| |
Pertama kali mendengar Hi-Lo memiliki lini produk Hi-Lo Soleha, saya tidak habis pikir. Memang apa bedanya antara susu soleha dan yang tidak soleha?Lalu apa hubungannya antara minum susu dan menjadi soleha? "Kalau Hi-Lo Soleha minumnya pake Bismillah kali," begitu canda seorang teman. Saya pun penasaran mencari Hi-Lo Soleha di supermarket. Ingin mengecek kandungan susunya. Kemasan Hi-Lo Soleha memasang model perempuan berjilbab (Ya iyalah!). Dan ini dia alasan 'bernuansa' medisnya : susu ini diformulasikan khusus untuk perempuan berbusana muslim agar memenuhi kebutuhan vitamin D. Berdasarkan penelitian tubuh perempuan berbusana muslim ini kekurangan vitamin D karena kurang terpapar sinar matahari. Ternyata ada lagi tambahannya. Pada iklan produknya disebutkan bahwa Rp 500 dari setiap pembelian satu dus susu itu akan diinfakkan secara syariah. Hmm... Yah, namanya saja jualan. Hi-Lo sebagaimana Sunsilk ingin menyasar segmen yang spesifik dan memang cukup gemuk di Indonesia. Tapi mau nggak mau saya jadi bertanya-tanya benarkah penelitian ini sahih?Bukankah sumber vitamin D juga tak hanya dari sinar matahari--> jadi gak ada kaitannya dengan tertutupnya pakaian juga dong. Atau benarkah yang soleha cuma yang berjilbab saja ?Kalau Hi-Lo memang mau melakukan aspek sosial dalam penjualan produk bukannya si Solihun juga harusnya ditawarkan hal yang sama ya? Anyway, saya sih akhirnya memilih Anlene rasa coklat (huauauua iklan deh). Pertama karena susunya lebih kental dan tidak terlalu banyak gula. Kedua, karena saya memang lebih senang dianggap tidak soleha  . Ps : keheranan sejenis terhadap Hi-Lo Soleha saya temukan juga di blog rekan MP-ers http://linasitorus.multiply.com/journal/item/41/SUSU_SOLEHA_aneh_....
 Ah, itu hanya kegenitan para penulis terancam yang ingin lahannya tetap ekslusif, protes Anda. Atau mungkin itu curahan hatimu sendiri ya, cuma malu berkata jujur, sergah teman Anda nimbrung. Sudahlah itu tidak terlalu penting, sahut saya. Begini, teman saya penulis novel yang sedang vakum baru-baru ini mendapat tawaran sebagai co-writer. The first writer atau penulis utamanya adalah seorang selebriti, sebut saja seorang penyanyi terkenal. Setelah usia karir cukup panjang dan ketenaran di tangan, ia berpikir untuk menerbitkan buku perjalanan hidupnya sebagai seorang penyanyi. Buku ini diharapkan menjadi panduan karir untuk menjadi seorang penyanyi profesional. Tahu sendiri kan, dunia nyanyi tak pernah surut. Apalagi dengan berbagai kontes idola yang digelar televisi swasta. Penyanyi masih jadi aktor penting di dunia show biz. Karir impian ratusan ribu belia Indonesia karena menjanjikan ketenaran dan duit berlimpah. Jika ada sebuah panduan yang bisa membantu mencapai mimpi itu, hampir bisa dipastikan akan laris manis pula. Si Penyanyi tak butuh uang, ia hanya ingin dikenang sebagai sosok yang menginspirasi generasi penyanyi masa depan. Begitu besar hasrat si Penyanyi menerbitkan buku, tapi ia membutuhkan bantuan teknis dari orang yang terbiasa menulis. Royalti penjualan buku akan dibagi dua dengan besaran sama. Teman saya setuju saja, toh dia bertindak sebagai co-writer. Lalu dimulailah proses penulisan. “Saya nggak bisa nulis deh pokoknya,” kata si Penyanyi. Teman saya berpikir, kenapa mau menulis buku kalau memang nggak bisa menulis? Ah tapi sudahlah, pikirnya. Mungkin si Penyanyi bermaksud rendah hati. Lagipula memang keahlian saya menulis, dan dia bernyanyi . Jadi sayalah yang mesti membantu prosesnya. Kemudian si Penyanyi bercerita panjang pendek. Mulai dari pertama kali ikut kontes nyanyi sampai istilah-istilah vokal yang temen saya nggak mudeng – yang dia kenali hanya pitch control yang sering disebut-sebut Trie Utami sang juri Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Dia berusaha untuk menyerap saja semuanya terlebih dahulu. “Aduh apalagi ya, “kata si Penyanyi. “Yah pokoknya, ketika kamu menyanyi itu jangan dikira kamu menyanyi untuk diri sendiri ya, kamu menyanyi itu untuk publik. Gaya juga jangan over, bla..bla..bla. Tapi memang dunia ini sungguh penuh persaingan,bla bla bla,” omongannya berlanjut kian ngalor ngidul lagi.. Ujung-ujungnya teman saya bingung. Dia pikir, meskipun si Penyanyi ini mengaku tidak bisa menulis, ia setidaknya sudah tahu persis apa yang ingin disampaikannya. Ia memang memiliki pengalaman panjang di dunia vokal. Tapi pengalaman saja tanpa pengelolaan khusus akan sulit dijadikan pelajaran bagi orang lain, apalagi dalam bentuk tertulis seperti buku. Yang terjadi, si Penyanyi ternyata sama sekali belum menstrukturisasi cara berpikirnya. Ia hanya bercerita tentang apa saja yang terlintas di kepalanya. Setelah pertemuan ketiga dengan durasi masing-masing 2 jam, teman saya itu datang dengan muka putus asa. “Habis pertemuan pertama, saya sudah pasrah kalau mesti saya yang nulis semua.Tapi sekarang saya bahkan nggak ngerti, ini orang maunya saya nulis panduan karir, biografi, persaingan para penyanyi atau apa sih? Anglenya apa aja dia belum pilih kok. Maunya semua ada. Gimana sih?” keluhnya penuh gundah nan kisruh. Bagi Anda yang suka chatting via internet dengan Yahoo! Messanger (YM), bayangkan wajahnya sebagai emoticon yang ini : bulatan kuning berekspresi gusar yang menjambak-jambaki rambut dengan kedua tangannya sampai rontok. Anda yang tidak ber-YM bisa mengeceknya setelah membaca tulisan ini. Kode yang bisa menghasilkan gambar itu di ruang chat YM adalah ~x( Alih-alih menjadi co-writer yang artinya penulis pendukung, teman saya sebetulnya melakukan semua tugas penulisan. Secara umum, menulis adalah proses sistemasisasi pikiran (terdapat di dalamnya pengetahuan, gagasan, pengalaman) agar dapat dipahami dan sedapat mungkin dipercaya oleh pembacanya-- saya tidak menghitung mereka yang sengaja membikin orang pusing untuk sekedar dianggap pintar. Merangkai sebuah gagasan membutuhkan keahlian, dan jangan lupa, kesabaran tersendiri. Sementara membuat publik --dari berbagai kalangan usia, pendidikan dan latar belakang—untuk dapat memahami tulisan kita, sama sekali bukan tugas mudah. Inilah kenapa meskipun jargon menulis itu gampang sudah didengungkan sejak 1980-an, tetap saja jumlah penulis ‘beneran’ tak serta merta jadi membludak. Pola yang persis sama ternyata dialami juga oleh teman saya yang lain. Ia pernah menjadi co-writer buku kisah hidup seorang model ngetop. Nama si Model terpampang besar sebagai penulis utama, sementara yang dilakukannya selama proses penulisan hanyalah curhat, curhat, curhat. Teman saya yang lain lagi (maaf pembaca, ini terkait kode etik merahasiakan identitas narasumber) sedang menjadi co-writer untuk buku panduan karir seorang presenter handal. Sejauh ini yang terjadi, si Presenter sibuk cuap-cuap dan ia mengerjakan mulai dari kerangka tulisan sampai kata penutup. Teman-teman saya itu harus mengodifikasi pengalaman panjang karir orang lain yang seluk beluk dunianya sebetulnya asing bagi mereka. Mereka mesti menyerap semua lalu mengerjakan seluruh proses penulisan, dalam waktu singkat. Kemudian mereka disebut co-writer, karena para selebriti ingin nama mereka dikenal sebagai penulis.  Albertheine Endah menulis kisah hidup dan perjalanan karir Krisdayanti (KD) dalam Seribu Satu KD. Ini sebuah buku yang memotret sosok diva Indonesia ini mulai dari tampilan gemerlapnya di panggung sampai sosoknya sebagai istri dan ibu. KD sendiri menolak buku itu disebut biografi, tapi mari kita andaikan saja demikian. Kalau Krisdayanti menulis, benar-benar menulisnya sendiri, itulah yang dinamakan auto-biografi. Jika Albertheine membantu beberapa bagian, misalnya bab wawancara orang-orang terdekat dan penilaian media massa, dia bertindak sebagai co-writer. Kalau ia menulis seluruh babnya, maka kita tetap menyebut Albertheine sebagai penulis biografi meskipun semua yang ditulisnya adalah pengalaman KD. Sepakat? Tadinya saya kira itu kategorisasi yang dimengerti semua orang. Saya salah. Nampaknya kesangatmudahan menerbitkan buku sekarang ini sudah melahirkan mental instan bagi sebagian orang. Berbekal nama besar yang sudah dicapai di bidang lain, mereka ingin juga menorehkan nama di dunia menulis. Di Indonesia memang berlaku hukum, sekali kamu ngetop kamu bisa menjual buku apapun dengan mudah. Kan siapa yang bicara sering lebih penting dari apa yang dikatakan. Apalagi umumnya ngetopnya artis masih lebih mujarab ketimbang penulis. Tak ada masalah dengan menjamurmya para selebriti yang menerbitkan buku . Mungkin begitu banyak yang iri pada Tamara Geraldine, Rieke Diah Pitaloka dan Happy Salma yang kelihatan keren dengan buku mereka. Sudah ngetop, intelektual pun teruji. Sayang, masih banyak selebriti yang tak mau berproses secara wajar. Mereka tetap saja terjebak pada tradisi lisan yang mengakar, sebuah kebiasaan yang disinyalir menjadikan masyarakat kita begitu sulit memiliki alur pikiran yang sistematis dan tertata. Tapi mereka keukeuh ingin jadi penulis. Baru-baru ini saya chatting dengan teman saya yang pertama. Alkisah ia berkenalan dengan seorang bintang sinetron yang ingin sekali menulis fiksi “Oh kamu tuh co-writer untuk buku si Penyanyi ya? Kamu bantuin saya juga dong,”kata si Bintang Sinetron antusias. Kemudian ia bercerita sudah lama memendam banyak ide cerita, tapi saking lamanya, jadi begitu sulit mengembangkan apapun. “Aduh saya pengennya ngomong aja, nanti kamu yang ngetik ya. Nah saya bakal senang banget kalau kamu mendebat gagasan saya dan memperbaikinya. Seneng deh kalau punya teman tukar pikiran,” tulis teman saya menirukan ujaran sang Bintang. Saya pun tertawa membaca cerita sang teman di bilik YM kami. Nilai dirinya kini turun lagi, dari novelis tak produktif ke co-writer, lantas jadi juru ketik --yang merangkaikan tutur orang lain ke dalam bahasa tulis, mempertajam logikanya, memperbaikinya, yah kira-kira melakukan 90 persen pekerjaan menulis itu sendiri. Sementara di layar, teman saya mengeluarkan sekaligus lima emoticon yang menjambak-jambak rambutnya sendiri. Feby Indirani, jurnalis, bisa di-buzz di buku_terbuka@yahoo.com
Kata yang masih 'hip' sejak jelang pergantian tahun sampai awal-awal tahun begini : RESOLUSI. Mereka yang pesimis akan mencibir dalam hatinya, ah resolusi dibuat untuk dilanggar. Mereka yang optimis tetap keukeh membuat resolusi, meskipun belum lagi memasuki bulan kedua seringnya mereka mulai lupa dengan janji-janji yang ingin ditaati. Jadi, masihkah ada gunanya membuat resolusi? Karena saya adalah orang yang berada di antara ruang-ruang itu, optimis dan pesimis, dan kebetulan saya lumayan keras kepala (menurut orang-orang dan mantan-mantan :p) maka saya berkesimpulan : MASIH. Hanya saja, kita tidak bisa mengharapkan hasil yang berbeda selama kita mengerjakannya dengan cara yang sama. Maka, berani menelisik akar kegagalan, jujur mengakui keberhasilan sekecil apapun, dan lakukan dengan cara yang berbeda--yang lebih baik tentunya. Akhir itu belum tiba, Kawan. Dan mengenang hanya untuk orang lanjut usia. Jadi, apa resolusimu tahun ini? resolusi saya, sederhana : Belajar pasrah dan bersyukur. ps: sebab kepasrahan kepada Tuhan adalah satu-satunya sumber kekuatan bagi saya hari ini.
