<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>

<rss version="2.0"
 xmlns:blogChannel="http://backend.userland.com/blogChannelModule"
>

<channel>
<title>buku terbuka </title>
<link>http://bukuterbuka.multiply.com/</link>
<description>selamat datang di lembaran-lembaran buku terbuka...</description>
<pubDate>Fri, 28 Nov 2008 07:35:48 -0000</pubDate>
<lastBuildDate>Thu, 5 Jun 2008 12:51:25 -0000</lastBuildDate>

<image>
<title>buku terbuka </title>
<url>http://images.bukuterbuka.multiply.com/logo</url>
<link>http://bukuterbuka.multiply.com/</link>
<width>100</width>
<height>100</height>
</image>

<item>
<title>Susu Soleha</title>
<description>&#x3C;br&#x3E;Pertama kali mendengar Hi-Lo memiliki lini produk Hi-Lo Soleha, saya tidak habis pikir. &#x3C;br&#x3E;Memang apa bedanya antara susu soleha dan yang tidak soleha?Lalu apa hubungannya antara minum susu dan menjadi soleha? &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;&#x22;Kalau Hi-Lo Soleha minumnya pake Bismillah kali,&#x22; begitu canda seorang teman. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Saya pun penasaran mencari Hi-Lo Soleha di supermarket. Ingin mengecek kandungan susunya. Kemasan Hi-Lo Soleha memasang model perempuan berjilbab (Ya iyalah!). Dan ini dia alasan &#x27;bernuansa&#x27; medisnya : susu ini diformulasikan khusus untuk perempuan berbusana muslim agar memenuhi kebutuhan vitamin D. Berdasarkan penelitian tubuh perempuan berbusana muslim ini kekurangan vitamin D karena kurang terpapar sinar matahari. &#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Ternyata ada lagi tambahannya. Pada iklan produknya disebutkan bahwa Rp 500 dari setiap pembelian satu dus susu itu akan diinfakkan secara syariah. Hmm...&#x3C;br&#x3E;&#x3C;br&#x3E;Yah, namanya saja jualan. Hi-Lo sebagaimana Sunsilk ingin menyasar segmen yang spesifik dan memang cukup gemuk di Indonesia. Tapi mau nggak...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/32/Susu_Soleha</guid>
<pubDate>Thu, 5 Jun 2008 12:51:25 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Dunia Paralel</title>
<description>Novel ini sampai di pangkuan saya tepat saat saya sedang memimpikan hal yang sama, Bahwa di luar dunia yang kita kenal saat ini ada dunia lain yang mengantarkan sepaket takdir yang berbeda. Bahwa di suatu tempat di luar sana, ada diri kita yang lain, yang tidak terpenjara tangan-tangan takdir yang sesungguhnya hanyalah konsekuensi dari pilihan-pilihan masa lalu kita. Cara berpikir khas para pemimpi, jika kita tak bicara dari probabilitasnya dalam sudut pandang fisika. 

