengenai persoalan gender sebagai entitas yang dinamis yang dapat mengalami redefinisi dan rekonseptualisasi berdasarkan ruang dan waktu. Untuk itu pembagian peran perempuan dan laki-laki sesungguhnya bukanlah suatu konsep mati namun dapat bergeser seiring dengan perubahan situasi dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Dalam merefleksikan kondisi perempuan dalam realitas sosial, Irwan memaparkan bagaimana penempatan laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek dilestarikan melalui berbagai bentuk wacana dan sarana. Satu hal yang sering ditekankan penulis adalah sesungguhnya perempuan mengalami ketertindasan oleh sistem yang dipertahankan tidak hanya oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan yang memiliki kekuatan ekonomi dan atau strata sosial lebih tinggi.
Pada bagian lain penulis mengkritik politisi, peneliti kajian perempuan dan bahkan kaum feminis yang sangat ingin memperjuangkan kepentingan perempuan.

Menurut penulis, kesalahan utama yang dilakukan mereka adalah mereproduksi struktur patriarkal dengan menekankan ketimpangan gender dengan mengedepankan wacana pemberdayaan perempuan, ketegangan perempuan, dan perempuan sebagai makhluk yang lemah.
Irwan menyatakan bahwa kaum feminis pun cenderung tidak dapat memahami perempuan meskipun mereka berusaha mewakili kaum perempuan. Para feminis berkaca pada kekuatan-kekuatan mereka sendiri yang merupakan kekuatan segelintir orang yang memiliki kapital sosial dan kapital ekonomi untuk menjadi perempuan seperti yang diinginkan mereka sendiri. Karena itu, hal tersebut tidak membantu meningkatkan kesejahteraan perempuan sama sekali dengan kebutaan kita terhadap “apa yang sesungguhnya” diinginkan oleh perempuan (hlm 28)

Perempuan Berdagang : Suatu Upaya Menjadi Subjek
Menarik melihat penulis berhasil mengungkapkan sebuah realitas bagaimana upaya perempuan bergerak menjadi subjek ekonomi dan tidak sekadar objek. Hal ini disebut penulis sebagai perumusan kembali eksistensi perempuan, setelah penulis mengungkapkan posisi perempuan dalam wacana sosial dengan basis hipotesis bahwa eksistensi perempuan selalu terpinggirkan dalam sistem kemasyarakatan. Irwan hendak membuktikan bahwa peran perempuan dalam ekonomi dapat merupakan jalan bagi mereka untuk merebut ruang eksistensi.

Sebagaimana yang diungkapkan penulis dalam kata pengantarnya, bagaimanapun berdagang telah merupakan ranah kekuasaan yang memberikan perempuan ruang untuk manuver, paling tidak untuk keluar dari ranah yang terdominasi oleh laki-laki yakni rumah dan pertanian tempat perempuan desa pada umumnya dalam menghabiskan sebagian besar waktunya.

Hal tersebut penting untuk diungkapkan, mengingat aktualisasi diri bagi perempuan bekerja biasanya hanya dibicarakan dalam konteks perempuan dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Sementara wacana perempuan bekerja pada strata ekonomi bawah umumnya hanya menyentuh keterpaksaan perempuan untuk menjalani peran ganda —bekerja pada sektor publik dan domestik sekaligus— karena desakan kebutuhan ekonomi. Namun, berdasarkan penelitian Irwan, ternyata kebutuhan aktualisasi diri dan berhubungan dengan dunia luar adalah faktor yang lebih penting yang menyebabkan perempuan bakul menikmati pekerjaannya meski dengan penghasilan yang tak seberapa.

Meskipun demikian, sebetulnya menarik untuk ditelaah lebih jauh apakah posisi tawar perempuan bakul dalam pengambilan keputusan—terutama bila terjadi perbenturan kehendak dengan suami— juga meningkat seiring dengan kemampuan mereka memperoleh uang. Hal ini penting untuk diketahui mengingat persoalan ketimpangan gender juga tidak semata merupakan persoalan ekonomi tetapi juga terkait dengan faktor-faktor lain seperti agama dan budaya Bagaimanapun budaya masyarakat Jawa yang menuntut kepatuhan istri kepada suami, swarga nunut neraka katut adalah budaya yang sudah mengakar kuat dan sulit untuk dihilangkan. Sayangnya penelitian Irwan memang belum sampai mengungkapkan sedalam itu. Mungkin penelitian ini dapat dilanjutkan, baik oleh Irwan maupun peneliti-peneliti lainnya.