(itulah yang berusaha kubangkitkan saat ini, yang sedang kurang produktif dan banyak berkeluh kesah. November tahun ini, film kisah hidupnya akan dirilis--semoga kita bisa menikmatinya di JIFFEST 2007. Film ini berjudul sama dengan buku yang ditulisnya dengan hanya menggunakan kedipan mata--yah, kedipan mata. ) --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Kupu-Kupu di Kepala Bauby Bayangkan hal seperti ini terjadi pada Anda. Suatu pagi Anda terjaga dari tidur. Entah apa yang membangunkan Anda. Mungkin kicau burung atau belaian sinar matahari pagi dari kisi jendela. Atau juga kerongkongan kering yang menuntut aliran air. Anda ingin bergegas bangkit. Mengambil minum, kemudian membuka jendela dan menyapa riang burung yang sudah bernyanyi untuk Anda. Ternyata Anda tak bisa bergerak. Otak memerintahkan tubuh Anda dengan berbagai cara. Tapi tubuh Anda hanya terkulai tak berdaya. Itulah yang dialami Jean-Dominique Bauby, pemimpin redaksi sebuah majalah fashion kenamaan di Prancis, Elle. Setelah koma 20 hari akibat serangan stroke pada 8 Desember 1995, ia sadar secara bertahap sampai pada akhir Januari 1996 bisa sadar sepenuhnya. Pikirannya jernih, ia mampu menyerap sekelilingnya, namun sekujur tubuhnya nyaris lumpuh total. Locked-in-Syndrom, demikian nama penyakit langka ini. Stroke telah merusak batang otaknya. Praktis seluruh hidupnya mulai dari bernapas, makan, buang air tergantung pada berbagai peralatan dan pertolongan orang lain. Tak ada gerak kehidupan yang tersisa padanya, kecuali satu: mata kiri yang bisa mengedip. Maka dengan cara itulah ia berhubungan dengan orang-orang di sekelilingnya. Misalnya, satu kedipan untuk iya, dua kedipan untuk tidak. Namun dengan cara berkomunikasi yang sangat terbatas ini, Bauby berhasil menulis buku memoarnya Le Scaphandre et le Papillon (The Diving Bell and Butterfly) setebal 130 halaman. Ia mengedip untuk huruf yang diejakan oleh Claude Mendibil, seorang editor lepas yang ditunjuk Robert Laffont, penerbit yang sudah memiliki kontrak buku dengan Bauby sebelum ia sakit. Cerdiknya, urutan huruf ini tidak sekedar alfabetikal. Susunannya dibuat cermat sesuai dengan frekuensi huruf itu muncul pada kata-kata dalam bahasa Prancis. ''E S A R I N T U L O M D P C F B V H G J Q Z Y X K W..” Mendibil akan melafalkan huruf-huruf dengan urutan tersebut dan jika sesuai dengan yang dimaksudkan Bauby, Bauby akan mengedip. Bisa dibayangkan betapa lambat dan menyakitkan perjuangan Bauby untuk merangkai satu kalimat saja. Dalam kepalanya ia mengulang-ngulang setiap kalimat 10 kali, menghapus kata, menambah kata sifat, mempelajari baris demi baris dengan hatinya. Merangkai paragraf demi paragraf. Bauby mengisahkan pengalamannya menghadapi takdir dan ketakberdayaan yang memaksanya memulai hidup baru dalam kondisi segala sesuatunya berubah secara radikal, ke arah yang buruk. “Di masa lalu hal seperti ini dikenal dengan stroke parah dan kau mati, begitu saja. Tapi teknik resusitasi yang kian maju telah memperpanjang dan memperindah penderitaan ini,” tuturnya. Yang membuatnya lebih menderita, meski seluruh anggota tubuhnya tak berguna ia masih bisa merasakan kesakitan. “Lututku nyeri, kepalaku berat sekali, dan sesuatu seperti kepompong raksasa membekap sekujur tubuhku. Kedua tanganku yang tergeletak lemas di atas seprai kuning ini terasa sakit meskipun aku tak bisa mengatakan apakah sakitnya itu seperti terbakar atau terbekukan.” Meskipun didera rasa sakit Bauby tetap mempertahankan selera pakaiannya yang tinggi. Bagaimanapun, ia eks pemimpin redaksi majalah fashion yang selalu terjaga penampilannya. Bauby menolak menggunakan seragam rumah sakit dan memilih mengenakan cashmere. Bauby mengenang pengalamannya ketika berziarah ke Lourdes bersama kekasihnya. Mereka mendapati antrian sepanjang setengah mil yang dipenuhi orang cacat menunggu keajaiban dari penampakan Bunda Maria. Saat itu Bauby menolak ikut antri. Pacarnya mengingatkan, itu penting untuk pengampunan dosa. Bauby menjawab, “Ah tidak masalah. Bisa-bisa malah lebih berbahaya. Bagaimana kalau seorang yang sangat sehat ikut mengantri, lalu Bunda Maria betul-betul muncul? Jangan-jangan dengan satu keajaiban, si sehat tadi malah jadi lumpuh!” Bertahun-tahun kemudian, ia menjadi yang paling tak berdaya dari semua orang cacat yang dilihatnya di Lourdes. Kupu-Kupu Imajinasi Dari kamar 119 rumah sakit Naval, Berck-sur-Mer sebelah utara Normandy, Prancis Bauby meresapi detik demi detik babak baru kehidupannya. Ia merasakan dirinya yang beranjak menjauh dari kehidupan. Perlahan tapi pasti. Seperti pelaut yang memulai perjalanannya, meninggalkan pantai yang perlahan-lahan lenyap di belakangnya, Bauby merasakan kehidupan masa lalunya semakin mengabur. Bauby pun belajar mengkhidmati kesunyian. Mulutnya yang terkunci menjadikannya lebih intens berkomunikasi dengan suara batinnya. Ketika kesunyian hadir, tulisnya, aku bisa mendengarkan kupu-kupu berputar di dalam kepalaku. Aku harus tenang dan memfokuskan perhatian agar kepakan sayap mereka bisa terdengar. Bernafas terlalu keras saja bisa melenyapkan mereka. Ini mengagumkan: pendengaranku tak bertambah pulih, tapi aku bisa mendengar mereka semakin baik dan semakin baik lagi. Aku pastinya memiliki pendengaran kupu-kupu. Tubuhnya memang seperti terperangkap dalam baju selam yang ketat, namun imajinasinya bergerak liar melintasi ruang waktu seperti kupu-kupu. Misalnya karena Naval dibangun atas prakarsa istri ketiga Napoleon, Ratu Eugénie tahun 1869, Bauby pun mengkhayalkan sang Ratu datang membesuknya. “Canda riangku awalnya mengherankan Eugénie, sampai ia tertular oleh kegembiraanku. Kami tertawa hingga keluar air mata. Pengiring musik dari kerajaan memainkan lagu waltz dan saking bahagianya aku bisa bangkit dan mengajak Eugénie berdansa,” tulis Bauby. Ia senang makan enak dan gemar memasak. Tak lama sebelum terserang stroke Bauby memulai dietnya. Ia tak pernah menyangka akan kehilangan 33 kg dalam 20 minggu. Meskipun hanya memperoleh makanan melalui selang, ingatan dan imajinasi tentang aktivitas makan, bahkan memasak, masih menjadi hal yang menyenangkan bagi Bauby. Dia menceritakan proses membuat saus favoritnya atau kenangannya tentang aroma kentang goreng dari warung-warung di sepanjang pantai yang pernah dilewatinya. Sebelum terserang stroke, Bauby juga sempat membaca ulang The Count of Monte Cristo. Noirtier de Villefort, salah satu karakter dalam buku ini, adalah tokoh pertama dalam sastra yang menderita locked in syndrome. Bauby berpikir untuk mengubah cerita si tokoh. Setengah bercanda, Bauby menduga penghinaannya terhadap novel legendaris itu menyebabkannya kualat dan membawanya kepada kondisi yang sama dengan si tokoh. “Untuk menggagalkan suratan takdir, aku merencanakan versi baru hikayat itu. Tokohnya bukan orang lumpuh, tapi pelari. Siapa tahu? Mungkin saja jadi kenyataan.” Bukunya penuh humor, cerdas, dan bebas dari kesan mengasihani diri. Mendibil yang mencatat kata-kata Bauby selama berbulan-bulan menuturkan pengalamannya. “Sebelum kedatanganku, Bauby sudah merancang semuanya di kepala. Lalu mengasahnya di hati. Setelah itu, ia mendiktekannya kepadaku. Semua berasal dari dia, tak ada yang ditambah-tambah,” kata Mendibil. Resminya mereka bekerja tiga jam sehari. Tapi Mendibil lebih lama tinggal untuk menemani Bauby. “Karena dia teman yang menyenangkan. Kurang ajar, lucu, dan berpengetahuan luas. Aku tidak pernah mendengarnya mengeluh." Meskipun demikian, buku ini bukan tak mengandung kesedihan sama sekali. Bauby, misalnya, dengan getir menceritakan kekagetannya melihat wajahnya yang lumpuh. “Pada kaca jendela, aku melihat kepala seorang pria yang seperti baru keluar dari tong formaldehida. Mulutnya mencong, hidungnya penyok, rambutnya kusut, ekspresinya penuh ketakutan. Satu matanya tertutup rapat, sedangkan mata sebelahnya melotot seperti mata malaikat penjemput maut. Sesaat aku menatap pupil yang membesar itu sebelum aku menyadari, hanya itulah satu-satunya