
Ah, itu hanya kegenitan para penulis terancam yang ingin lahannya tetap ekslusif, protes Anda. Atau mungkin itu curahan hatimu sendiri ya, cuma malu berkata jujur, sergah teman Anda nimbrung. Sudahlah itu tidak terlalu penting, sahut saya.
Begini, teman saya penulis novel yang sedang vakum baru-baru ini mendapat tawaran sebagai co-writer. The first writer atau penulis utamanya adalah seorang selebriti, sebut saja seorang penyanyi terkenal. Setelah usia karir cukup panjang dan ketenaran di tangan, ia berpikir untuk menerbitkan buku perjalanan hidupnya sebagai seorang penyanyi.
Buku ini diharapkan menjadi panduan karir untuk menjadi seorang penyanyi profesional. Tahu sendiri kan, dunia nyanyi tak pernah surut. Apalagi dengan berbagai kontes idola yang digelar televisi swasta. Penyanyi masih jadi aktor penting di dunia show biz. Karir impian ratusan ribu belia Indonesia karena menjanjikan ketenaran dan duit berlimpah. Jika ada sebuah panduan yang bisa membantu mencapai mimpi itu, hampir bisa dipastikan akan laris manis pula. Si Penyanyi tak butuh uang, ia hanya ingin dikenang sebagai sosok yang menginspirasi generasi penyanyi masa depan. Begitu besar hasrat si Penyanyi menerbitkan buku, tapi ia membutuhkan bantuan teknis dari orang yang terbiasa menulis.
Royalti penjualan buku akan dibagi dua dengan besaran sama. Teman saya setuju saja, toh dia bertindak sebagai co-writer. Lalu dimulailah proses penulisan.
“Saya nggak bisa nulis deh pokoknya,” kata si Penyanyi.
Teman saya berpikir, kenapa mau menulis buku kalau memang nggak bisa menulis? Ah tapi sudahlah, pikirnya. Mungkin si Penyanyi bermaksud rendah hati. Lagipula memang keahlian saya menulis, dan dia bernyanyi . Jadi sayalah yang mesti membantu prosesnya.
Kemudian si Penyanyi bercerita panjang pendek. Mulai dari pertama kali ikut kontes nyanyi sampai istilah-istilah vokal yang temen saya nggak mudeng – yang dia kenali hanya pitch control yang sering disebut-sebut Trie Utami sang juri Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Dia berusaha untuk menyerap saja semuanya terlebih dahulu.
“Aduh apalagi ya, “kata si Penyanyi. “Yah pokoknya, ketika kamu menyanyi itu jangan dikira kamu menyanyi untuk diri sendiri ya, kamu menyanyi itu untuk publik. Gaya juga jangan over, bla..bla..bla. Tapi memang dunia ini sungguh penuh persaingan,bla bla bla,” omongannya berlanjut kian ngalor ngidul lagi..
Ujung-ujungnya teman saya bingung. Dia pikir, meskipun si Penyanyi ini mengaku tidak bisa menulis, ia setidaknya sudah tahu persis apa yang ingin disampaikannya. Ia memang memiliki pengalaman panjang di dunia vokal. Tapi pengalaman saja tanpa pengelolaan khusus akan sulit dijadikan pelajaran bagi orang lain, apalagi dalam bentuk tertulis seperti buku.
Yang terjadi, si Penyanyi ternyata sama sekali belum menstrukturisasi cara berpikirnya. Ia hanya bercerita tentang apa saja yang terlintas di kepalanya. Setelah pertemuan ketiga dengan durasi masing-masing 2 jam, teman saya itu datang dengan muka putus asa.
“Habis pertemuan pertama, saya sudah pasrah kalau mesti saya yang nulis semua.Tapi sekarang saya bahkan nggak ngerti, ini orang maunya saya nulis panduan karir, biografi, persaingan para penyanyi atau apa sih? Anglenya apa aja dia belum pilih kok. Maunya semua ada. Gimana sih?” keluhnya penuh gundah nan kisruh.
Bagi Anda yang suka chatting via internet dengan Yahoo! Messanger (YM), bayangkan wajahnya sebagai emoticon yang ini : bulatan kuning berekspresi gusar yang menjambak-jambaki rambut dengan kedua tangannya sampai rontok. Anda yang tidak ber-YM bisa mengeceknya setelah membaca tulisan ini. Kode yang bisa menghasilkan gambar itu di ruang chat YM adalah ~x(
Alih-alih menjadi co-writer yang artinya penulis pendukung, teman saya sebetulnya melakukan semua tugas penulisan. Secara umum, menulis adalah proses sistemasisasi pikiran (terdapat di dalamnya pengetahuan, gagasan, pengalaman) agar dapat dipahami dan sedapat mungkin dipercaya oleh pembacanya-- saya tidak menghitung mereka yang sengaja membikin orang pusing untuk sekedar dianggap pintar. Merangkai sebuah gagasan membutuhkan keahlian, dan jangan lupa, kesabaran tersendiri. Sementara membuat publik --dari berbagai kalangan usia, pendidikan dan latar belakang—untuk dapat memahami tulisan kita, sama sekali bukan tugas mudah. Inilah kenapa meskipun jargon menulis itu gampang sudah didengungkan sejak 1980-an, tetap saja jumlah penulis ‘beneran’ tak serta merta jadi membludak.