Satu hal yang juga patut mendapat perhatian, sebagaimana kondisi yang dialami perempuan bekerja pada umumnya, perempuan bakul tetap mengalami beban yang lebih berat daripada suaminya. Selain berdagang, mereka masih harus membantu kegiatan pertanian suaminya dan melakukan kerja-kerja domestik yang semuanya harus dijalani sekaligus. Hal ini sesungguhnya menimbulkan persoalan dan ketertindasan baru bagi perempuan.

Untuk itu, Irwan memberikan kritik bahwa upaya menarik perempuan ke wilayah publik seringkali justru memberikan beban ganda bagi perempuan Cara-cara semacam ini menurut Irwan sesungguhnya ikut mereproduksi realitas tentang stratifikasi bidang kegiatan, di mana bidang publik dinilai lebih tinggi daripada bidang domestik. Penulis beranggapan ada yang lebih penting dari meningkatkan partisipasi perempuan di ruang publik yakni bagaimana meningkatkan partisipasi laki-laki pada ruang domestik. Sayangnya Irwan juga tidak memberikan lebih banyak penjelasan mengenai langkah-langkah konkret apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan partisipasi laki-laki dalam ranah domestik tersebut.

Luasnya pengetahuan penulis dalam persoalan gender memang tak diragukan lagi. Irwan sudah terbukti cukup konsisten dalam kepeduliannya terhadap persoalan tesebut. Beberapa karya bertema gender karya Irwan lain yang telah diterbitkan adalah Reproduksi Ketimpangan Gender (1995), Dilema Wanita (1996), dan Sangkan Paran Gender (1997). Namun dalam buku ini sepertinya penulis mempunyai kesulitan untuk menata ulang gagasannya karena terlalu banyak hal yang hendak dipaparkannya dalam satu tulisan.

Gagasan-gagasan menarik penulis tersebar di berbagai bab tanpa diupayakan untuk mengerucut ke suatu pemikiran utama yang hendak ditonjolkan. Pembaca mungkin akan mengalami kesulitan menangkap fokus dari buku ini karena secara keseluruhan tidak tampak sebuah rajutan apik yang menjalin pokok-pokok pemikiran antar bab. Hal ini kemungkinan besar disebabkan setiap bab memang merupakan tulisan yang terpisah dan ditulis dalam kurun waktu yang berbeda antara 1991–1999. Akibatnya, beberapa poin juga kadang tumpang tindih dan mengulang-ulang antara bab yang satu dengan bab lain.

Terlepas dari semua itu, artikel-artikel dalam buku ini tetap mencerminkan cukup matangnya wawasan Irwan dalam bergelut dengan wacana gender. Karena itu, banyak pula informasi dan masukan kritis yang dapat diperoleh baik oleh pembaca awam yang ingin mengetahui lebih banyak tentang persoalan ketidakadilan gender maupun bagi para aktivis perempuan dan peneliti kajian perempuan.

Lebih dari itu sebagai laki-laki yang nota bene lebih diuntungkan dalam ketimpangan struktur gender, Irwan memiliki empati yang kuat akan persoalan-persoalan yang dialami perempuan dengan tak segan pula memberikan kritik pedas terhadap kaumnya. Meski demikian Irwan menekankan bahwa bukanlah laki-laki yang harus dilawan melainkan stuktur dan sistem yang timpang dan seringkali dilestarikan tidak hanya oleh laki-laki tapi juga oleh perempuan sendiri.