Dari ketakberdayaan itulah cerita Dunia Paralel beranjak. Vian seorang pembuat film dan Medy seorang penulis bertemu di bandara saat pesawat mereka sama-sama delay. Pertemuan singkat itu ternyata menggetarkan hati mereka, padahal mereka masing-masing sudah terpaut janji dengan orang lain. Keluasan imaginasi mereka sebagai pekerja seni membawa mereka mengkhayalkan dunia paralel, bahwa ada Vian dan Medy di dunia yang lain dalam kondisi yang  memungkinkan segala sesuatunya bagi cinta mereka. Medy sesungguhnya yang pertam...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/reviews/item/12</guid>
<pubDate>Sun, 18 May 2008 00:09:55 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Semua Orang Bisa Menulis? Eits, Nanti Dulu</title>
<description>&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;&#x3C;IMG class=alignleft src=&#x22;http://images.bukuterbuka.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SBv1SQoKCDQAADzf3b01/celeb1.jpg?et=w8RJLKaWID7J%2CLjWZOi3KQ&#x26;amp;nmid=&#x22; border=0&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;Ah, itu hanya kegenitan para penulis terancam yang ingin lahannya tetap ekslusif, protes Anda. &#x26;nbsp;Atau mungkin itu curahan hatimu sendiri&#x26;nbsp; ya, cuma malu berkata jujur, sergah teman Anda &#x3C;I style=&#x22;mso-bidi-font-style: normal&#x22;&#x3E;nimbrung&#x3C;/I&#x3E;. Sudahlah itu tidak terlalu penting, sahut saya. &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;Begini, teman saya penulis novel yang sedang vakum baru-baru ini mendapat tawaran sebagai &#x3C;I style=&#x22;mso-bidi-font-style: normal&#x22;&#x3E;co-writer&#x3C;/I&#x3E;. &#x3C;I style=&#x22;mso-bidi-font-style: normal&#x22;&#x3E;The first writer&#x3C;/I&#x3E; atau penulis utamanya adalah seorang selebriti, sebut saja seorang penyanyi terkenal. Setelah usia karir cukup panjang dan ketenaran di tangan, ia berpikir untuk menerbitkan buku perjalanan hidupnya sebagai seorang penyanyi. &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;Buku ini diharapkan menjadi panduan karir untuk menjadi seorang penyanyi profesional. Tahu sendiri kan, dunia nyanyi tak pernah surut. Apalagi dengan berbagai kontes idola yang digelar televisi swasta. Penyanyi masih jadi aktor penting di dunia show biz. Karir &#x26;nbsp;impian ratusan ribu belia Indonesia karena menjanjikan ketenaran dan duit berlimpah. Jika ada sebuah panduan yang ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/31/Semua_Orang_Bisa_Menulis_Eits_Nanti_Dulu</guid>
<pubDate>Sat, 3 May 2008 05:13:14 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>My Love Songs</title>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/music/item/9/My_Love_Songs</guid>
<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 17:07:26 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>RESOLUSI 2008? Hmm..</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Kata yang masih &#x27;hip&#x27; sejak jelang pergantian tahun sampai awal-awal tahun begini : RESOLUSI. Mereka yang pesimis akan mencibir dalam hatinya, ah resolusi dibuat untuk dilanggar. Mereka yang optimis tetap keukeh membuat resolusi, meskipun belum lagi memasuki bulan kedua seringnya mereka mulai lupa dengan janji-janji yang ingin&#x26;nbsp;ditaati. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Jadi, masihkah ada gunanya membuat resolusi? &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Karena saya adalah orang yang berada di antara ruang-ruang itu, optimis dan pesimis, dan kebetulan saya lumayan keras kepala (menurut orang-orang dan mantan-mantan :p) maka saya berkesimpulan : MASIH. Hanya saja, kita tidak bisa mengharapkan hasil yang berbeda selama kita mengerjakannya dengan cara yang sama. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Maka,&#x26;nbsp;berani&#x26;nbsp;menelisik akar kegagalan, jujur mengakui keberhasilan sekecil apapun, dan lakukan dengan cara yang berbeda--yang lebih baik tentunya. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Akhir itu belum tiba, Kawan. Dan mengenang hanya untuk orang lanjut usia. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Jadi, apa resolusimu tahun ini?&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;resolusi saya, sederhana : Belaja...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/30/RESOLUSI_2008_Hmm..</guid>
<pubDate>Sat, 5 Jan 2008 09:56:59 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Setiap Kali Patah Semangat, Ingatlah Bauby..</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;&#x3C;IMG class=alignleft src=&#x22;http://images.bukuterbuka.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RxpFaQoKCq4AAELgQTw1/bauby.jpg?et=t9dA9OM726NAuZ%2C4UTUGRg&#x22; border=0&#x3E;(itulah yang berusaha kubangkitkan saat ini, yang sedang kurang produktif dan banyak berkeluh kesah. November tahun ini, film kisah hidupnya akan dirilis--semoga kita bisa menikmatinya di JIFFEST 2007. Film ini berjudul sama dengan buku yang ditulisnya dengan hanya menggunakan kedipan mata--yah, kedipan mata. )&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;Kupu-Kupu di Kepala Bauby&#x3C;FONT size=3&#x3E; &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;&#x3C;I&#x3E;Bayangkan hal seperti ini terjadi pada Anda. &#x3C;/I&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;Suatu pagi Anda terjaga dari tidur. Entah apa yang membangunkan Anda. Mungkin kicau burung atau belaian sinar matahari pagi dari kisi jendela. Atau juga kerongkongan kering yang menuntut aliran air. Anda ingin bergegas bangkit. Mengambil minum, kemudian membuka jendela dan menyapa riang burung yang sudah bernyanyi untuk Anda. Ternyata Anda tak bisa bergerak. Otak memerintahkan tubuh Anda dengan berbagai cara. Tapi tubuh Anda hanya terkulai tak berdaya. &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;Itulah y...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/29/Setiap_Kali_Patah_Semangat_Ingatlah_Bauby..</guid>
<pubDate>Sat, 20 Oct 2007 18:19:29 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Mengenang Oriana Fallaci, Lagi</title>