milikku.” Ia pun menceritakan kesedihan ketika anak-anaknya Théophile and Céleste datang menjenguk atau saat mendengarkan suara ayahnya di telepon, tanpa bisa membalas sapanya. Pada satu bagian dari bukunya, Bauby bercerita soal Hari Ayah. “Hari ini adalah Hari Ayah. Sebelum stroke, kami tak pernah merasa perlu memasukkan perayaan ini ke dalam kalender emosi kami. Namun hari ini kami menghabiskan sepanjang hari simbolis ini bersama-sama untuk memastikan bahwa meskipun aku hanya seperti setengah manusia, bayangan atau seonggok daging, aku tetaplah ayah mereka.” Pada penutup bukunya, Bauby menulis: Adakah semesta memiliki kunci untuk membuka penjaraku? Sebuah jalur tanpa perhentian? Apakah nilai tukar mata uang cukup kuat untuk membeli kebebasanku kembali? Kita masih harus mencari. Kini, aku akan berhenti menulis. Buku itu selesai ditulis dalam dua bulan. Pada 9 Maret 1997 Bauby wafat akibat gagal jantung. Ini hanya berjarak dua hari setelah bukunya terbit, tapi ia sempat mengetahui bukunya terjual 186 ribu eksemplar pada hari pertama penjualan. Akhirnya, Bauby memperoleh kebebasan sejatinya setelah berhasil membuktikan: tak ada penjara yang bisa memasung pikirannya (Ruang Baca Tempo, edisi 3 Jauari 2007)
(Tiba-tiba malam ini, aku teringat Oriana Fallaci, semangatnya, kekritisan dan sikap nyinyirnya. Hm, Oriana tulari aku api jiwamu...) Hidup Abadi Lewat Kata Aku menulis buku, agar saat aku mati ada bagian diriku yang tetap hidup. Begitu ucap Oriana Fallaci, penulis dan jurnalis terkenal dari Italia. Dan harapan itu niscaya akan terwujud segera setelah kanker payudara, yang menggerogotinya bertahun-tahun, memenangkan pertarungan atas dirinya, 15 September lalu. Memulai karier jurnalistik di usia 16 tahun, Fallaci dikenal sebagai wartawan perang. Delapan tahun dari usianya ia habiskan untuk meliput Perang Vietnam. Hasilnya adalah sebuah buku Nothing, dan So Be It (1969), yang hingga kini masih terjual laris. Fallaci juga terjun meliputi konflik di Mexico, dan sempat cedera karenanya, lalu menjadi koresponden untuk meliput Perang Irak-Kuwait di usia 61. Fallaci juga terkenal sebagai political interviewer yang kontroversial. Saat mewawancara para pemimpin dunia, ia kerap berlaku bak interogator yang tak kenal ampun. Ia mengajak Kissinger berdebat tentang perang Vietnam. Ia membuka cadarnya di depan Khomeini, padahal itulah syarat jika ia ingin bertemu dengan pemimpin Iran itu. Gaya Fallaci itu mengundang kontroversi di dunia jurnalistik. Sementara mayoritas jurnalis percaya bahwa kerjakerja kewartawanan mesti dilakukan secara obyektif dan netral, ia malah mengedepankan subyektivitas dan keberpihakan. Secara detail ia menggambarkan penampilan narasumber. Bahkan, aroma yang dihirupnya selama wawancara berlangsung. Ia “melukis” wajah Arafat dengan diksi yang cenderung dramatis: ia hampir tak memiliki pipi atau dahi, wajahnya bisa terangkum oleh mulutnya yang amat lebar dengan bibir merah penuh, hidung yang agresif, dan dua mata yang menghipnotis. Caranya menulis mengingatkan kita pada cara bertutur dalam fiksi. Tak banyak yang mengetahui, meski profesi jurnalis yang melambungkan namanya, Fallaci sebetulnya ingin lebih dikenal sebagai penulis —novelis, kalau mau disebut lebih spesifik. Ia mengaku berutang banyak pada dunia jurnalistik yang memberinya petualangan, pengetahuan, dan pengalaman. Tapi yang terpenting baginya menjadi jurnalis memberinya latihan menulis. Kepada David Lajolo (Corriere della Sera, 1979), Fallaci pernah bertutur betapa sulitnya menulis novel. Merancang cerita dan kompleksitas dalam novel, menurut dia, menyedot banyak energi karena membangun ulang realitas. “Menulis itu adalah siksaan yang mendekati perilaku masokhisme,” katanya sambil menambahkan, “Menulis dengan baik, maksudku.” Bagi Fallaci, kunci keberhasilannya adalah ˜menulis ulang, menulis ulang dan menulis ulang lagi.˜ Fallaci seorang penulis yang sangat disiplin. Ia tidak pernah menunggu mood dan bekerja tak ubahnya seperti buruh pabrik. Terus mengetik dengan mesin tik Olivetti, benda yang setia menemaninya di Vietnam. Fallaci tak pernah mau menggunakan komputer. “Kalau aku tidak mendengar suara tak-tik-tuk itu, kata-kata seperti tak mau keluar dari otakku,” ujarnya. Ia tak pernah mengganti mesin tik itu sampai akhir hayatnya. Fallaci menulis beberapa novel yang kebanyakan bersumber dari pengalamannya sebagai wartawan perang dan sebagai perempuan. Novelnya Penelope at War (1966) bertutur tentang perempuan muda yang mendedikasikan diri pada karier sebagai jurnalis dan menolak kekasihnya yang mengajak menikah. Fallaci memang tak pernah menikah. Hubungan percintaannya yang paling berpengaruh adalah dengan Alekos Panagoulis, penyair dan aktivis politik Yunani. Pada 1967 Panagoulis melakukan percobaan pembunuhan terhadap diktaktor beraliran fasis Georgios Papadopoulus dengan menanam bom di jalan-jalan yang dilewatinya setiap hari. Rencana tersebut gagal dan Panagoulis dipenjara. Selama lima tahun Panagoulis mengalami siksaan hebat secara fisik dan psikologis. Meski demikian ia menolak memohon ampun dan kerap berusaha melarikan diri. Akhirnya ia disekap dalam sel khusus berukuran sempit, tanpa jendela. Tahun 1973 ia dibebaskan oleh kebijakan amnesti dari pemerintah. Dua hari setelah pembebasannya, Panagoulis menerima Fallaci untuk wawancara. Berhadapan dengan lelaki berhidung bangir dan bermata teduh itu, Fallaci yang terkenal tangkas mencecar nara sumber lantas jatuh hati. Percintaan mereka riuh gelombang. Panagoulis adalah pria berkepribadian sulit. Tangguh, memukau, sekaligus pemarah dan sering meledak-ledak. Itulah satu paket yang mesti diterima Fallaci. “Aku memang tak menginginkan perempuan untuk bersenang-senang,” ucap Fallaci menirukan perkataan Panagoulis kepadanya. “Dunia ini terlalu penuh dengan perempuan semacam itu. Aku membutuhkan pasangan. Orang yang bisa kujadikan teman, saudara, sejawat. Aku ini pejuang. Dan akan selamanya begitu.” Selama tiga tahun, badai tak pernah sepi dari relasi Fallaci- Panagoulis. Tak ada ketenangan, apalagi masa depan. Yang ada hanya gejolak tak berkesudahan. Namun Fallaci mencintai lelaki itu. Teramat. Mungkin karena setiap saat bersamanya adalah tantangan, sesuatu yang serupa udara bagi Fallaci. Selain Panagoulis, Fallaci tak pernah terlibat relasi serius lagi. Ia pun bukan tipikal orang yang mudah memuaskan hasrat seksualnya terhadap “siapa saja”. “Saya tak menganggap seks menjijikkan, tapi banal. Seks tanpa perasaan itu membosankan. Tidak lebih dari kegiatan olahraga yang melelahkan,” ujarnya ketika diwawancara oleh Guido Gerosa dari Playboy (1976). Hubungan mereka sempat menumbuhkan benih di rahim Fallaci yang hanya bertahan tiga bulan. Pengalaman ini mengilhami Fallaci untuk menulis Letter to a Child Never Born (1975). Ia menulis novel itu dari perspektif perempuan lajang yang hamil di luar nikah. Perempuan itu tak mencintai pacarnya, juga tak berharap lelaki itu menikahinya untuk kepentingan si bayi. Pacarnya menyarankan aborsi, pilihan yang illegal saat itu. Menjadi ibu tunggal jelas tak mudah, terlebih dengan stigma negatif yang melekat. Setiap perempuan bisa membayangkan betapa sulit pilihan ini: membunuh kehidupan yang bertunas pada saat kita sebetulnya memiliki segenap perangkat dan kapasitas alamiah untuk merawatnya. Maria Elena Raymond, dalam esainya Feminist Writers, menyebut Letter to a Child Never Born sebagai karya feminis terbaik yang bicara tentang kehamilan, aborsi, dan kepedihan. Namun Milan Daily menulis ulasan dan mengawalinya dengan tiga kata: Buruk, buruk, buruk. Pada Mei 1976, Panagoulis tewas tertabrak mobil. Fallaci amat berduka dengan kejadian ini. Apa lagi saat itu hubungan mereka sedang renggang. Meski sulit dibuktikan, Fallaci meyakini itu adalah pembunuhan yang direkayasa sehingga tampak jadi kecelakaan lalu lintas biasa. Fallaci terbenam dalam kesedihan selama beberapa bulan, untuk kemudian bangkit dan menuangkan kisah hidup kekasihnya itu dalam novel A Man. Novel A Man diterbitkan pada 1979. Fallaci menyebutnya sebagai karyanya yang paling penting. “Ini adalah buku tentang pahlawan yang berjuang sendirian untuk kemerdekaan dan kebenaran. Ia tidak pernah menyerah dan akhirnya mesti terbunuh karenanya.” Sebuah produser Hollywood pernah menawar naskah A Man untuk diangkat menjadi film layar lebar. Fallaci menolak, berapapun bayarannya. “Aku tak pernah menulis untuk uang,” demikian ia menegaskan. Beberapa reviewer menyebut A Man sebagai narasi yang menggugah jiwa. Namun yang mencela pun tak sedikit. Ada yang menganggap A Man tak ubahnya seperti melodrama yang kuno. Christoper Dickey dari Los Angeles Times Book Review mengritik Fallaci yang ⤘kelihatannya sulit menemukan cerita selain pengalamannya sendiri.