(review ini pernah dimuat di Jurnal Antropologi Indonesia 2004)

Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Karen Armstrong,Penerjemah : Yuliani Liputo
Sekali waktu pernahkah Anda merenungkan pertanyaan-pertanyaan berikut : Dimanakah Anda bisa mencari Tuhan? Bagaimana caranya menghadirkan Tuhan dalam kehidupan Anda? Seperti apakah wujud penyerahan diri kepada Tuhan?

Jika pertanyaan serupa itu pernah menggelisahkan Anda, berarti Anda senasib dengan Karen Armstrong, penulis buku Sejarah Tuhan, Berperang Demi tuhan, Perang Suci, Islam dan Budha. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa di seluruh dunia.

Perjalanan pencarian Karen pada Tuhan dituangkannya ke dalam autobiografi spiritual berjudul The Spiral Staircase : My Climb Out of Darkness, dengan gaya bertutur yang akrab dan terasa sangat personal. Bisa dipastikan usai membaca prakatanya Anda dapat mulai terseret dalam putaran kisah yang meluncur deras. Setelah menutup buku ini Anda seperti sudah mengenal dekat si penulis. Cukup dekat untuk memanggilnya Karen, dan bukan Miss Armstrong.

Buku ini bukanlah kisah autobiografi spiritualnya yang pertama. Dua buku sebelumnya, Through the Narrow Gate mengisahkan pengalamannya sebagai biarawati Katolik Roma selama tujuh tahun dan Beginning the World yang bertutur tentang pengalamannya setelah keluar dari biara. Karen sendiri menyebutkan Beginning The World sebagai buku terburuk yang pernah ditulisnya karena tidak menampilkan gambaran utuh kepada pembaca mengenai pengalamannya. Dengan demikian My Climb out of Darkness hadir sebagai sebuah tebusan dan keinginan berbagi pengalaman spiritualnya secara lebih holistik.

Tahun 1962, Karen adalah seorang remaja pemalu berusia 17 tahun di Birmingham, Inggris, mengepak pakaiannya dalam koper dan berangkat ke biara dengan hasrat besar : menemukan Tuhan. Sebuah keputusan serius, terutama untuk remaja seusia itu. Karen menghabiskan tujuh tahun berada dalam biara dan sayangnya, malah merasa semakin jauh dari Tuhan. Ironisnya ia akhirnya keluar dalam kondisi yang rusak dan cedera.

“Ini bukan salah siapa-siapa. Saya mengasumsikan kegagalan itu sepenuhnya merupakan akibat perbuatan saya sendiri” demikian tegas Karen dalam bukunya. Saat ia masuk biara bertepatan dengan periode transisi dari Gereja Katolik yang sedang mencoba mereformasi diri, merumuskan kembali apa arti menjadi biarawati dalam dunia modern pascaperang.

Pada satu titik jenuh, Karen memutuskan untuk meninggalkan biara. Setelah berusaha keras, ia merasa dirinya tak kunjung cocok dengan sistem pendidikan biara keseluruhan. Karen mengambil jurusan Sastra Inggris di Universitas Oxford. Lepas dari biara, namun belum sepenuhnya bisa kompatibel dengan dunia luar. Satu kali ketika terlambat masuk ruang kuliah, ia secara instingtif berlutut dan mencium lantai sebagaimana ketika melakukan kesalahan di biara. Karen seolah terkatung dalam dua dunia dan tidak tepat memijakkan kaki di manapun di antara keduanya.

Dunia luar masih sama sekali asing. Bukan hanya banyak ketinggalan informasi perkembangan dunia mutakhir dengan amat terbatasnya informasi yang boleh diterima di biara. Di usia 25 ketika itu, Karen terlajur terpahat menjadi sebuah pribadi yang sangat terkontrol dan minim ekspresi manusiawi. Saat mesti membuat esai apresiasi sebuah puisi sebagai tugas kuliah, ia sempat dilanda kepanikan. Ia merasa tak punya pikiran sendiri lagi, karena selama ini kebebasan berpikir selalu dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya di biara. Misalnya Karen bercerita bahwa ia pernah mendapat hukuman dari suster senior untuk menggenjot pedal mesin jahit tanpa jarum berjam-jam setiap hari. Bagaimanapun saat itu ia berusaha meyakini bahwa itulah wujud kepatuhan kepada Tuhan.