<description>&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;&#x3C;IMG class=alignright src=&#x22;http://images.bukuterbuka.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RxpESAoKCq4AACi43AI1/oriana.jpg?et=6up%2B%2Bh42XaLaaWOp0XqLhw&#x22; border=0&#x3E;(Tiba-tiba malam ini, aku teringat Oriana Fallaci, semangatnya, kekritisan dan sikap nyinyirnya. Hm, Oriana tulari aku api jiwamu...)&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;Hidup Abadi Lewat Kata&#x3C;FONT size=3&#x3E; &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;&#x3C;I&#x3E;Aku menulis buku, agar saat aku mati ada bagian diriku yang tetap hidup.&#x3C;/I&#x3E; Begitu ucap Oriana Fallaci, penulis dan jurnalis terkenal dari Italia. Dan harapan itu niscaya akan terwujud segera setelah kanker payudara, yang menggerogotinya bertahun-tahun, memenangkan pertarungan atas dirinya, 15 September lalu. &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;Memulai karier jurnalistik di usia 16 tahun, Fallaci dikenal sebagai wartawan perang. Delapan tahun dari usianya ia habiskan untuk meliput Perang Vietnam. Hasilnya adalah sebuah buku Nothing, dan So Be It (1969), yang hingga kini masih terjual laris. Fallaci juga terjun meliputi konflik di Mexico, dan sempat cedera karenanya, lalu menjadi koresponden untuk meliput Perang Irak-Kuwait di usia 61. &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;Fallaci juga terkenal sebagai political interviewer yang kontroversial. Saat mewawancara para pemimpin dunia, ia kerap berlaku ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/28/Mengenang_Oriana_Fallaci_Lagi</guid>
<pubDate>Sat, 20 Oct 2007 18:10:50 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Pelajaran Merasa</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Seperti apakah wajah cinta ?Tanyamu berhembus untuk ke seratus dua puluh tiga kalinya. Sembari hatimu kau biarkan. Beku dalam kelu.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Itu seperti kau mencari merah dengan mata tertutup. Tunjukkan padaku, serumu. Kusayatkan jariku di atas jarimu. &#x2018;Ini merah&#x2019;. Tapi kau hanya terpejam.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Lalu bagaimana kau mengetahui rasa manis tanpa menggunakan lidahmu?Carilah pada kamus bahasa dari seluruh dunia, Carilah pada tumpukan diktat, ratusan buku berdebu di perpustakaan atau ensiklopedi dunia paling lengkap. Kujamin, tidak akan ada definisi yang dapat menjelaskan dengan tepat seperti apa rasa manis itu. Manis adalah rasa gula.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Kau akan bertanya, lalu seperti apa rasa gula yang katanya manis itu ? Aku akan menjawab serupa dengan rasa madu. Namun kemudian kau akan bertanya lagi seperti apa rasa madu yang serupa dengan gula yang katanya manis itu? Kemudian aku akan mencarikan hal-hal lain yang mempunyai rasa serupa, sampai akhirnya kehabisan kata-kata.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Kau hanya bisa mengetahui bagaimana rasa manis de...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/27/Pelajaran_Merasa</guid>
<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 17:40:12 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Pelajaran Merasa</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Seperti apakah wajah cinta ?Tanyamu berhembus untuk ke seratus dua puluh tiga kalinya. Sembari hatimu kau biarkan. Beku dalam kelu.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Itu seperti kau mencari merah dengan mata tertutup. Tunjukkan padaku, serumu. Kusayatkan jariku di atas jarimu. &#x2018;Ini merah&#x2019;. Tapi kau hanya terpejam.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Lalu bagaimana kau mengetahui rasa manis tanpa menggunakan lidahmu?Carilah pada kamus bahasa dari seluruh dunia, Carilah pada tumpukan diktat, ratusan buku berdebu di perpustakaan atau ensiklopedi dunia paling lengkap. Kujamin, tidak akan ada definisi yang dapat menjelaskan dengan tepat seperti apa rasa manis itu. Manis adalah rasa gula.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Kau akan bertanya, lalu seperti apa rasa gula yang katanya manis itu ? Aku akan menjawab serupa dengan rasa madu. Namun kemudian kau akan bertanya lagi seperti apa rasa madu yang serupa dengan gula yang katanya manis itu? Kemudian aku akan mencarikan hal-hal lain yang mempunyai rasa serupa, sampai akhirnya kehabisan kata-kata.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Kau hanya bisa mengetahui bagaimana rasa manis de...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/26/Pelajaran_Merasa</guid>
<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 17:40:00 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Ganggu</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Cintaku adalah setumpuk keras kepala yang mengganggu.&#x3C;BR&#x3E;Mirip daun yang menempel pada alas sepatu ketika menginjak tanah lembab. Daun yang berkeras melekat agar terbawa langkahmu hingga jauh.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Aku serupa lalat yang mengusik makan malammu.&#x3C;BR&#x3E;Penghilang selera makan yang ampuh, ujarmu.&#x3C;BR&#x3E;Bukankah kau hendak menurunkan bobot? Godaku.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Aku memanggangmu serupa matahari tengah hari.&#x3C;BR&#x3E;Di manapun kau bersembunyi, di balik jaket atau topi, panasku tak mungkin kau dustai.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Aku memenuhi kotak suratmu seperti spam yang menjanjikan kaya raya mendadak, mengundang belas kasihan dengan foto anak-anak sakit, atau cara termanjur membesarkan alat vital.&#x3C;BR&#x3E;Sesuatu yang selalu datang dan menemukan cara terlihai untuk mampir ke sudut kerling matamu.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Aku letih, bisikmu.&#x3C;BR&#x3E;Tawaku mengembang di udara. &#x2018;Aku mencintaimu&#x2019;.&#x3C;/P&#x3E;</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/25/Ganggu</guid>