⤙ Fallaci sendiri tak pernah ambil pusing dengan komentar nyelekit para pengulas. “Aku tidak pernah menghormati mereka. Para pengulas hampir semuanya adalah penulis gagal, yang iri pada mereka yang betul- betul menulis. Aku rasa pengulas yang sejati adalah para pembaca,” kata Fallaci yang menerima surat dari pembacanya di seluruh dunia. Fallaci cenderung hidup mengasingkan diri. Meski demikian dunia tak pernah melupakan namanya. Pembaca bukunya terus bertambah dari waktu ke waktu. Tahun 1992, ia muncul kembali dengan novel Inshaallah. Novel ini berlatarbelakang keterlibatan Italia di Beirut saat terjadi perang saudara. Sebagaimana novel-novel sebelumnya Inshaallah berkisah tentang relasi kekuasaan tapi dari perspektif kaum tertindas. Inshaallah yang merupakan novel terakhirnya mendapat penilaian positif dari media dan dipandang sebagai monumen dari bakat dan semangatnya. Di beberapa negara Eropa dan Amerika diskusi novel Inshaallah banyak digelar, dan ini menjadi kali terakhir Fallaci mau gencar memromosikan karyanya. Suatu ketika Fallaci pernah mengatakan ia tidak pernah berambisi mengejar ketenaran. Bagi Fallaci, yang terpenting dari menjadi seorang penulis adalah meninggalkan warisan. Bahwa saat tubuhnya sirna, kata- katanya hidup. Abadi. Ruang Baca Edisi 24 September 2006
Seperti apakah wajah cinta ?Tanyamu berhembus untuk ke seratus dua puluh tiga kalinya. Sembari hatimu kau biarkan. Beku dalam kelu. Itu seperti kau mencari merah dengan mata tertutup. Tunjukkan padaku, serumu. Kusayatkan jariku di atas jarimu. ‘Ini merah’. Tapi kau hanya terpejam. Lalu bagaimana kau mengetahui rasa manis tanpa menggunakan lidahmu?Carilah pada kamus bahasa dari seluruh dunia, Carilah pada tumpukan diktat, ratusan buku berdebu di perpustakaan atau ensiklopedi dunia paling lengkap. Kujamin, tidak akan ada definisi yang dapat menjelaskan dengan tepat seperti apa rasa manis itu. Manis adalah rasa gula. Kau akan bertanya, lalu seperti apa rasa gula yang katanya manis itu ? Aku akan menjawab serupa dengan rasa madu. Namun kemudian kau akan bertanya lagi seperti apa rasa madu yang serupa dengan gula yang katanya manis itu? Kemudian aku akan mencarikan hal-hal lain yang mempunyai rasa serupa, sampai akhirnya kehabisan kata-kata. Kau hanya bisa mengetahui bagaimana rasa manis dengan meletakkan gula atau madu atau apapun yang orang katakan manis itu tepat di lidahmu sendiri. Ya, hanya itu caranya! Dan bagaimana kau membaui bunga melati dengan hidung yang sengaja kau sumbat? Bertanyalah. Pada semua tukang bunga, ahli botani atau para pengantin berbahagia yang mengenakan rangkaian melati pada kepalanya. Harum, jawab mereka. Seperti apa, tanyamu. Seperti mawarkah? Mereka akan menggeleng, tidak, mawar terlalu menyengat. Ataukah seperti sedap malam, tanyamu lagi. Lebih mendekati, tapi ah tidak seperti itu. Kemudian kau akan mulai membacakan daftar panjang nama-nama bunga untuk mendapatkan bagaimanakah harumnya melati. Jawaban paling baik yang mungkin diperoleh kira-kira seperti ini : tidak apek seperti edelweis, tidak menyengat seperti mawar, tidak berbau busuk seperti bunga bangkai, semerbak seperti sedap malam di malam hari tapi tidak tepat juga seperti itu. Jadi, katamu menggerutu, bagaimana aroma melati? Dekatkan setangkai melati pada hidungmu, ya seperti itu. Hirup dalam-dalam dan biarkan memenuhi rongga paru-parumu. Ya itulah harumnya. Maka Sayangku, ketika kau minta aku untuk menggambarkan bagaimana rupa cinta, aku hantarkan padamu sesuatu yang sudah ku letakkan pada lidahku, pada hidungku, pada mataku, kulitku, pada seluruh inderaku (dan jangan pernah percaya kita hanya punya lima alat indera) Bukan! Jangan hanya gunakan lidahmu sembari menutup matamu..Jangan bekap hidungmu ketika kau mengecap. Gunakan semua inderamu pada saat yang bersamaan.. Itulah cinta.
Seperti apakah wajah cinta ?Tanyamu berhembus untuk ke seratus dua puluh tiga kalinya. Sembari hatimu kau biarkan. Beku dalam kelu. Itu seperti kau mencari merah dengan mata tertutup. Tunjukkan padaku, serumu. Kusayatkan jariku di atas jarimu. ‘Ini merah’. Tapi kau hanya terpejam. Lalu bagaimana kau mengetahui rasa manis tanpa menggunakan lidahmu?Carilah pada kamus bahasa dari seluruh dunia, Carilah pada tumpukan diktat, ratusan buku berdebu di perpustakaan atau ensiklopedi dunia paling lengkap. Kujamin, tidak akan ada definisi yang dapat menjelaskan dengan tepat seperti apa rasa manis itu. Manis adalah rasa gula. Kau akan bertanya, lalu seperti apa rasa gula yang katanya manis itu ? Aku akan menjawab serupa dengan rasa madu. Namun kemudian kau akan bertanya lagi seperti apa rasa madu yang serupa dengan gula yang katanya manis itu? Kemudian aku akan mencarikan hal-hal lain yang mempunyai rasa serupa, sampai akhirnya kehabisan kata-kata. Kau hanya bisa mengetahui bagaimana rasa manis dengan meletakkan gula atau madu atau apapun yang orang katakan manis itu tepat di lidahmu sendiri. Ya, hanya itu caranya! Dan bagaimana kau membaui bunga melati dengan hidung yang sengaja kau sumbat? Bertanyalah. Pada semua tukang bunga, ahli botani atau para pengantin berbahagia yang mengenakan rangkaian melati pada kepalanya. Harum, jawab mereka. Seperti apa, tanyamu. Seperti mawarkah? Mereka akan menggeleng, tidak, mawar terlalu menyengat. Ataukah seperti sedap malam, tanyamu lagi. Lebih mendekati, tapi ah tidak seperti itu. Kemudian kau akan mulai membacakan daftar panjang nama-nama bunga untuk mendapatkan bagaimanakah harumnya melati. Jawaban paling baik yang mungkin diperoleh kira-kira seperti ini : tidak apek seperti edelweis, tidak menyengat seperti mawar, tidak berbau busuk seperti bunga bangkai, semerbak seperti sedap malam di malam hari tapi tidak tepat juga seperti itu. Jadi, katamu menggerutu, bagaimana aroma melati? Dekatkan setangkai melati pada hidungmu, ya seperti itu. Hirup dalam-dalam dan biarkan memenuhi rongga paru-parumu. Ya itulah harumnya. Maka Sayangku, ketika kau minta aku untuk menggambarkan bagaimana rupa cinta, aku hantarkan padamu sesuatu yang sudah ku letakkan pada lidahku, pada hidungku, pada mataku, kulitku, pada seluruh inderaku (dan jangan pernah percaya kita hanya punya lima alat indera) Bukan! Jangan hanya gunakan lidahmu sembari menutup matamu..Jangan bekap hidungmu ketika kau mengecap. Gunakan semua inderamu pada saat yang bersamaan.. Itulah cinta.
 | Ganggu | Oct 18, '07 1:37 PM for everyone |
Cintaku adalah setumpuk keras kepala yang mengganggu. Mirip daun yang menempel pada alas sepatu ketika menginjak tanah lembab. Daun yang berkeras melekat agar terbawa langkahmu hingga jauh. Aku serupa lalat yang mengusik makan malammu. Penghilang selera makan yang ampuh, ujarmu. Bukankah kau hendak menurunkan bobot? Godaku. Aku memanggangmu serupa matahari tengah hari. Di manapun kau bersembunyi, di balik jaket atau topi, panasku tak mungkin kau dustai. Aku memenuhi kotak suratmu seperti spam yang menjanjikan kaya raya mendadak, mengundang belas kasihan dengan foto anak-anak sakit, atau cara termanjur membesarkan alat vital. Sesuatu yang selalu datang dan menemukan cara terlihai untuk mampir ke sudut kerling matamu. Aku letih, bisikmu. Tawaku mengembang di udara. ‘Aku mencintaimu’.