Setelah itu Karen memutuskan hubungannya dengan Tuhan yang baru disadarinya tak pernah kunjung berhasil dihadirkannya bahkan di biara sekalipun. Kisah perkenalannya dengan Jacob putra induk semangnya yang atheis merupakan sepotong perjalanan hidup Karen yang sempat dieksplorasi dalam buku ini. Jacob seorang bocah autistik yang justru bisa memperoleh kedamaian dan kenikmatan tersendiri berada dalam ritual-ritual gereja meski tak begitu paham maknanya.

Karen sempat merasa mati secara spiritual dan mau hadir ke gereja hanya untuk menemani Jacob. Ternyata perasaan keagamaan adalah sesuatu yang sifatnya memang tak selalu terkait dengan logika dan rasio. Kehikmatan ritual misa justru dapat ditangkap oleh jiwa kanak-kanak Jacob yang suci. Tapi cara yang sama tidak dapat dialami oleh Karen. Ia merasa lelah dan tidak bisa lagi membangkitkan energi emosional atau spiritual untuk memercayai doktrin keagamaan. “Saya telah selesai dengan Tuhan; dan Tuhan –jika dia ada– telah sejak lama selesai dengan saya” demikian ungkap Karen pada satu fase kehidupannya.

Dalam buku ini Karen mengisahkan usahanya yang tertatih-tatih untuk bangkit dan menyesuaikan diri dengan tuntutan dunia baru yang dihadapinya. Kali ini tanpa target menghadirkan Tuhan dalam setiap langkah dan perbuatan. Kerap ketika merasakan dirinya bergerak maju, menjelang titik cerah namun selalu berakhir dengan pintu yang terbanting di depan wajahnya. Kegagalannya tesisnya, diberhentikan dari pekerjaan mengajar sebagai guru SMA dan banyak lagi. Tambahan lagi Karen berkali-kali mengalami suatu hal serupa serangan bau busuk menyergap otak dan pandangan yang kabur menyerbunya, membuatnya bisa pingsan di manapun.

Serangan serupa kerap dialaminya sejak masih di biara. Tapi para suster memandangnya sebagai suatu wujud histeria, emosionalitas berlebihan dan tanda belum mampunya Karen menguasai diri. Maka ketika ia masih mengalami persoalan serupa di dunia luar, solusi yang ditempuhnya adalah berkonsultasi dengan psikiater. Sebuah pilihan yang keliru. Karen ternyata seorang penderita epilepsi dan itu menjelaskan semua gejala yang sering dialaminya .

Merindukan Tuhan

Anehnya ketika dia tak lagi berminat terhadap hal-hal ketuhanan, ia tetap membiarkan dirinya ‘terseret’ pada arus keingintahuannya tentang sosok ketuhanan itu sendiri. Karen menyatakan, “Saya mungkin telah kehilangan iman saya dan tidak lagi bisa percaya pada Tuhan atau doktrin gereja, tapi saya masih merindukan rasa transendensi dan intensitas yang dipertinggi seperti yang dijanjikan biara akan diberikan pada saya. Apakah saya masih seorang biarawati , hidup di dunia dan merindukan Tuhan yang tiada ?”

Menuliskan autobiografi spiritualnya yang pertama akhirnya menjadi salah satu terapi bagi Karen untuk mengatasi kegamangannya menghadapi dunia (di tengah masyarakat Inggris yang sekuler) dan kegelisahannya memahami agama dan hal-hal ketuhanan. Ia banyak memenuhi permintaan wawancara media massa yang penasaran seperti apa kehidupan di balik tembok biara. Ia bahkan sempat ditawari tampil menari telanjang di sebuah acara televisi. Sesuatu yang serta merta ditolaknya

Karen menulis dan mengisi berbagai acara televisi, bicara tentang ide-ide dan pemikirannya mengenai agama dan Tuhan. Ia kemudian menemukan kegelisahan tentang klaim kebenaran pada agama-agama termasuk Katolik. Membaca sejarah perang salib yang melibatkan perseteruan umat antar agama Ibrahim —Nasrani, Yahudi dan Islam—membuatnya bergidik,membayangkan bagaimana orang dapat membunuh manusia lain sedemikian keji atas nama Tuhan. Pada satu titik, pengkajiannya terhadap permusuhan antar tiga kelompok umat beragama ini justru membuatnya berpikir : Mengapa tidak mempelajari bagaimana mereka memandang Tuhan selama berabad-abad? Mengapa tidak menulis Sejarah Tuhan?