<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 17:37:47 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Garis-Garis Patah</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Dari ranjang gelisah dan bantal basah kujahit saputangan ini. Kujahit tepi-tepinya dengan luka. Bukan. Bukan dengan air mata. Bundaran-bundaran hitam ini tidak ingin lagi menganaksungai. Mereka menyesal membiarkan kau pergi dengan lensa mengabur, seperti kaca depan mobil saat gerimis dengan &#x3C;EM&#x3E;wiper&#x3C;/EM&#x3E; yang patah.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Padahal masih ingin direkamnya jernih-jernih sosokmu dalam neuron-neuron kepala. Sosokmu yang berlalu.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Dan ingatkah petang itu (yang masih segar oleh bau tanah yang baru saja berselingkuh dengan hujan), kamu membalikkan punggungmu dan melemparkannya ke mukaku?&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Punggungmu. Ladang lebar bernoktah-noktah coklat tua yang menyaru kulit. Ladang yang pernah kusapu-sapa dengan hidung, bibir, bulumata, payudara. Mengapa ia jadi sedemikian angkuhnya?&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Mungkin kita akan bertemu lagi, katamu, jika takdir mempertemukan kita. Takdir? Sejak kapan seorang nietzschean sedemikian lemah pada sejumput takdir? Kau bahkan seharusnya bangkit dan membunuh sang perancang takdir! Takdir hanyalah fatamorgana ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/24/Garis-Garis_Patah</guid>
<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 17:36:53 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Daun dalam Toples</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Aku, sehelai daun kering yang terperangkap dalam toples.Ku pandangi wajahmu, perempuan pemilik toples yang sedang mengamati diriku.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Kau memilih mengabadikanku, setahun yang lalu.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Awal jumpa kita sederhana. Ketika angin bertiup, aku terpisah dari induk pohon, terhembus jauh, lalu mendarat di pangkuanmu. Kau sepertinya berpikir, kita dipertemukan oleh takdir.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;&#x2018;Tak ada yang kebetulan di dunia ini, bahkan sehelai daun yang jatuh pun memiliki makna&#x2019; ujarmu.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Kau lalu menimang tubuhku yang hijau kekuningan, meletakkannya di samping monitor yang menyala. Hangatnya menyelimuti diriku, tapi melunturkan hijau.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Hari demi hari, kau memandangku dengan senyuman kasih sayang.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Suatu saat, kau menimang tubuhku yang kini kaku dan kerontang dengan warna coklat sempurna. Sejurus kemudian, aku meluncur ke dalam lantai toples yang dingin. Kau menutupnya rapat, lalu meletakkannya di samping monitor bercahaya. Yang tak kurasakan lagi hangatnya.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Kau tersenyum. Aku selalu mencintai daun, katamu.(dan aku menggigi...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/23/Daun_dalam_Toples</guid>
<pubDate>Thu, 18 Oct 2007 17:35:35 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Salam Lebaran untuk Karung Beras</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Masih lekat dalam ingatan saya, aroma lem yang mengeras di ujung telunjuk sehabis menempelkan perangko untuk setumpuk kartu. Ritual masa lalu yang kini semakin jarang dilakoni orang. Paling-paling berkirim kartu kini dilakukan untuk kepentingan korporasi. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Lebaran kini, kita memang tak lagi mengenal kartu lebaran. Orang merasa lebih praktis mengirim ucapannya&#x26;nbsp;via &#x3C;EM&#x3E;short message service&#x3C;/EM&#x3E;/SMS. Paling banter mengirim email. Kedua hal itu memang murah dan cepat. Selain itu, nah ini dia perbedaan yang juga signifikan : kita bisa mengirimkan satu pesan kepada puluhan orang sekaligus. Bandingkan dengan kartu lebaran yang, meski&#x26;nbsp; tak ingin menuliskan pesan di dalamnya pun minimal harus tetap kita tulis nama dan alamatnya dong. Tentu saja, kalau kita mau surat&#x26;nbsp;itu tak berakhir di tong sampah kantor pos. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Tapi di situlah soalnya. Dengan pertolongan teknologi, tiba-tiba kita menjadi impersonal. Kita tinggal memilih menu &#x3C;EM&#x3E;&#x27;send to many&#x27;&#x3C;/EM&#x3E; di ponsel, dan tersebarlah pesan itu.&#x26;nbsp;Hal ya...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/22/Salam_Lebaran_untuk_Karung_Beras</guid>
<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 07:04:32 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Menjadi Teman &#x27;Baik&#x27; atau &#x27;Tepat&#x27;? </title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Saya tahu, saya tak selalu berhasil menjadi teman yang baik. Apalagi teman yang tepat. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Di mata orang-orang, pasti ada saja saat di mana saya terkesan sok pintar, menggurui, sok paling paham soal hidup dan ekspresi-ekspresi&#x26;nbsp;serupa itu. &#x26;nbsp;&#x26;nbsp;Bagi yang pernah&#x26;nbsp;sial mendapati tanggapan sok&#x26;nbsp;bijak dari saya dan kini&#x26;nbsp;membaca tulisan ini, kebetulan! Saya berniat untuk minta maaf (dan ini bukan colongan dari momentum lebaran). Maafkan saya, atas semua sikap sok tahu atau arogansi saya. Sebetulnya, saya hanya berniat menjadi teman yang baik. Saya kerap lupa bahwa sikap yang baik ternyata&#x26;nbsp;tak selamanya, tepat. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Saat ini,&#x26;nbsp; saya akhirnya tahu seperti&#x26;nbsp;apakah baik dan tepat itu. Misalnya, baikkah menanyakan &#x27;apa kabar&#x27;? Tentu saja, apa soalnya? Tapi, bagaimana kalau kita menanyakan &#x27;apa kabar&#x27; kepada orang yang rumahnya baru sejam yang lalu habis dilanda api? Ada dua pilihan, kita ini buta atau bodoh. Sungguh sangat tak tepat kan? &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Begitulah kira-kira perbeda...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/21/Menjadi_Teman_Baik_atau_Tepat_</guid>