Pola yang persis sama ternyata dialami juga oleh teman saya yang lain. Ia pernah menjadi co-writer buku kisah hidup seorang model ngetop. Nama si Model terpampang besar sebagai penulis utama, sementara yang dilakukannya selama proses penulisan hanyalah curhat, curhat, curhat.
Teman saya yang lain lagi (maaf pembaca, ini terkait kode etik merahasiakan identitas narasumber) sedang menjadi co-writer untuk buku panduan karir seorang presenter handal. Sejauh ini yang terjadi, si Presenter sibuk cuap-cuap dan ia mengerjakan mulai dari kerangka tulisan sampai kata penutup.
Teman-teman saya itu harus mengodifikasi pengalaman panjang karir orang lain yang seluk beluk dunianya sebetulnya asing bagi mereka. Mereka mesti menyerap semua lalu mengerjakan seluruh proses penulisan, dalam waktu singkat. Kemudian mereka disebut co-writer, karena para selebriti ingin nama mereka dikenal sebagai penulis.

Albertheine Endah menulis kisah hidup dan perjalanan karir Krisdayanti (KD) dalam Seribu Satu KD. Ini sebuah buku yang memotret sosok diva Indonesia ini mulai dari tampilan gemerlapnya di panggung sampai sosoknya sebagai istri dan ibu. KD sendiri menolak buku itu disebut biografi, tapi mari kita andaikan saja demikian.
Kalau Krisdayanti menulis, benar-benar menulisnya sendiri, itulah yang dinamakan auto-biografi. Jika Albertheine membantu beberapa bagian, misalnya bab wawancara orang-orang terdekat dan penilaian media massa, dia bertindak sebagai co-writer. Kalau ia menulis seluruh babnya, maka kita tetap menyebut Albertheine sebagai penulis biografi meskipun semua yang ditulisnya adalah pengalaman KD. Sepakat?
Tadinya saya kira itu kategorisasi yang dimengerti semua orang. Saya salah.
Nampaknya kesangatmudahan menerbitkan buku sekarang ini sudah melahirkan mental instan bagi sebagian orang. Berbekal nama besar yang sudah dicapai di bidang lain, mereka ingin juga menorehkan nama di dunia menulis. Di Indonesia memang berlaku hukum, sekali kamu ngetop kamu bisa menjual buku apapun dengan mudah. Kan siapa yang bicara sering lebih penting dari apa yang dikatakan. Apalagi umumnya ngetopnya artis masih lebih mujarab ketimbang penulis.
Tak ada masalah dengan menjamurmya para selebriti yang menerbitkan buku . Mungkin begitu banyak yang iri pada Tamara Geraldine, Rieke Diah Pitaloka dan Happy Salma yang kelihatan keren dengan buku mereka. Sudah ngetop, intelektual pun teruji. Sayang, masih banyak selebriti yang tak mau berproses secara wajar. Mereka tetap saja terjebak pada tradisi lisan yang mengakar, sebuah kebiasaan yang disinyalir menjadikan masyarakat kita begitu sulit memiliki alur pikiran yang sistematis dan tertata. Tapi mereka keukeuh ingin jadi penulis.
Baru-baru ini saya chatting dengan teman saya yang pertama. Alkisah ia berkenalan dengan seorang bintang sinetron yang ingin sekali menulis fiksi “Oh kamu tuh co-writer untuk buku si Penyanyi ya? Kamu bantuin saya juga dong,”kata si Bintang Sinetron antusias.
Kemudian ia bercerita sudah lama memendam banyak ide cerita, tapi saking lamanya, jadi begitu sulit mengembangkan apapun. “Aduh saya pengennya ngomong aja, nanti kamu yang ngetik ya. Nah saya bakal senang banget kalau kamu mendebat gagasan saya dan memperbaikinya. Seneng deh kalau punya teman tukar pikiran,” tulis teman saya menirukan ujaran sang Bintang.
Saya pun tertawa membaca cerita sang teman di bilik YM kami. Nilai dirinya kini turun lagi, dari novelis tak produktif ke co-writer, lantas jadi juru ketik --yang merangkaikan tutur orang lain ke dalam bahasa tulis, mempertajam logikanya, memperbaikinya, yah kira-kira melakukan 90 persen pekerjaan menulis itu sendiri.
Sementara di layar, teman saya mengeluarkan sekaligus lima emoticon yang menjambak-jambak rambutnya sendiri.
Feby Indirani, jurnalis, bisa di-buzz di buku_terbuka@yahoo.com