Keputusan menulis Sejarah Tuhan datang selaksa ilham bagi Karen. Meskipun sempat dilirik skeptis oleh beberapa koleganya karena dianggap tak kan laku bagi masyarakat Inggris yang sekuler, Karen tak mundur. Dapat dikatakan upaya pencarian Tuhan justru mengalami pencerahan dalam proses penulisan buku ini. Sejarah Tuhan menjadi perlambang sebuah pencarian dan pembebasan bagi Karen. “Saya bukan sebuah kegagalan kronis, saya sekedar berhadapan dengan spiritualitas dan teologi yang tidak cocok buat saya” demikian kesimpulan Karen.

Pengalaman Karen bisa menjadi cermin bagi pembaca bahwa relasi setiap orang dengan Tuhan adalah merupakan sesuatu yang amat pribadi sifatnya. Setiap orang bisa mencapai tuhan dengan pemahaman dan cara masing-masing sesuai tingkat pemahamannya. Apabila semua orang menyadari hal ini, kita bisa menghadirkan Tuhan sesuai keyakinan masing-masing, tanpa menghujat cara-cara individu dan kelompok lain yang berbeda untuk mencapai Tuhan. Perseteruan antar umat beragama pun tak perlu terjadi.

Di luar dugaan, Sejarah Tuhan meraih sukses, terutama di Amerika Serikat dan Belanda. Nama Karen mengharum dan kian banyak bepergian untuk diundang sebagai pembicara di berbagai negara. Karen mendeklarasikan dirinya sebagai freelance monotheism, meyakini keesaan Tuhan tanpa berpihak pada satu ritus apapun.

Banyak cara untuk bahagia. Ada yang menemukannya dengan percintaan, perkawinan, berbisnis atau berkarir politik. Karen tidak melakukan hal-hal itu. Ia menemukan kebahagiaannya dengan mendalami teologi. Dan pada titik itu, Karen Armstrong akhirnya berhasil berelasi dengan Tuhan. Dengan caranya sendiri.





ReviewReviewReviewReviewMalaikat-Malaikat yang Runtuh (Falling Angels)Apr 25, '05 3:55 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Tracy Chevalier,Alih bahasa : Kathleen SW
Januari 1901
Kitty Coleman

Aku terbangun pagi ini dengan seorang asing di atas tempat tidurku. Kepala berambut pirang di sebelahku jelas bukan milik suamiku. Aku tidak tahu apakah harus terkejut atau merasa geli.

Oke, batinku, ini merupakan cara yang unik untuk memulai abad yang baru.


Sebuah paragraph pembuka yang menyeret saya untuk membaca novel ini lebih jauh. Tanpa banyak kata, Chevalier sudah bercerita tentang fenomena yang mulai marak di Inggris awal abad 20 yaitu bertukar pasangan suami istri. Bahkan Kitty Coleman salah satu tokoh sentral yang mengindentifikasikan dirinya berpikiran terbuka masih merasa jengah dengan ‘cara merayakan tahun baru’ yang dikehendaki Richard Coleman, suaminya.

Novel ini menghadirkan realitas sosiologis masyarakat Inggris awal 1900-an melalui potret perjalanan dua keluarga yang bersebelahan tempat pemakaman, Coleman dan Watterhouse. Dimulai dengan pergeseran nilai-nilai dari masa kepemimpinan Ratu Victoria ke putranya Raja Edward yang lebih liberal sampai kemunculan gerakan suffragette (gerakan kaum perempuan yang memperjuangkan hak pilih dalam pemilihan umum).