<pubDate>Thu, 11 Oct 2007 09:02:41 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Tabuh Sahur (terakhir)</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Ketika suara tabuh itu mulai bergema dari kejauhan, saya langsung bersiaga menunggu di depan jendela. Jam menunjukkan pukul 2, dan rombongan yang rutin itu selalu tepat waktu. Selama 28 hari terakhir, saya terlalu lelap tidur ataupun terlalu malas bergerak. Tapi ini sahur terakhir, dan saya harus menuntaskan&#x26;nbsp; penasaran. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya rombongan itu pun melintasi rumah saya. Sekitar 8-10 anak lelaki, usia mereka&#x26;nbsp;paling baru 10-12 tahun (ini dugaan saya melihat ukuran tinggi badan yang tak sepesat remaja SMP). Ow, jadi mereka inilah &#x27;aktor-aktor&#x27; yang sudah meramaikan dini hari di lingkungan kami. Meramaikan, sebetulnya kata yang terlalu halus bagi mereka. Yang mereka lakukan tepatnya adalah menabuh gendang atau bedug (atau apapun yang mirip itu) sekeras-kerasnya sampai membuat kaca-kaca jendela rumah&#x26;nbsp;bergetar, juga gendang telinga penghuninya. Masih merasa kurang meriah, mereka tak lupa melemparkan petasan di sepanjang jalan. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Saya menatap kaki...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/20/Tabuh_Sahur_terakhir</guid>
<pubDate>Thu, 11 Oct 2007 05:41:04 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>It&#x27;s Sharing Time !</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;Sungguh. Saya tidak pernah bercita-cita membuat blog ini untuk curhat. Tadinya blog ini hanya diperuntukkan bagi buah pikiran saya, semacam ide atau gagasan yang dituturkan secara sistematis, dan&#x26;nbsp; sekiranya masih ada manfaatnya untuk dibaca orang lain. &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Tapi persoalannya, akhir-akhir ini saya sedang melulu sentimentil. Dan orang yang sentimentil cenderung sulit menulis hal-hal yang bermanfaat untuk orang lain, barangkali? Apalagi saya tak hanya sedang sentimentil, saya juga mudah &#x27;piss off&#x27; akhir-akhir ini. duh!boro-boro mau menulis sesuatu yang mencerahkan orang ? &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Padahal saya terlanjur dituding orang-orang sebagai &#x27;penulis&#x27;. Lalu apa jadinya seorang penulis yang tidak pernah menulis? &#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Pertanyaan bodoh! Tentu saja artinya dia bukan penulis lagi. Nah kan, artinya saya mesti berusaha menulis, meskipun itu hanyalah curhat colongan yang sistematis&#x26;nbsp;strukturnya.&#x3C;/P&#x3E; &#x3C;P&#x3E;Anyway, karena saya penulis saya selalu punya&#x26;nbsp;cara untuk mengemas curhat colongan saya supaya tidak norak.&#x26;nbsp;An...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/19/Its_Sharing_Time_</guid>
<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 18:54:18 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>LAMBAN</title>
<description>&#x3C;P&#x3E;&#x3C;IMG class=alignleft src=&#x22;http://images.bukuterbuka.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RhtRogoKCq4AAAvrGoM1/heavy%20books.jpg?et=%2BMIFC8iPYpbvZYEeIMsVFQ&#x22; border=0&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P&#x3E;Resolusiku tahun ini adalah berhenti membeli buku dan lebih banyak membacanya,&#x22; kata wartawan dan penyair Rita Achris suatu kala kepada saya. &#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P&#x3E;Saya terkekeh. Setuju. Pernyataan teman tadi ternyata persis benar dengan apa yang berkecamuk di kepala saya. Sudah sebulan terakhir ini saya puasa membeli buku. Pameran Islamic Book Fair yang baru berlalu sengaja tak saya hampiri, karena ngeri akan kebiasaan belanja buku saya yang bekerja berdasarkan deret ukur. Padahal, kemampuan membaca saya hanya berkembang seiring deret hitung. Hasilnya, di rak buku saya sedikitnya ada 20 buku yang belum saya baca tandas (Percayalah pembaca, jumlah mengerikan ini pun sudah saya korting besar-besaran). &#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P&#x3E;Karena itu, ketika membaca ulasan mengenai buku yang kini sedang menghiasi daftar best seller di Prancis, Comment parler des Livres que l on n a pas lus (Bagaimana bicara tentang buku yang belum pernah Anda baca), saya terkejut. Saya merasa mempunyai teman. Ternyata di benua seberang sana ...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/18/LAMBAN</guid>
<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 09:01:18 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Bingung</title>
<description>&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;Suatu hari seorang teman berkata, ia menyukai novel seorang penulis perempuan, sebut saja bernama R. R adalah salah seorang penulis berlatarbelakang akademis yang kental dengan novel-novel yang kerap menjadi &#x3C;I&#x3E;best seller. &#x3C;/I&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;&#x201C;Kenapa?&#x201D; tanya saya. &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;&#x201C;Iya, saya suka karyanya. Gaya bahasanya memang membingungkan, tapi itulah ciri khasnya,&#x201D; jawab teman tadi lugas. &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;Sekarang, giliran saya yang jadi bingung. Saya baru tahu bahwa &#x2018;membingungkan&#x2019; kini masuk daftar perbendaharaan gaya bahasa kekinian kita. &#x26;nbsp;Yang lebih membikin bingung, gaya itu&#x26;nbsp; bisa dianggap sebagai ciri khas dan malah disukai pembaca. &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;Karena penasaran, saya bertanya pada seorang rekan editor yang pernah beberapa kali mengedit buku dari penulis yang sama. Ketika sebuah buku sudah terbit tentunya ada peranan editor&#x26;nbsp; yang tak bisa dinafikan. Editor bisa dikategorikan pembaca pertama yang pastinya sudah mendeteksi kalau-kalau ada &#x2018;keanehan&#x2019; di dalam sebuah naskah. &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/17/Bingung</guid>
<pubDate>Mon, 5 Mar 2007 08:31:32 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Dalih</title>
<description>