Dari ranjang gelisah dan bantal basah kujahit saputangan ini. Kujahit tepi-tepinya dengan luka. Bukan. Bukan dengan air mata. Bundaran-bundaran hitam ini tidak ingin lagi menganaksungai. Mereka menyesal membiarkan kau pergi dengan lensa mengabur, seperti kaca depan mobil saat gerimis dengan wiper yang patah. Padahal masih ingin direkamnya jernih-jernih sosokmu dalam neuron-neuron kepala. Sosokmu yang berlalu. Dan ingatkah petang itu (yang masih segar oleh bau tanah yang baru saja berselingkuh dengan hujan), kamu membalikkan punggungmu dan melemparkannya ke mukaku? Punggungmu. Ladang lebar bernoktah-noktah coklat tua yang menyaru kulit. Ladang yang pernah kusapu-sapa dengan hidung, bibir, bulumata, payudara. Mengapa ia jadi sedemikian angkuhnya? Mungkin kita akan bertemu lagi, katamu, jika takdir mempertemukan kita. Takdir? Sejak kapan seorang nietzschean sedemikian lemah pada sejumput takdir? Kau bahkan seharusnya bangkit dan membunuh sang perancang takdir! Takdir hanyalah fatamorgana bagi para pecundang, makiku tanpa suara. Tentu, kau tak mendengarnya. Anak-anak takdir, itukah kita? Dilahirkan tanpa pernah meminta, tidak memilih beribu-bapakkan siapa, bertambah usia, lalu dipertemukan dengan semena-mena tanpa punya kuasa menentukan caranya. Takdirkah yang licik mempertemukan kita, Atau pecundang seperti dirimu yang memperdayakannya ?
Aku, sehelai daun kering yang terperangkap dalam toples.Ku pandangi wajahmu, perempuan pemilik toples yang sedang mengamati diriku. Kau memilih mengabadikanku, setahun yang lalu. Awal jumpa kita sederhana. Ketika angin bertiup, aku terpisah dari induk pohon, terhembus jauh, lalu mendarat di pangkuanmu. Kau sepertinya berpikir, kita dipertemukan oleh takdir. ‘Tak ada yang kebetulan di dunia ini, bahkan sehelai daun yang jatuh pun memiliki makna’ ujarmu. Kau lalu menimang tubuhku yang hijau kekuningan, meletakkannya di samping monitor yang menyala. Hangatnya menyelimuti diriku, tapi melunturkan hijau. Hari demi hari, kau memandangku dengan senyuman kasih sayang. Suatu saat, kau menimang tubuhku yang kini kaku dan kerontang dengan warna coklat sempurna. Sejurus kemudian, aku meluncur ke dalam lantai toples yang dingin. Kau menutupnya rapat, lalu meletakkannya di samping monitor bercahaya. Yang tak kurasakan lagi hangatnya. Kau tersenyum. Aku selalu mencintai daun, katamu.(dan aku menggigil di lantai toples yang dingin) Aku rindu terbaring pada tanah, membusuk dirajang bakteri, terkubur menjadi humus. Sepaket kematian yang manis.Kau tersenyum lagi.
Masih lekat dalam ingatan saya, aroma lem yang mengeras di ujung telunjuk sehabis menempelkan perangko untuk setumpuk kartu. Ritual masa lalu yang kini semakin jarang dilakoni orang. Paling-paling berkirim kartu kini dilakukan untuk kepentingan korporasi. Lebaran kini, kita memang tak lagi mengenal kartu lebaran. Orang merasa lebih praktis mengirim ucapannya via short message service/SMS. Paling banter mengirim email. Kedua hal itu memang murah dan cepat. Selain itu, nah ini dia perbedaan yang juga signifikan : kita bisa mengirimkan satu pesan kepada puluhan orang sekaligus. Bandingkan dengan kartu lebaran yang, meski tak ingin menuliskan pesan di dalamnya pun minimal harus tetap kita tulis nama dan alamatnya dong. Tentu saja, kalau kita mau surat itu tak berakhir di tong sampah kantor pos. Tapi di situlah soalnya. Dengan pertolongan teknologi, tiba-tiba kita menjadi impersonal. Kita tinggal memilih menu 'send to many' di ponsel, dan tersebarlah pesan itu. Hal yang sama juga menghampiri inbox ponsel dan email kita. Puluhan bahkan ratusan ucapan berisi permohonan maaf, salam selamat yang terangkai dalam untaian kalimat yang semua indah. Mungkin hanya satu hal yang terlupa, dimanakah nama kita? Begitulah yang terjadi. Kita mengirim doa-doa indah tanpa nama yang kita tuju. Orang yang kita kirim membalas pula dengan cara yang sama, kalimat-kalimat bijak, juga tanpa nama yang dituju. Kita berkomunikasi tanpa sungguh-sungguh jelas, siapa komunikannya. Itu pun menjawab keluhan banyak orang. Bahwa ucapan 'mohon maaf lahir batin' yang diutarakan saat lebaran (atau jelang puasa) memang tak lebih dari kebiasaan belaka. Sesuatu yang keluar dari bibir, tanpa betul-betul kita cerna di hati dan kepala. Lagipula, minta maaf kepada siapa, wong nama penerimanya juga tidak ada. Memang ada alasan bagi semua itu. Please dong, harus mengucapkan khusus pada seluruh nama di inbox kita, bisa habis semua waktu. Buat apa ada teknologi kalau begitu caranya? Ini kan jaman efisiensi, Mbak! Hm, tapi mungkin kita lupa, dalam berhubungan dengan manusia kita tidak bisa menerapkan 'efisiensi'. Kenapa? Sebab setiap relasi itu khusus. Tidak ada relasi antar manusia yang sama persis di dunia ini. Hubungan A dan B, tidak akan sama dengan relasi A dan C atau relasi C dan B. Meskipun tidak selalu istimewa, percayalah setiap relasi itu unik. Dan karenanya kumpulan nama pada inbox kita itu bukan sekilo sayuran atau satu ton beras, yang bisa diperlakukan dengan satu cara saja. Jadi, jika kita mau menerapkan efisiensi dengan mengirim pesan tanpa nama penerima, apa bedanya dengan mengucapkanya pada karung beras? Selamat lebaran, Karung Beras!
Saya tahu, saya tak selalu berhasil menjadi teman yang baik. Apalagi teman yang tepat. Di mata orang-orang, pasti ada saja saat di mana saya terkesan sok pintar, menggurui, sok paling paham soal hidup dan ekspresi-ekspresi serupa itu. Bagi yang pernah sial mendapati tanggapan sok bijak dari saya dan kini membaca tulisan ini, kebetulan! Saya berniat untuk minta maaf (dan ini bukan colongan dari momentum lebaran). Maafkan saya, atas semua sikap sok tahu atau arogansi saya. Sebetulnya, saya hanya berniat menjadi teman yang baik. Saya kerap lupa bahwa sikap yang baik ternyata tak selamanya, tepat. Saat ini, saya akhirnya tahu seperti apakah baik dan tepat itu. Misalnya, baikkah menanyakan 'apa kabar'? Tentu saja, apa soalnya? Tapi, bagaimana kalau kita menanyakan 'apa kabar' kepada orang yang rumahnya baru sejam yang lalu habis dilanda api? Ada dua pilihan, kita ini buta atau bodoh. Sungguh sangat tak tepat kan? Begitulah kira-kira perbedaan antara 'baik' dan 'tepat' . Sulit memang menjadi manusia, kita berusaha berbuat baik pun ternyata belum cukup. Sesuatu yang baik, tapi ditempatkan pada proporsi keliru bisa jadi malah menimbulkan gesekan. Apalagi jika menyentuh hati yang sedang rawan. Aih. Bicara tentang hati yang rawan, nah ini memang repot. Namanya saja rawan, akan banyak area-area peka yang tidak boleh disentuh. Menemani orang yang sedang berada dalam kondisi ini, sudah bisa dibayangkan lebih rumit. Seperti berjalan di tempat yang banyak ranjaunya. Geser kiri, lubang. Minggir kanan, bom! Itulah sulitnya menjadi teman bagi saya akhir-akhir ini. Duh, kasihan sekali mereka. Saya ini sungguh tak tahu diuntung. Orang-orang sebenarnya sudah berusaha begitu baik sebagai teman . Banyak dari mereka tidak tahan melihat saya, yang biasanya kelihatan cerdas, kuat, malah cenderung satir dengan kemampuan menertawakan hidup yang lumayan, tiba-tiba jadi bodoh, pemurung, cengeng dan kehilangan daya humor. Berbagai macam cara orang menghadapi perilaku saya yang sedang aneh ini. Rata-rata orang 'mendesak' saya untuk mengetahui apa yang saya inginkan. Ada juga seorang sahabat yang dengan keras memaksa saya untuk berhenti sekarang juga (!) dan 'bangun'. Teman yang lain menganjurkan saya nonton Hotel Rwanda, dan memastikan saya akan mensyukuri apapun juga setelah melihat film itu. Ada yang sempat mengatakan dengan sedih, "Love, look what you have done to my friend?". Dalam keadaan sensitif, saya sering mudah tersinggung. Saya bukannya tidak bersyukur! Saya hanya sedang sakit! Saya bersyukur dan saya sakit, bukankah itu berbeda? Menonton Hotel Rwanda? Please, saya tahu film itu begitu sedih dan saya tidak butuh paket duka lainnya. Saya harus tahu apa yang saya mau sekarang? Saya bahkan sudah terlalu sakit untuk berpikir! Dan kalimat 'look what love has done to me' itu membuat saya mirip penderita HIV yang terus menerus dipaksa becermin. I know that I have that virus! So what? Bagaimanapun, itu semua tanda cinta dari rekan-rekan saya, yang tentu saja sangat saya hargai. Andai saya dalam keadaan normal, apalagi. Nyatanya, saya tak berada dalam kondisi yang normal. Jauh dari itu. Saya marah, sedih, kecewa, jengkel, sakit. Saya merasa berkeping-keping. Orang lain boleh saja menganggap remeh apa yang kita alami. Tapi perasaan selalu valid. Maka jika itu yang kita rasakan, tak seorang pun sebetulnya berhak untuk meremehkannya. Mereka bukan kita, tidak pernah menjadi kita dan tidak merasakan apa yang kita alami! So just tell them right in front of their faces, will u shut up? Untungnya, teman-teman saya selalu baik (sehingga saya tak perlu berteriak ke muka siapapun). Saya tahu, mereka tidak pernah bermaksud meremehkan luka-luka saya. Mereka hanya gusar karena saya berlarat-larat dalam 'sakit' . Orang-orang dekat ini mungkin juga kecewa, karena perilaku kekinian saya mencederai konsep mereka tentang saya. Mereka gemas melihat saya terbenam, lalu makin