Kekariban kedua keluarga ini diawali oleh persahabatan anak-anak mereka, Maude Coleman dan Lavinia Watterhouse. Maude dan Lavinia juga menjalin persahabatan dengan anak laki-laki penggali kubur di taman pemakaman keluarga, Simon Field meski berasal dari kelas sosial yang berbeda dengan mereka.

Gertrude Watterhouse, ibu Lavinia tidak menyukai Kitty Coleman. Namun ia tidak punya pilihan selain membiarkan anaknya bersahabat dengan Maude. Apalagi Albert Watterhouse, suami Gertrude juga akrab dengan Richard. Gertrude menyebut Kitty sebagai sosok yang ‘terlalu banyak berpikir tapi terlalu sedikit berdoa’. Gertrude seorang protestan taat yang sangat mengagungkan kepemimpinan Ratu Victoria, sementara Kitty berjiwa pemberontak dan cepat mengadopsi nilai-nilai modern.

Kitty yang selalu gelisah dan rajin membaca berbagai buku —kebiasaan yang tidak terlalu umum dilakukan perempuan jaman itu —kemudian menemukan makna hidup dalam gerakan suffragette melalui perkenalannya dengan seorang aktivis perempuan, Caroline Black. Sesuatu yang sangat dibenci Richard, namun terlambat disadarinya. Kitty semakin total dalam gerakan. Ia terjun langsung dalam aksi-aksi demonstrasi sampai sempat dipenjarakan selama 3 bulan bersama para aktivis perempuan lain. Betapa saat itu di Inggris, menuntut hak pilih bagi perempuan dianggap sebagai dosa besar!

Di penjara, para aktivis perempuan ini disuruh merajut kaus kaki yang tidak akan mereka pakai sendiri namun diberikan kepada narapidana laki-laki. Bacaan yang ditinggalkan di sel adalah alkitab dan buku berjudul A healty home and how to keep it. Intinya mereka berusaha di’sadar’kan dan di’normalisasi’, hendak dikembalikan kepada peran-peran domestik.

Dalam novel ini, tokoh-tokoh utama dan pembantu berbicara atas nama mereka sendiri. Sekitar 8 tokoh bercerita berganti-ganti meski dengan porsi yang tidak sama besar dan 2 tokoh yang diberi kesempatan berbicara hanya sekali dua kali. Perwatakan para tokoh sedapat mungkin diupayakan terjaga oleh penulis melalui pilihan-pilihan diksi dan focus of interest yang khas dari masing-masing individu ketika sedang menjadi pencerita. Meskipun demikian alur cerita berjalan teratur dan tidak melompat-lompat ataupun maju mundur. Banyaknya tokoh yang bercerita tak lantas membuat novel ini jadi memusingkan dibaca.

Sebuah novel yang cukup menarik menurut saya. Khas perempuan,dalam pengertian menghadirkan pergulatan perempuan untuk menemukan apa yang terpenting bagi dirinya. Kitty Coleman misalnya yang selalu merasakan putrinya sebagai beban baginya. Bukan karena tak mencintai Maude tapi karena selalu menyimpan ketidakpuasannya akan peran-peran domestik yang saat itu merupakan satu-satunya pilihan bagi perempuan. Ia pun kecewa pada suaminya yang dianggap berpikiran sebagaimana orang umum. Sementara Edith Coleman, Ibu mertua Kitty yang sudah lanjut usia, gelisah dengan pergeseran nilai yang dianggapnya semakin liar dan resah dengan Kitty yang dianggapnya tak bisa membahagiakan anaknya. Sementara Maude dan Lavinia menjalani proses pertumbuhan sebagai anak perempuan di tengah jaman yang pesat berubah.

Penulis dengan cantik mencerminkan realitas sosial masyarakat yang makro dalam konteks keluarga dan relasi pribadi serta perilaku keseharian yang sekilas remeh temeh. Satu lagi, entah karena memang gaya penulis yang demikian atau menyesuaikan kondisi masyarakat Inggris pada jaman itu yang masih amat menjaga nilai-nilai kesantunan dan ketabuan dalam berbagai hal, novel ini mengungkapkan hal-hal seperti hubungan seks dengan cara yang tidak vulgar


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help