&#x3C;BR&#x3E;&#x3C;IMG class=alignleft src=&#x22;http://images.bukuterbuka.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RhtUiQoKCq4AAC9Mnz41/excuses2.jpg?et=HujJGsXTp%2Bl3M06Lvd97wA&#x22; border=0&#x3E;&#x3C;IMG class=alignright src=&#x22;http://images.bukuterbuka.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RhtUGQoKCq4AADK2wQs1/excuses2.jpg?et=LUGBZ90D829rmM30kzNwyA&#x22; border=0&#x3E;Manusia memang makhluk yang suka berdalih. Tapi ada tiga kelompok yang paling ahli melakukannya: pengacara, pengutang, dan orang yang ingin menulis. &#x3C;BR&#x3E;
&#x3C;P&#x3E;Pengacara dibayar karena kemampuannya berdalih. Pengutang menggunakan kemampuan yang sama untuk menghindari kewajiban membayar. Sepertinya hanya kelompok ketiga yang tak memperoleh apapun dari berdalih, selain tentu saja perasaan gagal dan semakin tidak berdaya. &#x3C;BR&#x3E;
&#x3C;P&#x3E;Begitu banyak orang mengatakan ingin menulis. Begitu banyak pula alasan yang mereka berikan untuk menjawab mengapa belum juga menulis. &#x3C;BR&#x3E;
&#x3C;P&#x3E;&#x201C;Saya mesti menunggu mood kalau mau menulis.&#x201D; (ini dalih paling populer)&#x3C;BR&#x3E;
&#x3C;P&#x3E;&#x201C;Saya terlalu sibuk, tidak punya waktu.&#x201D; (ini dalih khas dunia modern)&#x3C;BR&#x3E;
&#x3C;P&#x3E;&#x201C;Saya tidak punya laptop. Masa&#x2019; sih saya harus mengetik di rental yang panas? Selalu muter lagu Rhoma Irama lagi.&#x201D;(ini dalih generasi melek teknologi)&#x3C;BR&#x3E;
&#x3C;P&#x3E;Hilang mood, writer&#x2019;s block, kurang fasilitas, tak punya waktu hanyalah cara untuk menghindari menulis. Kita sebenarnya tahu bahwa mood seringkal...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/16/Dalih</guid>
<pubDate>Mon, 5 Mar 2007 08:24:02 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>NAMA</title>
<description>&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;Beberapa waktu lalu, saya menerima pesanan novel dari seorang Konsultan SDM dan penulis buku di bidang manajemen kepemimpinan dan kehidupan. Meyakini bahwa sebuah gagasan dapat lebih terserap melalui cerita, ia meminta saya menulis tentang prinsip-prinsip mencapai kebahagiaan dalam bentuk fiksi. &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;&#x201C;Aku ingin novel yang dramatik, menggugah, pokoknya sampai membuat pembaca menangis terharu,&#x201D; katanya.&#x26;nbsp; Saya menerima tawarannya dengan antusias sambil berpikir keras bagaimana menuangkan wacana seperti itu tanpa harus terkesan berkhutbah. &#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT size=3&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/FONT&#x3E;&#x3C;/P&#x3E;
&#x3C;P class=MsoNormal style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt&#x22;&#x3E;&#x3C;FONT face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=3&#x3E;Setelah bergulat beberapa waktu, membongkar pasang cerita dalam kepala, saya kembali menemui dia untuk membicarakannya. Paska diskusi,&#x26;nbsp; ia bertanya, apakah nantinya di novel itu yang tertera nama saya sendiri atau nama kami berdua. Opsi terakhir ini yang ternyata dikehendakinya. &#x201C;Aku tidak mau nasibnya seperti novel pertama kamu yang penjualannya susah,&#x201D; ujarnya santai. Dia meyakini, dengan menggunakan namanya novel itu s...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/15/NAMA</guid>
<pubDate>Mon, 5 Mar 2007 08:12:16 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>The Sea Inside </title>
<description>Lautan Yang Tak Mengering