tenggelam. Yang kadang mungkin mereka lupa adalah, saya berlipat kali lebih marah pada diri saya sendiri dibandingkan mereka. Saya gusar kecewa, geram dengan kenyataan bahwa ternyata saya sedang 'sakit'. Bayangkan saja, orang yang suka sok pintar dan sok bijak seperti saya tiba-tiba harus terpuruk sedemikian rupa. Orang-orang saja stress melihat saya, apalagi saya yang mengalami? Semakin orang mengatakan "hei kamu sedang tenggelam!" maka kian tertekanlah saya. Situasi ini malah menjadi rantai yang sulit diputuskan. Saya sedang hancur; orang-orang panik melihat keadaan saya; saya jadi merasa bersalah kenapa saya tidak kunjung sembuh; saya makin sakit lagi ; orang-orang pun kemudian semakin panik atau lantas beralih jadi 'marah' pada saya. Begitulah. Ada saatnya, kita memang tidak perlu melakukan apapun, selain belajar memahami. Alih-alih menjadi teman yang baik, mungkin kita perlu menjadi teman yang tepat. Si penderita mungkin tidak perlu nasehat. Ia tidak perlu mengetahui apa yang dia inginkan, saat itu juga. Ia hanya butuh waktu, dan teman yang tepat. Dan untuk menjadi teman yang tepat, kita mungkin perlu menjadikan diri kita lebih sabar, mendengarkan, memahami bahwa sang teman tidak akan sebegitu hancurnya kalau memang tak sedemikian berat baginya. Mungkin kita belum pernah mengalami, tapi setidaknya kita memahami bahwa hal itu bisa terjadi pada orang lain. Bukankah itu yang dinamakan empati? Sakitnya, pasti tetap si penderita sendiri yang menanggung. Dan percayalah, semua itu saja sudah cukup sulit! Tapi setidaknya dengan teman yang tepat, situasi sekelilingnya akan lebih kondusif untuk lebih cepat sembuh. Jadi, lain kali saya mulai menyebalkan atau bersikap sebagai teman 'baik' di luar proporsi yang tepat, tolong ingatkan saya ya ... :)
Ketika suara tabuh itu mulai bergema dari kejauhan, saya langsung bersiaga menunggu di depan jendela. Jam menunjukkan pukul 2, dan rombongan yang rutin itu selalu tepat waktu. Selama 28 hari terakhir, saya terlalu lelap tidur ataupun terlalu malas bergerak. Tapi ini sahur terakhir, dan saya harus menuntaskan penasaran. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya rombongan itu pun melintasi rumah saya. Sekitar 8-10 anak lelaki, usia mereka paling baru 10-12 tahun (ini dugaan saya melihat ukuran tinggi badan yang tak sepesat remaja SMP). Ow, jadi mereka inilah 'aktor-aktor' yang sudah meramaikan dini hari di lingkungan kami. Meramaikan, sebetulnya kata yang terlalu halus bagi mereka. Yang mereka lakukan tepatnya adalah menabuh gendang atau bedug (atau apapun yang mirip itu) sekeras-kerasnya sampai membuat kaca-kaca jendela rumah bergetar, juga gendang telinga penghuninya. Masih merasa kurang meriah, mereka tak lupa melemparkan petasan di sepanjang jalan. Saya menatap kaki-kaki kecil yang bergerak cepat menembus gelap itu dengan perasaan masygul. Apakah yang mereka pelajari tentang puasa, tentang ramadhan, atau tentang agama itu sendiri? Mereka melakukannya sebagai bagian dari tradisi khas masyarakat setempat. Saya mengasumsikan, mobilitas anak-anak ini tak mungkin tak diketahui oleh pihak keluarga maupun mesjid setempat. Malah bisa jadi, mereka memang mendapat encouragement. Anak-anak itu tidak bergerak begitu saja. Mereka lahir sebagai produk keluarga, lingkungan, dan katakanlah pemahaman agama pihak-pihak tersebut. Bisa jadi mereka lupa. Ada pemeluk agama lain yang tak berpuasa, yang mungkin harus terusik tidur lelapnya. Dari cara mereka membangunkan pun jelas tak terlalu ramah bagi pengidap penyakit jantung, apapun agamanya. Bahkan bagi yang relatif sehat seperti saya pun, dentum-dentum bedug itu kerap membuat terbangun dengan kondisi tak nyaman. Biasanya, juga diikuti detak jantung lebih cepat karena kaget. Sebagai muslim sejak lahir, saya jadi mereka-reka. Jika begitu caranya, apa pula yang pemeluk agama lain nilai dari agama saya? Bukankah Islam katanya, merupakan rahmat bagi sekalian alam? Saya jadi ragu, jangan-jangan golongan saya sebagai mayoritas ini lalai menoleransi lingkungan dan malah memberikan tingkat radiasi yang tinggi. Jangan-jangan kami ini hanya 'bermimpi' menjadi rahmat bagi orang lain. Lalu ketika bangun dengan wajah kusut masai dan sisa ludah yang mengumpul di tepi bibir, kami meminta orang-orang mengatakan kami cantik. Saat orang-orang menggeleng, kami marah dan bersikukuh kalau kami ini cantik. Saat tetabuhan itu berlalu, saya masih tercenung di tepi jendela. Apakah saat besar nanti, rombongan bergendang itu akan menjelma oknum yang suka membuat kerusakan atas nama penegakan syariat--yang kita liat saat-saat ini? Ah, jangan sampai !
Sungguh. Saya tidak pernah bercita-cita membuat blog ini untuk curhat. Tadinya blog ini hanya diperuntukkan bagi buah pikiran saya, semacam ide atau gagasan yang dituturkan secara sistematis, dan sekiranya masih ada manfaatnya untuk dibaca orang lain. Tapi persoalannya, akhir-akhir ini saya sedang melulu sentimentil. Dan orang yang sentimentil cenderung sulit menulis hal-hal yang bermanfaat untuk orang lain, barangkali? Apalagi saya tak hanya sedang sentimentil, saya juga mudah 'piss off' akhir-akhir ini. duh!boro-boro mau menulis sesuatu yang mencerahkan orang ? Padahal saya terlanjur dituding orang-orang sebagai 'penulis'. Lalu apa jadinya seorang penulis yang tidak pernah menulis? Pertanyaan bodoh! Tentu saja artinya dia bukan penulis lagi. Nah kan, artinya saya mesti berusaha menulis, meskipun itu hanyalah curhat colongan yang sistematis strukturnya. Anyway, karena saya penulis saya selalu punya cara untuk mengemas curhat colongan saya supaya tidak norak. And well, saya akan mengatakan bahwa saya sedang sharing dengan semua orang, mana tahu ada yang bisa diambil dari proses hidup saya. Yah ini semacam kolom pribadi yang menjadi ruang berbagi.(well, ungkapan yang jauh lebih berkelas kan, daripada sekedar curhat apalagi curhat colongan). So, anyway.. welcome. It's sharing time..
 | LAMBAN | Apr 10, '07 5:01 AM for everyone |

Resolusiku tahun ini adalah berhenti membeli buku dan lebih banyak membacanya," kata wartawan dan penyair Rita Achris suatu kala kepada saya.
Saya terkekeh. Setuju. Pernyataan teman tadi ternyata persis benar dengan apa yang berkecamuk di kepala saya. Sudah sebulan terakhir ini saya puasa membeli buku. Pameran Islamic Book Fair yang baru berlalu sengaja tak saya hampiri, karena ngeri akan kebiasaan belanja buku saya yang bekerja berdasarkan deret ukur. Padahal, kemampuan membaca saya hanya berkembang seiring deret hitung. Hasilnya, di rak buku saya sedikitnya ada 20 buku yang belum saya baca tandas (Percayalah pembaca, jumlah mengerikan ini pun sudah saya korting besar-besaran).
Karena itu, ketika membaca ulasan mengenai buku yang kini sedang menghiasi daftar best seller di Prancis, Comment parler des Livres que l on n a pas lus (Bagaimana bicara tentang buku yang belum pernah Anda baca), saya terkejut. Saya merasa mempunyai teman. Ternyata di benua seberang sana ada seorang penulis yang begitu penuh pengertian perihal keadaan saya, pembaca yang lamban ini.
Kenyataan bahwa buku itu masuk daftar laris membuat saya merasa tak sendiri lagi. Dalam waktu dekat Comment parler... akan diedarkan ke seluruh Eropa dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk menjangkau pembaca Amerika.
"Saya terkejut, saya tak menyangka betapa tinggi perasaan bersalah mereka yang lamban membaca," kata penulisnya, Pierre Bayard, ahli di bidang Konektivitas Sastra dan Psikoanalisis. 
Bayard meyakinkan, tak ada kewajiban untuk membaca. Buktinya, ia pernah memberikan kuliah kepada mahasiswanya tentang buku yang jangankan ia membacanya hingga tuntas, membaca sepintas pun belum pernah!
Meskipun menyadari bahwa saya ternyata memiliki teman senasib, ternyata perasaan bersalah saya tak kunjung sembuh. Rasanya kok kurang sreg kalau belum membaca buku secara detail. Oke-lah tidak perlu membaca secara berurutan. Agak melompat-lompat tak mengapa. Tapi saya masih merasa penting membaca setiap bagiannya.
Perasaan bersalah itu, menurut Bayard, datang dari kesalahan pengajaran membaca di sekolah. Kita kerap mendapat tugas membaca buku, lalu menceritakan kembali isinya. "Iya juga," saya pikir. Tapi, buat saya, ada tambahan sebab. Saya kadang membayangkan jerih payah penulis untuk merampungkan setiap halaman. Sepertinya kejam jika saya tak bermurah hati menyediakan waktu untuk membacanya.
Bayard memberikan kiat-kiat bagaimana berbicara ndobos yang baik tentang buku yang tidak atau belum selesai kita baca. Semacam kiat praktis, bagaimana bisa membuat guru, atasan, dan orang-orang di sekitar kita terkesan.
Saya jadi ingat, beberapa tahun lalu ketika melamar pekerjaan sebagai wartawan di beberapa tempat. Ada satu pertanyaan yang saya temui di dua tempat yang berbeda: "Sudah pernah membaca buku Pramudya?"
Sejujurnya saat itu, saya bahkan belum menyelesaikan tetralogi Pram yang terkenal itu. Pada kesempatan pertama, saya mengaku jujur belum pernah. Si pewawancara langsung memandang saya dengan tatapan meremehkan. Katanya senang sastra, ejeknya tajam. Dari nada suaranya, saya sudah jelas tak masuk hitungan.
Pada pengalaman kedua, saya yang meski saat itu belum mendengar tips ndobos dari Bayard akhirnya berbohong. Sudah, jawab saya. Lalu ketika ditanya kesan saya terhadap buku yang saya akui sudah saya baca, saya bisa mengujarkannya dengan lancar dan percaya diri. Kali ini si pewawancara mengangguk-ngangguk. Saya pun lulus ke tes berikutnya.
Setelah itu saya memang terpacu untuk betul-betul selesai membaca beberapa buku Pram, tapi kebohongan tetap membuat saya merasa bersalah. Di sisi lain, saya membayangkan seorang teman yang jujur, tak pernah membaca Pram, dan ingin jadi wartawan. Mungkin ia hanya menjadi bahan tertawaan para pejabat media yang mewawancarainya.dan mengerak dalam angka pengangguran.
Lalu, apakah Bayard ingin menganjurkan bahwa sebaiknya kita berdusta?
Tujuan saya sebenarnya adalah membuat orang lebih banyak membaca, tapi sekaligus lebih merdeka, tukas Bayard. Saya ingin orang belajar hidup bersama buku-buku.
Ia sebetulnya ingin mengatakan bahwa banyak cara untuk membaca buku. Kita bisa membaca sepintas, mencermati pengantar lalu langsung ke bab penutup. Dan kita selalu bisa memeriksa bagian indeks. Itu semua adalah varian cara membaca buku dan kita tak perlu merasa bersalah melakukannya.
Kebiasaan membaca, sebagaimana kebiasaan tidur, mendengkur, mengigau, atau bermimpi adalah sesuatu yang sangat individual. Ada orang yang biasa menuntaskan satu buku baru kemudian beralih ke buku yang lain. Ada pula orang yang senang membaca tiga buku sekaligus pada kurun yang sama, lalu fokus pada buku yang paling menyedot perhatiannya. Bahkan seorang teman saya mengaku selalu membaca buku dari belakang. Karena bagian itu yang menentukan apakah saya mau membaca dari depan atau tidak, ujarnya.
Sebagaimana cara membaca, selera pun juga sama personalnya. Kita tidak bisa mengklaim bahwa mereka yang belum pernah membaca Ulysses atau Hamlet adalah kaum yang tidak intelek (saya sih terus terang belum membaca karya James Joyce dan William Shakespeare tersebut). Kita juga tidak bisa menuduh mereka yang tak pernah membaca karya-karya Pram tidak pantas jadi wartawan dan tak patut mengaku dirinya menyenangi sastra.
Begitulah. Sembari teringat Bayard, saya melirik tumpukan buku-buku yang belum saya baca (betul, jumlahnya lebih dari 20 judul). Perasaan saya kini menjadi lebih ringan. Mungkin lebih baik saya memperlakukan buku-buku itu dengan cara yang berbeda-beda, tergantung kepada kebutuhan saya sebagai pembaca. Saya tak perlu merasa bersalah ketika tak mencermati setiap halaman untuk setiap buku dengan seksama.
Akhir pekan ini, akhirnya, saya memutuskan untuk mulai berbelanja buku lagi.
FEBY INDIRANI, pembeli buku yang serakah, pembaca yang lamban.
 | Bingung | Mar 5, '07 3:31 AM for everyone |
Suatu hari seorang teman berkata, ia menyukai novel seorang penulis perempuan, sebut saja bernama R. R adalah salah seorang penulis berlatarbelakang akademis yang kental dengan novel-novel yang kerap menjadi best seller.
“Kenapa?” tanya saya.
“Iya, saya suka karyanya. Gaya bahasanya memang membingungkan, tapi itulah ciri khasnya,” jawab teman tadi lugas.
Sekarang, giliran saya yang jadi bingung. Saya baru tahu bahwa ‘membingungkan’ kini masuk daftar perbendaharaan gaya bahasa kekinian kita. Yang lebih membikin bingung, gaya itu bisa dianggap sebagai ciri khas dan malah disukai pembaca.
Karena penasaran, saya bertanya pada seorang rekan editor yang pernah beberapa kali mengedit buku dari penulis yang sama. Ketika sebuah buku sudah terbit tentunya ada peranan editor yang tak bisa dinafikan. Editor bisa dikategorikan pembaca pertama yang pastinya sudah mendeteksi kalau-kalau ada ‘keanehan’ di dalam sebuah naskah.
Jawaban rekan editor itu ternyata mengejutkan. “Gue juga bingung bacanya. Nggak ngerti! Pokoknya tugas gue cuma ngedit semampu yang gue bisa.”
Lho? Bagaimana bisa begitu?
Naskah-naskah yang membingungkan itu tak hanya milik penulis di atas. Mereka beredar di sekitar kita. Kita bisa menemukannya di mana saja, toko buku, majalah, koran, ataupun milis. Diksi yang dipilih rumit, meski sebetulnya masih ada pilihan kata yang lebih sederhana. Seolah tingkat kesulitan kata yang dipilih mencerminkan kecemerlangan sebuah gagasan. Padahal penulis bisa memilih diksi yang bagus tanpa harus membuat bingung pembaca.
Namun dari kasus di atas, saya melihat mata rantai bagi ‘kebingungan’ ini justru sudah tercipta. Ada penulis dengan gaya bahasa membingungkan, editor yang ikut bingung, penerbit yang tetap menerbitkan karya membingungkan dan pembaca yang senang dibuat bingung. Klop kan?
Tapi saya masih bingung.
Dalil yang pernah saya peroleh sebagai mantan mahasiswa komunikasi menyebutkan, komunikasi adalah persoalan pertukaran makna, bukan semata pertukaran pesan. Kita sebagai komunikator dianggap gagal total apabila komunikan kita tak memahami inti gagasan yang hendak kita sampaikan. Kalau sudah tak paham, boro-boro bisa suka. Apa iya doktrin komunikasi yang saya pegang teguh itu sudah berubah? Jangan-jangan prinsip yang berlaku sekarang, kalau kau tidak bisa meyakinkan pembacamu, buatlah mereka bingung!
Dalam suatu kesempatan kolumnis Mohamad Sobary pernah berujar mengenai cara menulis, ''Ra sah ndakik-ndakik. Banyak dosen yang kalau menulis mbulet menggunakan istilah aneh-aneh. Seolah-olah kalau tidak menyukarkan orang, khawatir tak dianggap sebagai dosen yang pinter,'' sindirnya.
Menurut pendapat dia, untuk menjadi penulis bagus, tak perlu bergaya dengan istilah asing yang terlampau mengharu biru tulisan. Bisa-bisa, ujar Sobary, orang malah menjadi pusing jika membaca tulisan yang disesaki istilah-istilah yang tak familiar di mata pembaca.
Yayan Sopyan, penulis dan pengasuh sebuah sekolah menulis menggelari tulisan seperti itu sebagai sastra kamus. Maksud dia, sastra yang untuk membacanya memaksa orang untuk membuka kamus saking penuh istilah ajaib dan sulit. Ia menangkap kesan kuat bahwa kebanyakan naskah yang semacam itu ditulis dengan semangat menemukan dan merangkai kata-kata yang tidak lazim sebagai bagian terpenting dari kosmetika karya tulis.
Masalahnya, saya rasa kesalahan tidak sepenuhnya bisa kita hujamkan pada penulis yang suka ndakik-ndakik itu. Mereka bisa bilang, wong saya bikin tulisan seperti itu ada media massa yang mau muat. Sudah itu laku dijual kepada penerbit. Memangnya penerbit atau redaktur media massa bodoh ?
Baik penulis, redaktur, dan penerbit pasti akan berkata: akhirnya semua kami kembalikan kepada pembaca. Kalau karya yang membingungkan bisa best seller, wajar saja jika penerbit tetap menerbitkannya. Meskipun hanya untuk membacanya saja editornya sampai kelimpungan.
Kita semua sebagai pembaca bisa dikatakan bertanggung jawab turut melestarikan penulis yang bergaya bahasa membingungkan. Yang lebih berbahaya jika kita menciptakan penulis-penulis baru dengan gaya yang sama, sebab mereka belajar dari penulis terdahulu yang terkenal justru karena berciri khas membingungkan.
Menurut saya, ini bukan semata pada persoalan kurang kritisnya pembaca dalam memahami teks. Kemungkinan besar inti persoalan terletak pada perasaan rendah diri yang pernah menghinggapi setiap kita dengan derajat yang bervariasi.
Jujur saja. Kita seringkali silau dengan atribut-atribut yang dikenakan penulis. Jika si penulis misalnya bergelar doktor, psikolog atau dokter belum apa-apa kita sudah minder.
Buku atau teks saat ini tak lagi sarana komunikasi yang telanjang, yang menghadirkan dirinya secara sederhana. Ia bukan lagi semata wadah untuk menyampaikan makna, tapi menghantarkan citra.
Ketika seorang penulis menghampiri kita dengan segenap atribut —gelar, jabatan, peran sosial—yang dimilikinya, persepsi di kepala kita terbentuk. Ia hebat, maka apa yang disampaikannya pastilah hebat pula. Apalagi jika bukunya memperoleh endorsement dari orang-orang terkenal. Makin yakinlah kita akan kehebatan sang penulis.
Bahkan ketika tulisannya penuh dengan kosa kata yang saya tidak mengerti, kita malah berpikir : itulah tanda bahwa dia pintar. Kalau saya tidak paham maka mungkin saya yang bodoh. Lalu karena saya ingin dikategorikan pintar, saya pun merasa harus menyukai tulisan itu.
Biasanya hal serupa itu mudah menular. Jika tokoh-tokoh publik saja sudah bisa memberikan pujian setinggi langit melalui endorsement yang diberikannya, masa’ iya kita berpikiran sebaliknya? Jika banyak orang menilai karya itu bagus, jarang-jarang ada berdiri dan menyatakan pendapat yang berlawanan. Kita cemas menjadi berbeda. Kita meragukan diri kita.
Rasanya sebagai pembaca, kita perlu lebih percaya diri. Kalau setelah membaca sebuah teks kita tak mampu menyimpulkan isinya dalam bahasa kita sendiri, jangan mendadak sontak menyalahkan pikiran kita. Bisa jadi itu salah satu indikator gagalnya penulis menyampaikan pokok pikirannya. Pada saat kita mengatakan kita menyukai karya seorang penulis, pastikan bahwa itu kita lakukan karena kita memahaminya, bukan karena itu membingungkan kita.