Judul : The Sea Inside
Sutradara/Skenario : Alejandro Amenabar
Produksi : 20 Century Fox
Durasi : 120 menit

_________________________________________________________________
Hidup itu indah. Benarkah?

Tidak, ini neraka. Demikian jawaban Ramon Sampedra (Javier Bardem) yang menghabiskan 28 tahun hidupnya dengan berbaring. Ia lumpuh total dari leher sampai kaki. Padahal di usia 19, ia sudah keliling dunia dengan pekerjaannya sebagai mekanik kapal. Laut yang memberinya kehidupan, laut pula yang merenggutnya. Ironis. Semua itu bersebab kesalahan sederhana, Ramon terjun ke air yang terlalu dangkal.Kepalanya menghujam dasar. Lehernya patah.

Lewat jendela kamar, Ramon menghabiskan hari demi hari menatapi
gelap-terang mentari sambil menonton televisi, mendengarkan
radio&#x2014;program debat adalah favoritnya&#x2014; atau menulis dengan pena di mulut. Sebelum hari naas itu, Ramon senang mengukir puisi dengan tulisan tangannya yang indah.

Ia selalu tersenyum. &#x22;K...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/reviews/item/11</guid>
<pubDate>Tue, 25 Apr 2006 09:06:38 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>CINTA KERAS KEPALA KING</title>
<description>&#x3C;br&#x3E;

&#x3C;p&#x3E;&#x3C;b&#x3E;Judul: &#x3C;/b&#x3E;Stephen King on Writing&#x3C;br&#x3E;

&#x3C;b&#x3E;Penulis: &#x3C;/b&#x3E;Stephen King&#x3C;br&#x3E;

&#x3C;b&#x3E;Penerjemah: &#x3C;/b&#x3E;Rahmani Astuti&#x3C;br&#x3E;

&#x3C;b&#x3E;Penerbit: &#x3C;/b&#x3E;Qanita&#x3C;br&#x3E;

&#x3C;b&#x3E;Tahun terbit: &#x3C;/b&#x3E;2005, cetakan pertama &#x3C;/p&#x3E;
&#x3C;p&#x3E;__________________________________________________________________________&#x3C;br&#x3E;
Menulis adalah perjuangan yang tak kenal henti, demikian sastrawan Putu
Wijaya berujar suatu kala. Stephen King adalah bukti hidup ungkapan
itu. Puluhan tahun dijalaninya merangkai kata demi kata, menerima
penolakan bertubi, terperangkap alkohol dan obat terlarang, serta
kecelakaan mobil yang mematahkan pinggang dan membuatnya harus memakan
100 pil sehari. Apa pun kondisi yang dialaminya, ia tak pernah berhenti
menulis.&#x3C;br&#x3E;
&#x3C;br&#x3E;
King menyelesaikan Stephen King on Writing (SKOW) sambil melawan rasa
sakit yang dialaminya setelah kecelakaan pada 1999 itu. Tak hanya
sebagai sarana berbagi, ia melakukannya untuk &#x22;kembali hidup&#x22;. Ia masuk
jajaran penulis fiksi bergenre horor dan thriller tersohor sedunia.
King menulis lebih dari 40 buku--30 di antaranya menjadi bes...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/journal/item/13/CINTA_KERAS_KEPALA_KING</guid>
<pubDate>Wed, 12 Apr 2006 05:18:18 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Mereka Bilang Aku Gila : Memoar Seorang Skizofrenik</title>
<description>Diterjemahkan dari The Day The Voices Stopped: A Memoir of Madness and Hope
Penerjemah Rahmani Astuti
Penerbit Qanita. Tebal 436, Bandung 2004

MEMAHAMI &#x27;KEGILAAN &#x27; DARI PERSPEKTIF PENDERITA

Bila suatu hari Anda mendengar suara-suara yang terus menerus menekan  bahwa Anda sungguh tak berarti dan dunia akan lebih baik, jauh lebih baik, jika Anda bunuh diri, apa  yang mungkin Anda lakukan?