Ujian bagi seorang penulis adalah ketika ia bisa secara mahir menyampaikan ide — serumit apapun itu— ke dalam bahasa yang mudah dimengerti sebanyak mungkin orang. Bukan sebaliknya, membuat bahasa yang sulit dimengerti agar gagasannya dianggap luar biasa.
Tulisan masihlah bertujuan menyampaikan makna, bukan semata citra. Inilah prinsip komunikasi yang sederhana. Dan sejati.
Feby Indirani, pembaca yang tak ingin dibuat bingung
 | Dalih | Mar 5, '07 3:24 AM for everyone |
  Manusia memang makhluk yang suka berdalih. Tapi ada tiga kelompok yang paling ahli melakukannya: pengacara, pengutang, dan orang yang ingin menulis.
Pengacara dibayar karena kemampuannya berdalih. Pengutang menggunakan kemampuan yang sama untuk menghindari kewajiban membayar. Sepertinya hanya kelompok ketiga yang tak memperoleh apapun dari berdalih, selain tentu saja perasaan gagal dan semakin tidak berdaya.
Begitu banyak orang mengatakan ingin menulis. Begitu banyak pula alasan yang mereka berikan untuk menjawab mengapa belum juga menulis.
“Saya mesti menunggu mood kalau mau menulis.” (ini dalih paling populer)
“Saya terlalu sibuk, tidak punya waktu.” (ini dalih khas dunia modern)
“Saya tidak punya laptop. Masa’ sih saya harus mengetik di rental yang panas? Selalu muter lagu Rhoma Irama lagi.”(ini dalih generasi melek teknologi)
Hilang mood, writer’s block, kurang fasilitas, tak punya waktu hanyalah cara untuk menghindari menulis. Kita sebenarnya tahu bahwa mood seringkali terbentuk justru setelah berlembar-lembar halaman kosong itu mulai terisi, bukan sebaliknya. Sudah banyak tips menulis yang mengatakan demikian. Tapi tetap saja alasan generik sekaligus paling bisa dimaklumi dimanfaatkan. Persis seperti penduduk Jakarta yang menjadikan macet sebagai dalih keterlambatan.
Alasan lainnya sama saja. Kita sering menganggap diri terlalu sibuk untuk mulai menulis, padahal masih selalu punya waktu untuk mengobrol. Kita merutuki rental komputer ketika karya-karya gemilang milik Pramoedya Ananta Toer dan Antonio Gramsci justru lahir dari tempat pembuangan. Kita berdalih.
Dulu saya mengira semua dalih berasal dari kemalasan. Belakangan saya baru menyadari, itu tak sepenuhnya benar. Ada dalih lain yang mengalasi dalih yang sudah saya contohkan di atas. Inilah yang sering kita rasakan, tapi kerap sulit kita akui.
“Tulisan saya dinilai jelek. “
“Saya bodoh, tidak berbakat.”
“Tulisan saya tidak akan laku, tidak akan bisa terbit.”
“Rasanya saya tidak mampu menyelesaikannya.”
Ketakutan. Kita takut menulis dengan hasil yang buruk. Kita takut orang lain mencela tulisan kita. Kita takut kita mencela tulisan kita sendir. Kita takut mencurahkan seluruh tenaga untuk menuntaskan sebuah karya. Tidak pernah sungguh-sungguh mencoba artinya tidak pernah sungguh-sungguh gagal.
Inilah dalih di atas dalih. Kita memampati diri dengan tumpukan alasan. Satu saat kita terlalu malas untuk menghadapi ketakutan kita. Di waktu lain kita terlalu takut untuk melawan kemalasan kita.
Setiap kali menjawab pertanyaan ‘bagaimana caranya agar bisa menulis’, saya selalu menanggapi dengan wajah cerah, “Jangan takut salah. Satu-satunya cara untuk menulis adalah memulainya.” Tiba-tiba malaikat di sebelah kiri saya mengernyit, bersiap menorehkan catatan di bukunya. Ups! Ekspresi bijak saya sudah tercatat sebagai kebohongan. Saya mengatakannya dengan ringan, seolah keberanian memulai itu sudah jadi darah-daging saya. Padahal..
Saya selalu punya cara untuk menunda menulis. Bermain Zuma atau Supercollapse yang sudah ratusan kali saya mainkan tetap tampak lebih menarik. Lalu saya meraih ponsel, mulai mengirim sms yang tak terlampau penting. Kemudian menelpon teman dan menonton DVD. Saya melakukan pembenaran bahwa mengobrol dan menonton film adalah pengayaan bagi proses menulis, padahal saya tahu persis sering kali obrolan yang terjadi tidak memperkaya, dan film yang ditonton tak bermutu. 
Menulis itu gampang, kata Arswendo Atmowiloto. Tapi, bagi saya, menulis itu gampang ditinggalkan.
Darimanakah perasaan takut itu muncul?
Celaan. Komentar negatif. Kritik destruktif. Kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Keinginan untuk meraih keberhasilan secara cepat.
Semua itu lalu menjelma jadi suara-suara dalam kepala kita, yang kian nyaring begitu kita ingin menulis. Menulis apa sih, kok jelek banget? Apa ini, bahasa kok kaku amat? Tema ini pasaran amat, apa istimewanya? Ah nggak bakal laku, siapa yang mau baca?
Suara-suara itu berlomba dengan gerakan tangan kita yang mengetik atau menulis.
Persis seperti itulah yang saya rasakan ketika saya menulis opini ini. Sepertinya ada bagian otak saya yang bekerja secara otomatis untuk mengarang dalih agar saya tak usah menyelesaikannya. Saya takut topik yang saya bawakan tidak menarik, dan saya malas mengatasi ketakutan itu. Buat apa saya bersusah-payah menulis hal yang tak penting? Saya berdalih. Terus berdalih.
Lantas, bagaimana cara mengatasi dalih di atas dalih ini?
Karena manusia makhluk yang pandai berdalih, cara paling praktis menyembuhkan penyakit dalih adalah kembali berdalih. Bila dalih pertama membuat kita meninggalkan pekerjaan menulis, kita mesti melahirkan ‘dalih positif’ yang membuat kita meninggalkan kebiasaan abai menulis.
Suatu ketika, seorang sarjana filsafat menerbitkan skripsinya dalam bentuk buku. Karya perdananya itu mendapat pujian hangat dari banyak kalangan, sampai suatu saat seorang dosen filsafat ‘membantai’ bukunya melalui sebuah resensi. Apa tanggapan si sarjana?
“Ah dia nggak ngerti aja,” sahutnya enteng. Inilah salah satu contoh berdalih positif. Di satu sisi, mungkin dia terlihat sebagai orang yang anti-kritik. Tapi caranya berdalih menyelamatkan dirinya. Ia bisa saja menjadikan kritik itu sebagai dalih setiap kali ia malas atau takut menulis lantaran bisikan "Buat apa menulis lagi, tulisan saya toh dinilai jelek?" Tapi dia bisa berkelit, seorang dosen bisa saja miskin pemahaman.
Coba katakan pada diri sendiri. Saya pintar. Saya berbakat. Kemampuan saya lebih besar dari mood saya. Tiga kali Anda mencoba mengatakannya, suara-suara negatif itu pasti akan berteriak tidak sabar, konyol amat sih perbuatan ini!
"Entah Anda yakin bahwa Anda bisa atau tidak, Anda selalu benar," kata Henry Ford, pendiri salah satu perusahaan otomotif terbesar di dunia. Maka, mari sering-seringlah mengatakan pada diri kita. Kita pintar (ah masa?). Kita hebat (bohong banget sih!). Kita berbakat(yang benar saja!). Kita pasti bisa menyelesaikan apapun yang kita inginkan (huuu!).
Dalih negatif akan terus memerangi dalih positif yang coba kita buat. Teruslah berdalih positif meskipun kita merasa tak nyaman karena harus "berbohong". Berdiplomasilah dengan malaikat pencatat dosa (diplomasi tak termasuk kolusi kan?). Katakan padanya, ini bohong yang positif.
Ada sesuatu dalam keinginan untuk menulis yang membuat kita selalu ingin menundanya. Ini menyerang orang yang baru ingin menulis hingga yang sudah jadi penulis "beneran". Tentu, tidak semua penulis "beneran" ini mau jujur mengakuinya di depan publik. Sebagaimana profesi lainnya, penulis ingin dianggap menikmati pekerjaannya. Godaan untuk terlihat ‘sempurna’ di hadapan orang lain selalu begitu kuat. Padahal pertarungan mengatasi segala penolakan suara-suara negatif yang bergaung dalam kepala, itu yang selalu terjadi.
“Membersihkan abu di tungku pendiang bisa menjadi pekerjaan yang sangat memikat jika Anda melakukannya untuk menghindari menulis,” demikian tutur Susan Shaugnessy, penulis naskah iklan, pidato, novel, dan editor profesional.
“Menulis lebih susah dari apapun, setidaknya memulainya. Lebih mudah mencuci piring,” keluh Kristin Hunter, novelis, copywriter, scriptwriter, profesor creative writing di Universitas Pennsylvania, AS, dan penerima berbagai penghargaan di bidang sastra. Hunter menetapkan kuota halaman yang harus ia tulis setiap hari, tapi biasanya ia mendahulukan semua pekerjaan lain sebelum mulai menulis.
“Kadang-kadang saya bisa menghabiskan hari tanpa melakukan apapun kecuali memunguti tiras karpet dan mengobrol di telpon denan ibu saya,”ujar Beth Henley. Ia memenangkan penghagaan Pulitzer pada usia 28 tahun untuk naskah drama berjudul Crimes of the Heart.
Jadi?
Nyaris semua penulis pernah melakukan bohong positif ini. Kadang hanya itu satu-satunya cara bertahan. Memulai menulis sama beratnya bagi penulis profesional sebagaimana bagi penulis pemula.
Maka apapun dalih negatif yang mampir ke pikiran kita, segeralah balas dengan dalih positif seberapapun terasa kental dustanya. Katakan kita ini cerdas. Katakan lagi. Kita akan betul-betul kelihatan cerdas. Manusia selalu memiliki daya lentur yang mengagumkan. Seribu kali bohong bisa menjadi benar.
Bagaimana, burukkah kolom saya ini? Temanya tidak penting? Basi? Ah itu kan kata Anda. Bagi orang lain mungkin berguna dan inspiratif. Wong saya ini penulis dahsyat, kok!
Penulis yang suka berdalih, tinggal di Jakarta.
(Ruang Baca Koran Tempo Minggu, 26 November 2006)
 | NAMA | Mar 5, '07 3:12 AM for everyone |
|
|