Ya.  Anda pasti akan merasa sangat cemas, ketakutan dan tidak berarti. Anda merasa seperti sampah. Persis seperti itulah yang mulai dirasakan Ken Steele di usianya yang amat belia : 14 tahun. 

Tak ada yang tahu bagaimana suara-suara itu mulai menghampirinya. Mereka datang begitu saja, seperti teror yang menyelinap di balik selimut malam. Memerintahkannya untuk mengakhiri hidupnya, bahkan mengajar cara-cara bunuh diri secara terperinci.  Sejak itu, hidup Stelle tak pernah sama lagi. 

Ketika  orangtuanya membawanya ke dokter, vonis yang diperolehnya adalah Skizofrenia. Di era 1960-an pend...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/reviews/item/10</guid>
<pubDate>Mon, 10 Oct 2005 01:41:13 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>24 wajah Billy</title>
<description>Misteri Kekuatan Imaginasi 

Judul Buku : 24 Wajah Billy (diterjemahkan dari The Minds of Billy Milligan)
Penulis 	: Daniel Keyes 
Penerjemah     : Miriasti dan Meda Satrio 
Penerbit 	: Qanita PT Mizan Pustaka , cetakan I Juli 2005
 
William Stanley Michigan atau Billy adalah  sepaket cerita mencengangkan tentang kekuatan imaginasi anak manusia. 

Di usia 23 tahun, Billy mengguncangkan masyarakat Negara Bagian Ohio dengan terungkapnya kasus kriminal  yang tak lazim. Tertangkap sebagai tersangka pemerkosa di sekitar kampus Ohio State University, tim pembelanya  menemukan fakta mengejutkan: Billy adalah sosok berkepribadian majemuk. Ia tak memiliki kontrol atas perbuatan &#x2018;orang-orang&#x2019; di dalam dirinya. Terungkap kemudian bahwa Billy memiliki 24 kepribadian. Satu adalah Billy yang asli dan terfusi, 22 diri lain adalah alter ego dengan karakter dan bakat sendiri-sendiri, dan satu pribadi adalah Sang Guru yaitu wujud ke-23 alter ego ini apabila terfusi. Sang Guru menempatkan diri s...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/reviews/item/8</guid>
<pubDate>Fri, 30 Sep 2005 09:14:26 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Anti Marketing </title>
<description>MARKETING NGAWUR ALA KAFI KURNIA

Judul 	: Anti Marketing 
Penulis 	: Kafi Kurnia
Penerbit 	: AKOER bekerja sama dengan Gatra Pustaka,  
                          (Cetakan I, Oktober 2004; Cetakan II November 2004; 
                          Cetakan III : Juli 2005)

_____________________________________________________________________
Konon, ketika NASA memulai program ruang angkasanya, mereka menemukan bahwa pena tak bisa digunakan dalam situasi gravitas nol. Setelah 10 tahun riset dengan menghabiskan jutaan dolar, ilmuwan Nasa menemukan pena yang bisa digunakan untuk menulis dalam gravitasi nol. Pena ajaib ini bisa dipakai di temperatur beku, hingga 300 derajat celcius. Adapun Rusia, ketika mengalami masalah sama, tak menempuh jalan mahal dan njilimet seperti Amerika. Mereka cukup memakai pensil. Masalah beres!

Anekdot di atas dikutip Kafi Kurnia dalam bukunya, Anti Marketing yang kini memasuki cetakan ke-3. Menurutnya itu merupakan cerita terbaik untuk memberikan ilustr...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/reviews/item/7</guid>
<pubDate>Fri, 26 Aug 2005 09:36:35 -0000</pubDate>
</item>

<item>
<title>Life is Beautiful, Sebuah Jendela untuk Melihat Dunia</title>
<description>JENDELA BARU MEMANDANG DUNIA

Judul buku   : Life is Beautiful, Sebuah Jendela untuk Melihat Dunia 
Penulis        : Arvan Pradiansyah
Penerbit      : Elex Media Komputindo, April 2004

____________________________________________________________________

	Suatu hari seorang pria menemukan sebuah bingkisan besar di depan rumahnya. Tertulis jelas nama si pengirim, tetangga si pria tersebut. Dengan riang si pria membuka bingkisan tersebut. Tak disangka-sangka, isinya adalah setumpuk kotoran sapi!
	Seandainya Anda menjadi pria tersebut kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Mungkin ada yang akan menjawab : mendatangi rumah tetangga Anda sambil mencaci maki, mengirim balik bingkisan &#x2018;istimewa&#x2019; tersebut plus surat sakit hati, melaporkan ke ketua RT bahwa tetangga Anda sudah melakukan tindakan mengganggu kenyamanan orang lain dan lain sebagainya yang bisa memuaskan kemarahan Anda. 
	Namun apa yang pria dalam cerita di atas lakukan? Ia ternyata merasa sangat senang dengan kiriman kot...</description>
<guid isPermaLink="true">http://bukuterbuka.multiply.com/reviews/item/6</guid>
<pubDate>Fri, 26 Aug 2005 04:41:34 -0000</pubDate>
</item>

</channel>
</rss>